“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Bukan tanpa alasan jika Bhagawan Wararuci menyebut ucapan Bhagawan Byasa ada pada setiap ajaran. Baginya, ajaran Bhagawan Byasa seperti cahaya yang melenyapkan gelap. Terutama kegelapan pikiran. Konon Bhagawan Byasa tidak ada yang tidak diketahuinya, karena itu ia disebut mengetahui segalanya dan tanpa kebodohan [tan hana kapinggingnira]. Karena dari seorang Bhagawan yang demikianlah lahir ajaran, wajarlah jika orang yang demikian dihormati sebagai orang yang terpelajar. Yang dihormati, tidak hanya ajarannya tapi juga yang mengajarkan.
Bhagawan Byasa adalah satu dari sekian banyak nama-nama yang disebut-sebut dalam teks kuna. Konon, Bhagawan ini dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Satyawati, sedangkan ayahnya bernama Bhagawan Parasara. Nama Parasara selain menjadi nama Bhagawan, juga nama salah satu Dharma Sastra. Apakah ada hubungan antara Bhagawan Parasara dan Parasara Dharma Sastra? Saya belum tahu soal ini, karena belum menemukan sumber-sumber yang bisa menjadi landasan pemikiran.
Satu hal yang penting bagi saya, adalah keterangan dari Bhagawan Wararuci bahwa Bhagawan Byasa dilahirkan di sebuah tempat bernama pulau hitam [Kresna Dwipa]. Sedangkan menurut banyak sumber, nama tempat seringkali juga menjadi nama orang atau sebaliknya. Dalam kasus ini, Bhagawan Byasa juga dikenal dengan sebutan Kresna Dwaipayana Wyasa. Itulah keterangan yang bisa kita dapat tentang Bhagawan Byasa yang dideskripsikan oleh Bhagawan Wararuci.
Byasa Wacana atau ajaran Bhagawan Byasa dipuji kemuliaannya bagai emas permata yang memenuhi daratan dan lautan. Hanya mereka yang berani menggali dan menyelam yang akan mendapatkan permata-permata mulia itu. Menurut Bhagawan Wararuci, isi Bharatakatha yang dikerjakan oleh Bhagawan Byasa adalah kematangan tentang rasa yang utama. Yang dimaksudkan sebagai rasa utama yang matang itu adalah pengetahuan yang super halus [rahasyajnana].
Rahasyajnana itulah yang menjadi sumber mata pencaharian bagi seorang Kawiwara [pinakopajiwana sang kawiwara]. Kawiwara berarti seorang penyair yang terkemuka. Dengan demikian, kita sampai pada pemahaman bahwa penyair adalah mereka yang menikmati rahasyajnana. Apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana? Sampai pada pertanyaan itu, kita hentikan dulu sejenak. Saya ingin mengatakan, bahwa konsep kepenyairan yang demikianlah yang berlaku pada masa pustaka Sarasamuccaya tercipta. Konsep ini bisa saja telah berganti sesuai peralihan jaman. Tidak ada yang aneh dalam perubahan itu, karena segala yang ada di dunia ini, bergerak maupun tidak bergerak akan berubah.
Rahasyajnana sangatlah sulit untuk dijelaskan karena kerahasiaannya. Rahasia dalam hal ini berarti sangat halus, saking halusnya dia tidak bisa dipikirkan. Karena tidak terpikirkan, dengan singkat orang-orang lebih memilih untuk menyebutnya ‘memang demikian’ lalu selesai.
Mari kita tengok pustaka berjudul Sang Hyang Bedajnana untuk memetakan, apakah yang dimaksud dengan rahasyajnana ini. Bahkan menurut pustaka ini, jnana tidak hanya rahasia tapi sangat rahasia atau sangat halus [paramarahasya]. Kerahasiaannya dibagi menjadi dua, yakni rahasia dari jagat raya dan rahasia dari jagat kecil atau tubuh. Artinya, jnana merahasia di dua jagat itu. Oleh sebab itu, pustaka Sang Hyang Bedajnana menjanjikan bahwa orang-orang yang berhasil mengetahui rahasia di kedua jagat itulah yang akan mencapai alam Shiwa.
Untuk mengetahui rahasia dua jagat itu tadi, ada syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya adalah menjadi Pandita. Syarat ini ditentukan dengan sangat jelas dalam pustaka Sang Hyang Bedajnana. Karena menurut pustaka tersebut, tubuh cahaya [dewa sharira] dan kelepasan [kamoktan] ditemukan [pinangguh] oleh sang Pandita. Mengenai hal ini, kita sudah bicarakan pada pembicaraan terdahulu tentang Diksa Widhi Widhana. Kalau tidak ingat, saya akan mengingatkan bahwa seseorang bisa disebut Pandita jika melakukan Lokika Karya yakni Diksa Widhi Widhana dan Parama Kaiwalya Jnana.
Sampai pada titik itu, syaratnya belumlah selesai. Selain menjadi Pandita, seseorang diwajibkan mengikuti syarat lainnya yakni menjadi murid. Saat menjadi murid pun, ada beberapa lagi syarat lainnya. Syarat-syarat itu ada beberapa, yakni setia [shrad-dadhano], menguasai indriya [jitendriya], menjalankan dharma [dharmatmo], menepati janji diri [wrata sampanno], dan berbakti pada guru [guru bhakti]. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, barulah seorang murid pantas diberikan pengetahuan berupa Sang Hyang Bedajnana.
Itulah sedikit penjelasan yang sangat tidak menjelaskan tentang rahasyajnana. Oleh sebab itu, berdasarkan pada penjelasan tadi, kita bisa mengetahui bahwa seorang kawiwara juga adalah seorang Pandita. Sekali lagi, itulah konsep ideal kepenyairan yang berlaku pada masanya.
Baiklah, sekarang kita kembali pada ucapan Bhagawan Wararuci yang sangat menghormati karya dan Bhagawan Byasa. Saking hormat dan kagumnya, Bhagawan Wararuci sampai-sampai mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan yang tidak dilandasi oleh ucapan Bhagawan Byasa. Tentu saja ucapan itu tidak sepenuhnya benar, karena menurut nyatanya ada beberapa pengetahuan yang tidak bersumber dari Bharatakatha semisal Ramayana. Entah itu Ramayana karya Walmiki, atau Ramayana karya pujangga Bhati. Tetapi ungkapan ini jelaslah digunakan sebagai metafora untuk meninggikan kedudukan Bharatakatha.
Satu lagi metafora peninggian itu adalah seperti tubuh yang tidak akan pernah ada tanpa makanan dan minuman. Makanan dan minuman dalam metafora itu adalah Bharatakatha, sedangkan tubuh adalah ilmu-ilmu turunan yang lainnya. Perumpamaan itu digunakan dengan sangat tepat, sebab memang tubuh ini tidak akan dapat bertahan tanpa adanya makanan dan minuman. Meskipun, pada beberapa khasus ada yang mengatakan bahwa tubuh bisa bertahan dengan mengolah nafas.
Pernyataan itu jelaslah beralasan. Menurut satu pustaka, setidaknya ada tiga jalur utama dalam tubuh yang fungsinya untuk menyalurkan tiga hal yakni makanan, minuman dan udara. Saluran untuk makanan disebut anawaha. Berasal dari kata ana yang berarti makanan. Saluran untuk minuman bernama toyawaha. Sedangkan saluran untuk udara atau nafas adalah pranawaha. Ketiga saluran inilah yang disebut sebagai Tri Nadi. Di antara ketiganya, hanya saluran udara yang tetap berada di tengah. Sedangkan saluran makanan dan minuman, kadangkala berbeda antara pustaka yang satu dengan pustaka yang lainnya.
Perbedaan itu bisa ditemukan dimana saja, dalam pustaka apa saja jika dibanding-bandingkan. Bagaimana menjelaskan mengapa perbedaan itu ada, adalah sebuah kasus lain lagi yang sangat baik jika dicari penjelasannya secara bersama-sama dan dibagikan pada tiap orang yang benar-benar ingin tahu.
Nah, sampai disini dulu pembicaraan kali ini. Tapi di akhir tulisan ini, saya ingin mengemukakan sesuatu yang penting yang terus saja berkelindan di pikiran saya. Menurut pembicaraan tadi, kita tahu bahwa tiga unsur pokok pembentuk tubuh adalah nafas, makanan dan minuman. Di antara ketiganya, dalam berbagai macam pustaka, ada ajaran untuk meniadakan makanan dan minuman. Upawasa istilahnya dalam teks Siwaratrikalpa. Itu artinya, ada dua saluran yang diistirahatkan dalam tubuh. Sedangkan saluran tengah, yakni nafas tidak ditiadakan sama sekali. Tetapi dikendalikan dengan berbagai macam cara.
Kita mengenal kata Pranayama untuk pengendalian nafas itu. Artinya, nafas menjadi satu bagian yang penting untuk mempertahankan tubuh tanpa makanan dan minuman. Tidak hanya tubuh darah dan daging, tapi juga tubuh halus bernama pikiran.
Dan menurut suatu pustaka yang tidak saya katakan sumbernya, tubuh darah dan daging mirip sebuah kota dengan banyak pintu gerbang. Pintu-pintu itu, konon bisa terbuka dan tertutup asal orang punya kuncinya. Sama seperti Jnana, kunci dari gerbang tubuh itu disebut rahasya. Istilah lengkapnya kunci rahasya. Apa dan dimanakah kunci itu? [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...