Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Desa Kalianget di Buleleng, Bali, bukan hanya cerita tentang Jayaprana dan Layonsari, bahwa Kalianget juga memiliki cerita tentang I Segnol dan I Dangin, seniman mumpuni yang tercatat dalam diary seorang W.O.J Nieuwenkamp sekiranya pada tahun 1906-1937.
Informasi ini saya dapatkan dari seorang sahabat, fotografer yang suka ngulik-ngulik dokumen-dokumen lawas, Bli Nengah Januarta. Ia menanyakan saya apakah pernah mendengar nama I Segnol dan I Dangin dari Desa Kalianget, Buleleng?. Tentu saja saya jawab tidak, ya karena memang tidak pernah mendengar, padahal baru beberapa waktu lalu saya dan kawan-kawan sempat mengunjungi Pura Desa Kalianget yang diantarkan oleh Bli Ame Yasa, seorang penyuluh Bahasa Bali yang juga dari Desa Kalianget.
Dalam catatan Nieuwenkamp, dituliskan bahwa waktu itu ia sedang berada di Desa Bubunan, mencari sebuah pemandian, mungkin saja pemandian dengan ukiran yang bagus, akan tetapi ia tidak menemukannya dan mulai berfikir bahwa ia telah salah tempat. Kemudian ia menanyakan kepada penduduk asli di sekitar Bubunan yang bekerja di sawah dan ia mendapatkan informasi bahwa pemandian itu telah hancur karena gempa bumi, dan para penduduk telah membersihkan puing-puingnya.
Kemudian dia mendeskripsikan bahwa banyak pura/tempat ibadah di daerah ini (Bubunan) telah hancur total dan sampai pada ceritanya tentang Desa Kalianget, tempat Nieuwenkamp pernah hidup bersama I Segnol, dalam terjemahan bahasa Indonesianya dikatakan bahwa I Segnol adalah salah satu pematung paling cantik dari seluruh dunia. Ya sangat berasalan, Nieuwenkamp sendiri saya rasa sangat selektif dengan pemilihan seniman-seniman yang pernah dijadikan teman maupun gurunya.
Dalam buku yang ditulis Bruce W. Carpenter dengan judul Nieuwenkamp The First European Artist in Bali, bahwa di tahun 1917 sebelum meninggalkan Bali ia menyatakan bahwa “...instead Balinese artists now often work for an increasing stream of tourists. Tourists, unfortunately, are not defenders of the arts.” Kemudian dia menjual peralatan kamera kepada Lok Kon San yang memiliki toko fotografi di Denpasar dan juga memesan sebuah lukisan tradisi kepada I Wayan Dasta dari Singaraja.
Kekecewaan Nieuwenkamp karena kehadiran para turis justru akan merusak perkembangan alamiah dari seniman Bali, sebagaimana dalam tulisan Carpenter di buku yang sama pada hal.40 bahwa “unlike those who would came after him he sought to learn from the Balinese Artist and artisans, not teach them.” Nieuwenkamp ke Bali mengunjungi kotaraja-kotaraja maupun desa-desa justru untuk berjumpa dan belajar langsung dengan seniman maupun pembantu seniman, tidak seperti ekspatriat sesudahnya yang justru berbalik mengajari para seniman Bali. Dari pernyataan itu maka dapat disimpulkan bahwa Nieuwenkamp tidak sembarangan dalam memilih guru untuk belajar seni di Bali, sebagaimana di Banyuning ia pernah belajar dengan Jero Dalang Banyuning, kemudian dengan I Ketut Gede Singaraja yang sudah tua sekaligus belajar dengan anak dari I Ketut Gede Singaraja, dan di Desa Kalianget dengan I Segnol dan I Dangin.

Di dalam perjumpaan pertamanya dengan I Segnol, Nieuwenkamp menceretakan bahwa I Segnol tidak dapat menunjukan banyak karya-karyanya, di rumahnya ia sedang mengerjakan sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah rumah dengan merajan/sanggah, pada latar depannya ia menempatkan jejeran pot bungan dan pohon besar pada latar belakang, konon ini menjadi sebuah layar untuk sebuah perusahaan teater, di Singaraja. Di rumahnya juga I Segnol ada beberapa ukiran yang bagus, sebagian besar adalah ukiran burung seperti merpati, gagak.
Kemudian pada kunjungannya kedua ke Bali dan menyempatkan diri untuk bertemu I Segnol, Nieuwenkamp menyatakan bahwa keadaan I Segnol tidak kunjung membaik, istrinya baru saja melahirkan anak kembar tiga sekaligus buncing (seorang laki-laki dan dua perempuan) pada waktu itu sangat memalukan menerima kenyataan bahwa melahirkan anak kembar buncing dianggap tidak baik. Kondisi I Segnol sangat tidak bagus, kehilangan nafsu untuk bekerja.
Dalam kunjungan terakhirnya, Nieuwenkamp yang tinggal di Bubunan kembali ke Kalianget untuk melihat I Segnol, namun sayang ternyata ia telah meninggal. Menurut penuturan muridnya I Segnol yang bernama I Dangin bahwa kematian I Segnol tidak lain karena efek tidak langsung gempa bumi, karena sebelum gempa bumi I Segnol baru saja sembuh dari sakit yang lama dideritanya, kemudian sibuk dengan pekerjaannya, dengan kehancuran mendadak dari begitu banyaknya pura/tempat ibadah di Kalianget, ia harus menghabiskan sisa hidupanya dengan sebuah pengabdian yaitu memperbaiki banyak pura yang telah hancur.
I Dangin menurut Nieuwenkamp adalah seorang pematung, mungkin juga undagi penerus I Segnol karena waktu pertemuan itu, I Dangin membawa Nieuwenkamp ke sebuah Pura Subak yang sedang di bangun, didirikan untuk mengganti pura sebelumnya yang hancur akibat gempa, I Dangin dikatakan sebagi orang yang merancang pura itu, dan waktu itu sedang fokus pada penggarapan gerbang pura.

Setelah saya menerima informasi dan membaca link yang dibagikan oleh Bli Nengah Januarta, sesegera mungkin saya menghubungi Bli Ame Yasa di Kalianget, mengkonfirmasi, seandainya pernah mendengan dua nama ini, atau kemungkinan kecilnya sempat diceritakan oleh tetua desa. Namun, konon tidak ada yang mengetahui tentang dua nama ini di Kalianget, saya berharap masih ada yang menyimpan memori dari dua tokoh Desa Kalianget, jika tidak dalam ingatan orang-orang mungkin di bangunan pura/tempat ibadah di Desa Kalianget.
Sekali lagi, Kalianget tidak hanya tentang roman Jayaprana dan Layonsari, atau garangnya tokoh Patih Ki Saung Galing dalam drama gong. Lebih dari pada itu, bahwa Kalianget pernah melahirkan seniman tangguh seperti I Segnol dan I Dangin.
Pohmanis, Denpasar
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...