Mencermati Pembelajaran Daring di Tengah Merebaknya Covid 19
Merebaknya virus corona (covid 19) membuat masyarakat dunia resah dan menimbulkan kepanikan. Berita mengenai penyebaran virus tersebut saban hari diberitakan. Anjuran agar masyara...
Sore itu di Kota Minyak - Balikpapan, aku dan kawan gilaku tengah menunggu sebuah kedai makanan sedang bersiap untuk buka. Kami berdua datang 40 menitan lebih cepat dari waktu buka kedai karena tempat satu ini terkenal selalu ramai bukan main. Datang di waktu buka malah memastikan kami hanya ileran karena kehabisan bagian.
Kedai bernama “Warung Sudi Mampir” itu menjual sop kaki dan sate kambing khas Betawi. Ini kedua kalinya kami kemari. Kawan gilaku membawaku ke sini dan menemaniku makan atas nama cinta saja. Sebab, dia kukenal sebagai orang yang sama sekali tidak suka daging kambing. Baginya, bau daging kambing selalu mengundang emosi dan mematikan selera. Sementara aku, aku adalah penggila daging kambing tanpa alasan pasti. Dan kedai satu ini, jujur saja merupakan salah satu yang terbaik dalam hidupku.
Setelah 15 menit mengantre dan 15 menit menunggu makanan siap, semangkuk sop kaki kambing dan sepiring sate kambing muda pun hadir di mejaku. Sembari menikmati sepotong kaki kambing yang direndam kuah susu serta sate kambing yang dilumuri kecap dan potongan bawang merah, tomat, serta cabe rawit; tanpa sadar aku merenung panjang.
Setiap perisa gurih dengan bau khas hewan kaki empat berjenggot itu masuk ke mulutku, dalam benak ternyata tengah berputar sebuah film lama. Film yang di dalamnya ada aku, orang tuaku, dan kedua abangku sedang semangat-semangatnya menyantap sop kaki dan sate kambing. Film yang dulunya merupakan kisah nyata yang sering sekali kami lakukan sebagai hiburan keluarga saat aku masih tinggal di Bali.
Dalam film itu, aku melihat ayah sedang berteriak memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Aku pun tersadar, sejak dulu tak sekalipun ayah bertanya kami mau pesan apa. Beliau langsung saja pesan soto kaki dan sate kambing masing-masing satu untuk anggota keluarganya. Kami pun tidak pernah menyesal dengan pesanannya karena memang apa yang beliau pesan, sudah pasti enak.
Film lama ini terus berputar di kepalaku, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa aku mungkin mendiamkan kawan gilaku. Tapi, sekali lagi karena alasan cinta, dia tidak keberatan. Apalagi dia memang senang melihatku menikmati makanan dengan lahap. Demi cinta pula dia tidak masalah jika setelah ini bibirnya yang kulumat akan menjadi satu rasa dan aroma dengan sop dan sate kambing ini.
Film yang memutar masa lalu tadi juga membuatku kepikiran soal ayah. Sop dan sate kambing khas Betawi adalah makanan yang paling ayahku suka. Ayahku adalah seorang yang suka sekali mengenalkan apa yang disukainya kepada keluarga. Bahkan beliau sering tak tahu waktu jika ingin mengajak kami memanjakan lidah dan mengenyangkan perut. Tengah malam siap, pagi buta ayo, siang bolong tak masalah, selepas magrib pun jadilah! Tak kira-kira, beliau pun siap menempuh perjalanan lintas kota hanya untuk berburu makanan kesukaannya ini.
Hal yang lebih menarik lagi, “Warung Sudi Mampir” yang ada di Kota Minyak ini memiliki nama yang sama persis dengan kedai langganan kami sekeluarga di Bali. Rasa makanannya pun tidak ada bedanya dengan warung langganan yang terletak di pinggir kandang kuda tersebut. Mungkin itu juga yang membuatku semakin bernostalgia.
Hari itu, aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku bukanlah penggila daging kambing. Aku bukan rindu makan sop kaki dan sate kambing yang enak. Apa yang kusukai dan kurindukan dari makan kuliner khas Betawi ini adalah kenangannya.
Hari itu aku juga semakin meyakini. Bahwa makanan dicintai bukan sekadar karena rasa enak, melainkan karena cerita lamanya. [T]
Merebaknya virus corona (covid 19) membuat masyarakat dunia resah dan menimbulkan kepanikan. Berita mengenai penyebaran virus tersebut saban hari diberitakan. Anjuran agar masyara...
Sejak Covid-19 alias virus corona merebak ke setiap penjuru bumi, saat itulah bak badai menghampiri dan mengejutkan semua pihak termasuk para pekerja kapal pesiar. Tamu-tamu memba...
Beberapa hari setelah pengumuman penutupan tempat saya bekerja untuk sementara waktu, salah satu kolega – emak-emak rempong beranak empat curhat bahwa betapa ia sangat khawatir de...
Mari kita buka naskah lontar-lontar dan ingatan sejarah Pulau Bali: 1. Dalam berbagai lontar usada (lontar pen...
[ringkasan artikel] Ada dua rezim[*] kalender di Bali: 1. Kalender Sasih (Perhitungan merujuk pada Purnama dan Tilem [bulan gelap]) 2. Kalender Pawukon (Perhitungan meru...
[ringkasan artikel] PHDI Badung pernah diberitakan secara internal bersepakat untuk tidak mengelar Tawur Kesanga, Maret 2016. Kemudian mereka menyerahkan masalah ini untuk dip...
Perawakannya tinggi besar, lebih dari dua meter. Kulit coklat legam. Rambut hitam tebal. Sepasang matanya melotot. Gigi runcing dengan taring lengkung menyembul dari gusi. Kuku-ku...
Seperti yang diberitakan awak media virus covid alias virus corona telah menyebar ke seluruh dunia. Kabar terbaru, Italia pecahkan rekor 427 orang meninggal dalam waktu 24 jam ter...
“Jika engkau ingin memperbaiki dunia, pulanglah ke rumah, temui keluargamu” --- (Sang Budha) ___ Sabda Budha di atas, sang nabi bersahaja, terasa sedemikian menyentuh dan re...
Kadang ada hal mengejutkan saat sesekali berada di rumah dalam waktu yang lama, tanpa tahu harus mengapa, misalnya sebuah pohon di sudut halaman yang tumbuh besar dan kita terkena...