Puisi-puisi Angga Wijaya || Menulis Halusinasi, Pada Kopi Aku Percaya

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — Mei 31, 2020 in Puisi

Tatkala.co

Ramadhan, Hari Kesepuluh


Menggapai-Mu di malam hening

Ayat kudengar merdu di telinga

Tutupi luka di sekujur tubuhku

Masa lalu terasa begitu berat

Adakah aku pantas kembali


Teguran kudengar sangat jelas

Dosa-dosa tak bisa lagi kuhitung

Dunia adalah rumah sakit jiwa

Engkau maha menyembuhkan

Sembuhkan aku dari kekeliruan


Datang, datanglah wahai Kekasih

Rindu ini semoga tak jadi sembilu

Bertahun-tahun kutunggu dirimu

Beribu bintang di langit nurani

Bulan separuh terangi gelap hati


Peperangan sejati dalam batin

Melawan nafsu murka angkara

Kubersujud di kamar dini hari

Sepertiga malam bersama doa

Aku menghadap-Mu, ya Rabb


Air mata basahi kering sajadah

Bawalah aku pada madah jiwa

Tak ingin mengulang kesalahan

Terlahir menjadi manusia baru

Seperti bayi polos tanpa noda


2020


Menulis Halusinasi


Terbangun di tengah malam, entah

oleh sebab apa.


Tak bisa tidur lagi, hingga matahari

 hampir terbit.


Pandemi melahirkan kecemasan,

tergambar di mata memerah.


Kita tak bisa berharap banyak, tahun

kehancuran melanda dunia.


Hanya pada cinta aku percaya, itu pun

jika masih ada, seperti lagu sore ini.


Aku bersiap pergi kapan saja, bersama 

mimpi-mimpi yang kian jauh.


Ada saatnya kita butuh ruang kosong,

untuk berpikir tentang banyak hal.


Kota semakin sepi, tak ada harapan lagi,

wabah penyakit membunuh banyak orang.


Saat semua begitu sulit, aku merindukan

ibu, di pelukannya aku merasa tenang.



2020


Pada Kopi Aku Percaya


Aku kini lebih suka kopi pahit, agar paham

bahwa hidup tak selalu manis


Ada kepahitan yang tak bisa aku bicarakan,

bahkan pada ibu yang melahirkanku


Tak semua harus diketahui orang, terlebih

 jika hanya dianggap angin lalu


Setiap manusia punya kesunyian, nasib

yang bahkan tuhan tak ikut campur


Ia hanyalah saksi, atas semua duka

dan luka batin terpaksa kita pendam


Kopi membuatku percaya pahit manis

hidup mesti dirasakan dan dirayakan


Genangan hitam membayang wajah diri,

bersama kepulan asap elegi pagi hari




2020


Ratnakara


Semua akan berubah, tak ada yang kekal

Kita pun bergegas di jalan penuh cemas


“Lompatlah!” dulu Guru kita pernah berkata

Namun aku memilih jatuh di jurang itu juga


Babak-belur dihantam duka lara kehidupan

Hingga akhirnya datang lagi kebijaksanaan


Kudengar nyanyian merdu malam purnama

Engkau memanggil mereka yang lupa jalan


Ada yang melupakan kenangan bersama

Mangkuk nasi bersama doa kebahagiaan


Kalender berganti dengan cepat dan tergesa

Kembang api menyala di malam kesia-siaan


Kutuk masa lalu tiba-tiba menghantui ingatan

Suara hati mengajakku masuk ke dalam diri


2020

Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts