Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
Datanglah ke warung makan Men Brayut, Denpasar pukul 10.00 wita. Masuklah. Cari lelaki tambun, baju kaos, celana pendek, dengan rambut klimis disisir rapi. Ia biasa nyempil di sudut utara ruang menghadap selatan, mengetik depan komputer, dengan wajah dingin seolah tak boleh ada mengganggu. Maka bisa dipastikan ialah Jong.
Di Canasta Creative Space, cermati lelaki yang kerap lalu lalang tergesa. Sesekali ia jalan sumbringah sembari menembang kidung Bali, kadang nyelonong lesu begitu saja seperti angin. Atau saat pentas Teater Kalangan, ada aktor dengan warna vokal nyaring, bicaranya tertata, sekali waktu meletup seperti gelak penari bondres membuat gerr para penonton, maka tak usah diragukan lagi, aktor itu tak lain tak bukan adalah Jong.
Jong Santiasa Putra. Bila dikorek muasalnya, ia anak Bali tulen dari keluarga menak (berkasta). Namun suka sekali ia tempatkan dirinya pada dua sisi realitas yang saling bertolak belakang. Di Bali, pada lingkungan masa kecilnya tentu kental akan adat tradisi, sor singgih, dan segala tetek bengek perihal tata titi ala puri. Beda dengan Surabaya, tempat ia mengenyam kuliah kemudian. Keras, kasar, macet, dan panas.
Di Bali pada masa remaja, ia aktif dalam kegiatan sastra dan teater, di Surabaya Universitas Airlangga ia sibuk bergelut dengan masa lalu, dalam kerja-kerja antropologi forensik yang lebih banyak mengidentifikasi profil biologis dan kerangka manusia. Maka dapat dibayangkan bagaimana sulit ia mengoreksi tubuh sehari-harinya. Dari Bali pindah ke Surabaya, lalu balik lagi ke Bali. Mengoreksi tubuh sastra dan teaternya menjadi tubuh antropolog, kemudian kembali pada tubuh sastra dan teater.
Sebab Jong bukan tipe orang yang manut-manut saja di suatu tempat. Saya mengenalnya pertama kali pada tahun 2007 di Teater Angin SMA N 1 Denpasar. Saya kelas 1, ia kelas 2. Sebagai senior, ia adalah salah satu yang paling ‘nyeniman’ kala itu. Tubuhnya selalu gelisah. Pada setiap pertemuan, selalu dibawakannya kami cerita, mulai dari pentas yang ditonton, sosok yang ditemui lengkap dengan kutipan, hingga kata-kata puitis yang diucapkan berkali-kali.
Berkali-kali ia datang membawa cerita, berkali-kali pula kami dibuat gelisah. Ada jarak lebar antara kami yang baru mengenal sastra dan teater dengan Jong yang berproses sejak di Teater Lingkar SMP N 2 Denpasar. Apalagi dengan segala kegiatannya di Komunitas Sahaja yang kala itu sedang giat menggembleng anak muda menulis sastra. Oleh karena itu, Jong bukanlah nama yang baru nyempil dalam lingkungan sastra dan teater di Bali. Di bawah ini saya kutipkan puisi berjudul ‘Penyair, Halaman Belakang’ yang ditulisnya tahun 2008, masa-masa awal ia menulis puisi.
Beginilah rasanya jadi penyair
saat kata-kata menjemukan
saat kata-kata tak memberi makna
andai kata bisa memilih
aku akan bersembunyi
dilubang cacing paling dalam
bertapa, menikmati kesendirian
Selain puisi, Jong juga menulis esai, cerpen, dan naskah drama. Di belakang panggung, ia jadi sutradara, pimpinan produksi.dan manajer program, sedang di panggung ia adalah aktor. Pada bidang musik, ia kerap diminta pertimbangan oleh kawan-kawan musisi sepantarannya dalam mengolah materi musik yang dimiliki. Sedang pada bidang rupa, diam-diam Jong suka membuat seni kolase. Kolase pada buku inipun ia garap sendiri di waktu senggang, yang biasa ia pajang sebagai pemanis warung tempat kerjanya.
Karena banyaknya kerja yang dilakukan Jong, dalam pergaulan sekitar kami ada istilah, ‘Jong lagi, Jong lagi’ atau ‘Lagi-lagi Jong’ atau ‘Happy dulu Jong’. Usai kegiatan ia biasa menghilang tanpa jejak. Kalau tak hilang, ya mengurung diri di Canasta kamar kerjanya. Setengah telanjang, mengaduh keenakan dipijit oleh siapapun yang bersedia memijatnya. Berselang tiga hari, jika ada dering HP berkali-kali memanggil, bisa dipastikan itu ‘Jong lagi, Jong lagi’. Sebab hanya Jonglah yang rajin menata jadwal kegiatan. Salah seorang kawan bernama Pepi sampai menulis kontak whatsapp Jong dengan nama, ‘Astaga Jong’. Karena apabila Jong menelponnya, pastilah itu soal pekerjaan.
Ketegangan semacam ini tertaut pula pada kesehariannya bekerja. Tubuh Jong seakan tak henti mencari mana ruang, mana situasi, mana kondisi paling nyaman dan pas atas dirinya. Pernah ia jadi wartawan di salah satu koran ternama di Bali. Keseharian menulis berita, rute yang itu-itu saja, membuatnya banting stir jadi pedagang nasi betutu. Ketika nasi betutunya mulai ramai, eh malah ditutup, lalu jadi manajer kreatif di Men Brayut. Alasannya, lagi-lagi soal kerja yang monoton.
Rumah makan yang vakum tersebut ia rombak sedemikian rupa, hingga jadi ramai seperti sekarang, plus dengan nasi betutu racikannya yang kini nyempil di daftar menu. Ia menang banyak. Betutu jalan, kerjaan lancar, dan yang paling penting, punya waktu luang untuk jadi seniman, katanya. Maka simak bagaimana ia meluangkan rutinias seharinya ke pasar badung membeli bahan betutu lewat puisi ‘Pasar Badung Sore itu’.
Penjagal daging berkulit merah
siaga mengayunkan belati
pada siapa yang berpasrah
sebab penuh kerja sore ini
Demikianlah Jong menata rutinitas hari-harinya. Begitu gelisah. Begitu tegang. Begitu sembrawut. Hal ini menjadi penting untuk dicermati dalam rangka membaca puisi Jong. yang justru berkebalikan dengan apa yang dikerjakan biasanya. Jika di panggung, Jong sangat eksploratif, di belakang panggung idenya menggebrak, di tatkala.co tulisannya begitu kritis, namun pada puisi ia begitu sunyi dan penyendiri. Dalam konteks ini, kumpulan puisinya dapat dimasuki lewat jalur depan ataupun jalur belakang. Lewat pandangan Jong sebagai penulis atau pandangan Jong sebagai seorang kawan.
Lewat pandangan sebagai penulis, tema-tema pada puisi Jong lebih banyak mengangkat tentang tempat-tempat yang ia singgahi, seperti puisi ‘Tersesat Denpasar’, ‘Mola Mola di salah satu pemberhentian’, ‘Bayang di Kelir, Menuju Singaraja’ dan ‘Perjalanan Satu Menuju Rompyok Kopi Jembrana’. Kita seolah diajak menyelami perjalanan seorang antropolog menyusuri jalan satu ke jalan lainnya. Bedanya, jika antropolog merekam lewat catatan perjalanan, Jong justru mengantonginya jadi puisi. Meminjam laku petani, sampai penjaga villa. Meraciknya dalam diri kemudian dibentangkan jadi puisi. Sebagaimana puisi ‘Seandainya Kata-kata Pecah di Keningmu’, yang sekaligus menjadi judul buku kumpulan puisi ini.
Lihatlah di sana kawan,
tiga botol bir mengapung di permukaan
dua botol adalah doa petani garam
meminta kemarau lebih panjang
sebab jika panen gagal kali ini
ia hanya bertaruh pada ibu kota
atau mencoba nasib baik
menjadi penjaga villa
Sementara sebagai seorang kawan, membaca puisi Jong adalah membaca ruang pribadi yang jarang ditunjukan ke hadap publik. Jika dicari lebih dalam lagi, ternyata tak satupun ada nama Canasta, Men Brayut, atau tempat semacamnya yang biasa ia datangi untuk menggelar pertunjukan. Jong seakan memberi jarak pada kerja panggung dan puisinya. Ia menjelma sebagai pribadi lain yang hanya dengan membaca puisinyalah kami bisa menemuinya. Seolah pada puisilah, tempatnya menundukan kepala, istirahat sejenak akan segala macam kerja yang melindas tubuhnya. Apakah ini yang dinamakan puisi sebagai ruang sunyi penyairnya? Yang tak ada satupun orang bisa memasuki?
Puisi-puisi Jong dalam buku ini ditulis pada rentang tahun 2008 sampai 2019, dari semasa Jong SMA sampai sekarang. Sayang, puisi-puisi yang ia tulis semasa SMP tak dapat ditemukan jejaknya. Namun, hal ini tentu tak mengurangi nilai pembaca untuk menikmati proses tumbuh dirinya dalam meracik puisi. Dalam jarak 11 tahun ini, kita dapat melihat usaha Jong menerjemahkan sejarah tubuhnya sendiri ke dalam tubuh puisi. Bagaimana tubuh ulang alik Bali-Surabaya, seniman-pedagang, sastra-antro saling tarik menarik sekaligus baur membaur jadi satu.
Tubuh Jong adalah satu dari sekian banyak tubuh pemuda Bali yang tengah berusaha merancang nasibnya sendiri, atas ketegangan anasir-anasir luar yang senantiasa melintasinya. Manakah sesungguhnya yang paling autentik dalam sejarah tubuh kita ini? Terkalah! Via kata paling jujur bernama puisi.
Petualang datang selalu sangsi
memilih nasib tangan
atau menyendiri jadi jalan puisi.
Selamat, Jong! Happy dulu, Jong!
Denpasar, 2019
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...