Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Masa pandemi ini sungguh merupakan masa yang sulit. Semuanya terdampak. Walau masih ada beberapa toko atau warung yang masih membuka gerainya, tak berarti mereka baik-baik saja. Begitu juga dengan para perajin yang mengandalkan pariwisata. Sejak Covid-19 ini mulai melanda, semua dibuatnya tiarap. Bahkan bisa dibilang mati, tak bisa lagi bertransaksi.
Beberapa hari ini saya mencoba meluangkan waktu sedikit untuk berkeliling. Banyak sekali teman yang terdampak. Dan pada akhirnya mereka menganggur. Tapi mereka tak patah semangat. Mereka memilih untuk beralih profesi saja untuk menyambung hidup daripada mati perlahan karena tidak makan.
Ketika saya melintas di Jalan Malboro Barat tepatnya di perbatasan Denpasar-Badung, perhatian saya tersita oleh hal yang tak biasa. Pria tinggi berambut panjang dengan pakaian yang keren dan rapi berdiri disebelah sepeda motor dengan keranjang nasi jinggo. Saya pikir dia adalah pejabat yang mau beli nasi jinggo. Ternyata saya salah. Memang dialah penjualnya. Wah keren! Penjual nasi jinggo dengan pakaian ala Paspampres? Kreatif! Berjualan nasi jinggo sih biasa-biasa saja. Yang jadi tidak biasa ya penjualnya ini. Unik dan keren menurut saya.
Penjual satu ini berani tampil beda. Berjualan dengan menggunakan jas hitam, celana kain hitam, kemeja putih lengkap dengan dasi kantor, sepatu pantopel serta tak lupa kacamata hitam dan sebuah name tag yang tergantung disaku kiri jasnya. Tak lupa juga ia menggunakan masker dan face shield (alat pelindung wajah) saat berjualan karena tengah dalam situasi pandemi. Penampilannya yang nyentrik mirip Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tak ayal menarik perhatian pembeli maupun orang yang lewat. Tak jarang juga saat berbelanja, pembeli mengambil fotonya atau selfie dengannya. Waahh udah kayak paspampres beneran aja nih. Atau jangan-jangan memang paspampres beneran yang lagi nyamar. Hahahaha.
Penjual ala pejabat tinggi ini namanya Sufyan Miftahol Arifin Nur. Sebelumnya Mas Sufyan adalah seorang perajin resin. Itu loo orang yang buat kerajinan dari bahan-bahan sejenis fiber yang dikreasikan jadi aksesoris seperti gelang, cincin, anting sovenir dll. Tapi karena dilanda pandemi covid-19, usahanya ya terdampak juga. Bisa dikatakan bangkrutlah. Tidak ada yang order dan akhirnya dia putar otak untuk jualan nasi jinggo.
Dulunya Mas Sufyan itu punya pelanggan dari Australia. Karena sekarang semua serba dibatasi dan penerbangan juga sangat ketat. Mau tidak mau usahanya juga tutup. Saat ditanya Mas Sufyan sudah jualan seperti ini sejak 15 hari sebelum bulan puasa. Lama juga ya. Semoga berkah ya mas.
Ketika saya tanya kenapa nasi jinggo sih? Kan sudah banyak yang jual. Si Mas bilang gak masalah. Meskipun banyak yang jual, nasi jinggo itu banyak dicari. Yah namanya juga usaha sih ya. Sah-sah aja, mau jualan apapun. Rejeki sudah diatur Tuhan. Ya kan Mas Suf? Hehehe. Setau saya orang jualan nasi jinggo biasanya sih dari sore sampe malam. Bahkan ada yang sampai subuh. Tapi beda lagi dengan Mas Sufyan. Dia jualan dari pagi jam 8 sampai jam 5 sore. Sisanya bantu istri di rumah jualan jajanan yang lain. Memang banyak bedanya si Mas ini.
Sebelum memutuskan untuk membei sebotol jamu kunyit asem dari si Mas ini, iseng saya bertanya, kok jualan mesti pakai jas sih? Sambil cengengesan Mas Sufyan jawab “Biar beda aja Mbak sama yang lain, hehehe”. Saya cuma bisa ketawa aja dengernya. Bukan ketawan merendahkan, tapi saya salut. Saat seperti ini ada-ada saja ide yang muncul untuk memuluskan usaha. Tak lama kemudian ketika obrolan mengalir, si Mas nyeletuk, “Keren lo Mbak koyo ngene. Beda, keren, bersih. Apik. Masak jualan makanan gak boleh rapi. Memangnya pejabat aja yang boleh pakai jas. Saya juga boleh dong.” Mendengar kata Mas Sufyan saya tertawa lagi sambil gumam dalam hati. Ia juga sih, kan hak semua orang mau pakai apa. Emang ada larangannya? Gak kan. (Ini menggumam dalam hati ya. Ingat dalam hati. Gak kedengeran kayak sinetron Ind****r heheheh, Maaf).
Alasan lain selain tampil beda, juga menarik perhatian pembeli. Siapa tau kalau ada pejabat yang lewat, lihat Mas Sufyan dikira pejabat beneran yang merakyat, makan nasi jinggo dipinggir jalan, ada pejabat beneran yang menepi dan membeli nasi jinggonya.
Mas Sufyan yang tinggal di kawasan Monang-maning, Denpasar Barat ini mengawali perjalanannya dari Gunung Lebah Monang-maning, Bhuana Raya, Bhuana Kubu, Gunung Agung, Jalan Cargo dan terakhir di Jalan Malboro Denpasar.
Keunikannya tidak hanya pada pakaiannya saja, tapi jika dilihat pada keranjang dagangannya terdapat kata mutiara berbahasa Jawa yang bunyinya Polah Sak Jeroning Pasrah. Artinya, pasrah tapi tidak menyerah dengan keadaan. Harus selalu bergerak untuk bertahan. [T]
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...