Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Apakah Sang Suratma membaca karya sastra Bali modern? Jika Ia membacanya, karya siapakah yang sedang dibaca-Nya saat ini?
Saya membayangkan akan sangat seru jika saya bisa memergoki Sang Suratma tengah membaca cerpen Katemu ring Tampaksiring karya Made Sanggra. Ia duduk di atas sebuah kursi lengkap dengan meja di depannya. Tangan kanan-Nya memegang pena sambil mencatat segala perbuatan manusia di dunia, sementara tangan kiri-Nya memegang buku Katemu ring Tampak Siring. Dengan suntuk Ia melakukan kedua kegiatan tersebut secara bersamaan. Seperti tak terpengaruh antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Membaca iya, mencatat pun juga berjalan sebagaimana mestinya.
Dan tiba-tiba di akhir cerita, Ia terkesiap setelah tahu jika Ni Luh Rai dan Van Steffen ternyata saudara kandung, padahal mereka berdua saling mencintai. Saking terkesiapnya, pena di tangan kanannya hampir saja melompat dan jatuh ke lantai. Untung saja dengan sigap pena itu ditangkapnya dan Sang Suratma kembali mencatat di atas lembaran kertas atau sejenisnya yang entah kapan akan diselesaikan-Nya.
Atau mungkin saja, saat ini Sang Suratma tengah membaca puisi karya Suntari Pr yang berjudul Basa Bali. Dengan kemampuan deklamasi yang baik, Ia memulai membaca setiap kata-kata dalam puisi itu.
“Tan uning titiang ring karanan ipun, suksman titiange kategul antuk benang sutra, ngranjing manyusup tulang ngantos ka sumsum, sane dados bagian awak titiange…” mungkin begitu Ia membacanya sambil sesekali mengangkat tangan kirinya, atau tangannya menepuk dadanya saat Ia mengucapkan kata ‘titiange’ sebagaimana yang dilakukan orang-orang di bumi ketika membaca puisi.
Kadang juga, saat membaca puisi Ia memainkan mata-Nya, atau sedikit menggeser posisi kaki-Nya. Jika misalnya Ia sedang membaca puisi itu, apakah Ia pernah mendengar jika saat ini puisi itu dianggap sebagai tonggak lahirnya puisi modern berbahasa Bali. Atau jangan-jangan Sang Suratma sudah pernah mendengarnya dan kini Ia tengah tersenyum karena ternyata ada puisi modern berbahasa Bali yang ditulis lebih dulu tapi belum ada yang menemukannya?
Lalu bagaimana jika Ia tidak sedang membaca cerpen atau puisi, melainkan membaca novel. Sebelum memulai membaca isi novel itu, Sang Suratma terlebih dahulu melihat gambar sampulnya: seorang lelaki bertubuh atletis berpakaian ala kerajaan membawa sebilah keris, sementara di belakangnya ada gajah yang tersangkut di batang pohon. “Ki Baru Gajah,” kata-Nya membaca judul novel itu sambil manggut-manggut dan kemudian mulai membuka halaman pertama.
Mungkin perlu waktu dua hari untuk menghabiskan novel itu. Setelah membacanya mungkin juga Ia akan berseloroh: pengarangnya jadi Perbekel toh sekarang.
Tak hanya membaca, bagaimana seandainya pada suatu siang yang cukup terik dengan lalulalang kendaraan yang tak putus-putus Sang Suratma mengendap-endap datang ke toko buku menyamar sebagai seorang manusia. Mungkin saat itu Ia sedang cuti, atau memang mendapat giliran libur dan memutuskan untuk mengisi liburan atau cuti-Nya dengan mendatangi toko buku.
Di toko buku tak ada yang curiga dan tak ada yang menyadari jika Ia adalah Sang Suratma. Penjaga toko buku menghampirinya: nyari buku apa Pak? Sang Suratma yang telah menyamar menjadi manusia menjawab: saya lihat-lihat dulu, dan ditimpali dengan si penjaga toko buku: oh, silakan Pak.
Di toko buku Ia langsung menuju ke rak buku yang memajang koleksi buku-buku sastra Bali modern. Dilihatnya buku itu masih menumpuk setinggi rak bukunya. Seperti tak ada yang pernah menyentuh. Bahkan terlihat seperti tak terurus karena diselimuti debu yang cukup tebal. Melihat itu, Sang Suratma mungkin akan berpikir: ternyata orang Bali tak suka beli buku sastra Bali modern ya, pantas saja pengarangnya sering curhat di facebook.
Ditarik-Nya satu buku dan Ia mulai membacanya. Kasihan dengan pengarangnya karena bukunya tak laku, Ia membeli masing-masing tiga buah buku itu dan dibawanya ke kasir. Beberapa harinya, pengarangnya mendapat kabar jika bukunya laku tiga. Lumayan walaupun dengan potongan yang cukup banyak, namun ia bisa datang ke penjual cilok dan mentraktir dirinya sendiri dengan sebungkus cilok dari uang penjualan bukunya.
Atau jangan-jangan saat istirahat siang, Sang Suratma sering berselancar di internet membuka blog www.suarasakingbali.com. Dibacanya satu persatu tulisan yang ada di dalamnya. Ketika membaca bisa saja Ia geleng-geleng kepala saat melihat viewer-nya yang tak lebih dari 200 yang kemudian dilanjutkan dengan mengelus dada: kasihan penulisnya, capek-capek nulis, tak dapat uang, tak ada yang baca pula. Mending penulisnya ganti profesi jadi penjual skripsi sajalah, kan sama-sama nulis.
Setelah membayangkan beberapa aktivitas yang dilakukan Sang Suratma yang berkaitan dengan sastra Bali modern, tiba-tiba saya ingin mengajukan satu pertanyaan: Apakah Sang Suratma mau mendanai penulis sastra Bali modern untuk menerbitkan buku? [T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....