Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
“Forgive others, not because they
deserve forgiveness, but because
you deserve peace.”
-Jonathan Lockwood Huie
______
Beberapa hari terakhir ini saya teringat film favorit saya yang mengatakan “I Love You 3000” Cinta 3000 dan belakangan media sosial banyak mengaitkan dengan “Memaafkan dengan Materai 6000 Rupiah.” Banyak kontroversi yang ada di sana.
Saya tidak akan membahas soal itu. Tetapi sesungguhnya seperti kata teman saya yang beragama Islam memaafkan itu harus dari lahir dan batin, artinya bukan hanya di mulut tapi juga di hati. Jadi memaafkan yang di mulut untuk orang yang dimaafkan, yang di hati untuk diri kita sendiri. Benar sekali, dari sudut kesehatan jiwa banyak orang mengalami gangguan psikologis karena ketidakmampuan memaafkan.
Ketika kita mengalami luka batin akibat perkataan atau perilaku orang lain terhadap diri kita. Mungkin orang yang mengatakan atau melakukan hal itu sudah lupa. Tetapi buat kita kemudian kita selalu ingat dan ketika kita mengingatnya luka itu makin dalam. Dan, seringkali kemudian menjadi gangguan cemas, gangguan depresi, psikosomatis dan sebagainya. Jadi kemampuan memaafkan adalah sesuatu yang sangat penting.
Yang perlu diingat, memaafkan bukan berarti membenarkan hal hal-hal salah, hal-hal buruk yang orang lain lakukan terhadap diri kita. Memaafkan adalah proses yang ada dalam diri kita, di mana kita membebaskan diri kita dari dampak buruk perbuatan salah yang orang lain lakukan terhadap diri kita.
Ada yang lebih sulit dari memaafkan orang lain, yaitu memaafkan diri sendiri. Saya sering menemui banyak klien yang mengalami gangguan psikologis sumbernya dari sini. Kita manusia adalah sangat manusiawi ketika kita melakukan kesalahan. Tetapi pada beberapa orang sulit sekali menerima atau memaafkan dirinya bahwa dia pernah melakukan kesalahan itu.
Yang lebih baik untuk diri kita adalah memaafkan.Sekali lagi bukan membenarkan hal-hal salah, hal-hal buruk yang pernah kita lakukan. Ya, itu salah dan itu sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah mempunyai komitmen memperbaiki diri kita untuk tidak lagi membuat kesalahan-kesalahan yang sama. Dan kita berhak atas rasa maaf untuk diri kita sendiri.
Lalu bagaimana dengan fenomena materai 6000, yang kemudian dikaitkan memaafkan seharga 6000 rupiah? Kembali lagi, memaafkan itu untuk diri kita sendiri. Yang saya tangkap kebanyakan memaafkan untuk orang lain sebetulnya. Meminta maaf untuk terbebas dari hal-hal buruk yang bisa terjadi pada diri kita. Saya akan fokus pada satu kasus yang menarik dari sudut pandang saya sebagai psikiater.
Media sosial sempat gempar oleh ucapan-ucapan kebencian dari salah satu akun media sosial yang belakangan sudah diklarifikasi bahwa yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa berat yang sedang dalam pengobatan. Saya sungguh sangat trenyuh melihat komentar-komentar dari proses materai 6000, di mana keluarga mengklarifikasi bahwa kejadian yang sebenarnya seperti itu.
Tapi komentar-komentar yang ada sungguh luar biasa menyedihkan menurut saya. Di mana orang kemudian tetap marah dan mengatakan bahwa jangan-jangan bukan orang gangguan jiwa bahkan mengatai bahwa itu orang gila dan sebagainya. Dan muncul teori-teori konspirasi bahwa yang bersangkutan tidak benar seperti itu.
Marilah kita meningkatkan empati. Rasa maaf bisa muncul dari sebuah empati. Bagaimana kalau kita mempunyai keluarga yang sedang dirawat mengalami gangguan jiwa berat di mana dia tidak punya kendali terhadap dirinya kemudian memposting macam-macam. Lalu banyak muncul pertanyaan, kalau memang gangguan jiwa berat lalu kenapa kok bisa main handphone (HP) kemudian memposting di akun media sosialnya dan sebagainya.
Marilah memperluas pengetahuan kita bahwa orang gangguan jiwa atau yang dinamakan skizofrenia bukanlah hilang ingatan, bukan seratus persen.kehilangan kemampuannya. Jadi ada beberapa kemampuan yang bisa masih muncul, hanya yang terganggu adalah kendali. Ia bisa merasa curiga yang berlebihan, kemudian ada suara-suara di telinga yang didengarnya padahal itu tidak nyata. Hal itu bisa terjadi pada seseorang.
Marilah kita berempati, bagaimana keluarga kemudian harus mengklarifikasi secara terbuka bahwa anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa, dan itu merupakan sesuatu yang sungguh sangat berat. Marilah kita membantu dirinya dan keluarganya untuk terus bisa berobat. Ketika ada kesalahan-kesalahan marilah kita memaafkan, memakluminya sebagai salah satu bagian dari sebuah proses.
Hal itu bisa terjadi pada siapa saja, pada agama mana pun. Tentu kita ingat bahwa dulu juga pernah ada yang gangguan jiwa menyetir mobil, datang ke sebuah masjid membawa anjing. Itu pun sempat gempar. Bagaimana gangguan jiwa berat, sungguhkah itu, kok ternyata bisa menyetir bisa membawa anjing dan sebagainya. Saat itu juga muncul teori-teori konspirasi dan sebagainya
Jadi sebenarnya hal-hal semacam itu bersifat universal, ada di mana pun dan bisa terjadi pada agama mana pun. Marilah kita dengan damai pada diri kita sendiri menerima hal-hal itu bisa terjadi dan menyisihkan rasa kebencian kita, rasa curiga kita.
Marilah tumbuh menjadi masyarakat yang memaafkan. Kita munculkan agama apa pun dengan wajah.memaafkan. Karena memaafkan adalah kunci dari kesehatan jiwa yang lebih baik. Dan, saya pikir memaafkan nilainya jutaan kali lipat, bukan hanya 6000 Rupiah. Semoga kita semua menjadi insan yang penuh rasa maaf baik untuk orang lain dan diri kita sendiri di hati masing-masing. Salam mantap jiwa. [T]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...