Jika kita bicara keadaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di masa pandemi Covid -19 ini, pasti semua sudah tahu dan melihat, betapa gusarnya pikiran PMI ini. Pertama, karena pemberitaan miring serta perlakuan negatif yang kerap menimpa mereka. Kedua adalah keuangan para PMI yang anjlok karena diputus kontrak sebelum habis masa kontrak, dan dirumahkan. Apalagi ditambah ketidakpastian kapan akan berangkat lagi. Sebuah situasi yang sangat sulit bagi para PMI.
Hal itu juga dirasakan oleh sahabat-sahabat di desa saya. Sekadar informasi, di desa saya Desa Adat Kubu, Bangli, kami memiliki kurang lebih 100 orang PMI. Dan sebagian besar sudah di rumah dan dirumahkan oleh pihak perusahaan. Apa yang saya paparkan di awal, ya terjadi juga pada saya dan PMI di desa saya. Banyak yang bercerita kehabisan uang. Ada juga secercah harapan yakni dapat kompensasi berupa uang dari perusahaan. Meskipun berbeda besaran yang didapat karena disesuaikan dengan lamanya kontrak. Ada juga yang merana karena sampai detik ini belum dapat kompensasi tersebut. Banyak lagi kisah-kisah pahit di masa pandemi ini.
Tapi, tentu kita terlalu naif jadi manusia jika hanya melihat dari sisi negatifnya saja. Kita harus bisa mengambil sisi positifnya. Bahwa ada hikmah dibalik pandemi covid-19 ini. Apa itu? Hikmahnya adalah sebagian besar PMI di desa saya sedang berada di rumah, dan kami memutuskan untuk membuat suatu perkumpulan yang dinamakan Paguyuban Sameton PMI Kubu-Bangli.
Berawal dari rembug-rembug biasa antara I Nengah Sutarta Adi Putra yang sering dipanggil Nengah Godogan dengan Putu Arya Budiastika dimana mereka mencetuskan ide untuk membentuk satu wadah berkumpulnya para PMI di Desa Adat Kubu yang notabene bertetangga dengan Desa Wisata Penglipuran. Akhirnya Ide itu dilempar ke dalam forum yang lebih besar, sebut saja Hendra Santosa, Wahyu Adi Sena, Gede Suwidnyana, Putu Andi, Alit Joule, Komang Adi Suka Arsa, Kharisma Putra dan teman-teman yang lain yang memang mensupport penuh segala kegiatan yang tentunya bersifat positif dengan dua penasehat yakni I Nengah Satwika (Kekog) dan I Nengah Suastika.
Akan saya ceritakan sedikit sejarah singkat tentang pembentukan perkumpulan ini. Sejatinya sejak tahun 1994 sudah ada satu orang yang mengawali menjadi PMI. Ini merupakan cikal bakal dari PMI di desa saya. Tahun 2000 mulai semakin banyak pemuda yang berangkat ke kapal pesiar. Dan sampai hari ini, di tahun 2020 jumlah PMI di desa saya Jumlahnya lebih dari 100 orang. Ini menyiratkan bahwa selalu ada perubahan di setiap jaman terutama dari segi lapangan pekerjaan. Yang dulunya kebanyakan pemuda berkutat dengan kerajinan, hingga akhirnya banyak yang melamar jadi pegawai. Saat ini bekerja di kapal pesiar adalah salah satu pekerjaan yang digandrungi oleh para pemuda di desa saya. Dan tidak menutup kemungkinan, jumlahnya akan bertambah banyak seiring perjalanan waktu. Tentu saja menunggu dunia sembuh dari covid-19.
Dari tahun 1994 sampai sekarang 2020, belum pernah teman-teman membentuk yang namanya wadah atau perkumpulan yang bisa mengkordinir para PMI ini. Mereka berjalan sendiri-sendiri. Benar-benar tidak ada komunikasi dan kordinasi. Maka dari itulah panglingsir PMI mencetuskan ide untuk membuat satu wadah yang menaungi seluruh PMI di Desa Adat Kubu, Bangli. Mumpung sebagian besar dari PMI sudah berada di rumah. Akhirnya semua sepakat. Paguyubanpun dibentuk.
Paguyuban Sameton PMI Desa Adat Kubu, Bangli menyerahkan bantuan sosial kepada warga kurang mampu yang terdampak Covid-19
Dan program pertama yang dilakukan adalah pengumpulan donasi yang sedianya nanti akan digunakan untuk membeli sembako dan dibagikan kepada warga yang layak diberi bantuan. Beberapa persen akan disumbangkan kepada satgas penanggulangan covid-19 di desa. Entah dalam bentuk apa nanti diputuskan bersama-sama.
Dan tepatnya Minggu, 7 Juni 2020 kami berkumpul di sekretariat paguyuban (Warung Aplenk) dan melaksanakan kegiatan bansos berupa pembagian sembako dengan jumlah penerima sebanyak 67 KK. Kami membagi diri menjadi 4 kelompok dan menyerahkannya langsung ke penerima. Sebelumnya juga kami telah melaksanakan program kerja yang lain yakni memberikan support baik berupa dana duka maupun motivasi kepada anggota paguyuban dan sanak family yang sedang dalam keadaan berduka (meninggal dunia) agar tidak larut dalam kesedihan.
Perkumpulan ini tentunya tidak berhenti sampai di penyerahan bansos saja. Nantinya perkumpulan yang sudah diketahui oleh Bendesa Adat, Kepala Lingkungan dan pihak kelurahan ini, segala kegiatan akan bersinergi dengan desa adat dan dinas. Apa yang mungkin nanti bisa dibantu oleh para PMI. Sehingga PMI bisa bermanfaat untuk desa. Karena PMI sangat sulit untuk selalu dekat dengan masyarakat sebab mereka harus bekerja jauh dari rumah dalam waktu yang sangat lama. Dengan adanya wadah ini akan mampu ikut serta dalam kegiatan sosial dan pembangunan di masyarakat. Karena PMI juga adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.
Perkumpulan ini selain membuat program jangka pendek, juga akan membuat program jangka menengah dan jangka panjang. Mudah-mudah atas restu Tuhan, ijin dari pimpinan desa dan dinas, serta kekompakan teman-teman PMI, akan bisa nantinya membuat sesuatu dalam bidang ekonomi kreatif yang akan sangat bermanfaat bagi PMI. Karena sekali lagi saya katakan, bahwa PMI tidak akan selamanya bekerja di kapal pesiar. Jadi perkumpulan inilah kelak menjadi solusi untuk bertukar pikiran tentang segala hal terutama bagaimana membangun sebuah usaha. Dan semoga bisa menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan sehingga mampu membuat roda perekonomian tetap berjalan ketika benar-benar berhenti bekerja sebagai PMI. Semoga [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...