Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
"Saat ini kami mempertimbangkan langkah transisi, kami harus mengakui bahwa tidak ada kemenangan yang cepat diraih. Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan, kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah-langkah dengan cepat." -- (Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge)
Virus Corona belum juga mau berdamai, apalagi menyerah. Maka sepertinya manusialah yang akan mengusulkan perdamaian, atau jangan-jangan telah menyerah? Maka wajarlah, terlontar pernyataan merendah dari badan kesehatan dunia (WHO) tersebut. Sebagai institusi tertingggi di bidang kesehatan dan penyakit, WHO seakan-akan mewakili kata hati setiap insan di bumi saat ini.
Sebetulnya ada negara yang telah menang melawan Covid-19 yaitu Vietnam dengan jumlah kematian nol orang. Kasus terakhir ditemui di Hanoi pada 13 Februali lalu, artinya tiga bulan tanpa kemunculan kasus baru dan ini sungguh mencengangkan telah terjadi di sebuah negara yang berbatasan langsung dengan China, negara episentrum wabah. Namun sayang sekali, hal ini tidak terjadi di sebagaian besar negara-negara di seluruh dunia yang terjangkit. Orang-orang telah mulai kebal, bukan terhadap virus yang sangat membingungkan ini, namun akan rasa takut yang telah beradaptasi. Rasa sakit kini telah bergeser ke wilayah ekonomi dengan taksiran kerugian dunia mencapai sembilan triliun dolar Amerika. Manusia memang terlatih melawan penyakit namun belum terbiasa melakoni kemiskinan.
Artinya hidup harus kembali bergerak. Pasar mulai melapak kebutuhan manusia. Hotel dan spa membuka pintunya untuk memanjakan kaum penjelajah dan pelancong. Gerbong kereta api bergerak dan deru pesawat terbang mengangkasa membangunkan manusia dari tidurnya untuk kembali mengejar target mereka. Pada saat yang sama, virus SARS-Cov-2 pun masih bertebaran di mana-mana, karena sejatinya ia memang tak mungkin rasanya dimusnahkan.
Sebagai jasad renik yang sedemikian sederhana, hanya terdiri dari satu atau dua untaian protein yang mengandung materi genetik (RNA), berukuran 0,000001 mm, bagaimana cara kita menghancurkannya? Bukankah dengan ukuran sekecil itu mereka telah lebih daripada hancur? Sebuah kehancuran yang menghancurkan. Mungkin saja vaksin dan anti virus, yang secara teoritis dapat menyudahi segalanya dengan sempurna, namun faktanya tidak. Satu-satunya pilihan pada akhirnya adalah manusia hidup bersama Covid-19. Mirip dengan kita juga telah hidup bersama TBC, HIV, demam berdarah atau virus influensa yang lain. Tingkat penyebaran yang begitu cepat dan menghasilkan jumlah kematian yang masih besar, menimbulkan resistensi dan kritik tajam di kalangan dokter dan praktisi kesehatan lainnya akan ide berdamai ini.
Entah apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, sepertinya tuan Kluge benar, yang ada adalah sebuah ketidakpastian dan kerumitan. Itulah yang telah dialami menteri perhubungan kita, bapak Budi Karya Sumadi, yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19, saat dievaluasi ulang ternyata terdekteksi masih terinfeksi virus dari pemeriksaan PCR. Hal yang sama pun kami alami sebagai team Covid-19 di RSUD Buleleng/RS Pratama Girimas. Salah seorang pasien Covid-19 kami, dirawat hampir selama 40 hari dengan hasil swab yang sering berubah-ubah positif dan negatif.
Dalam masyarakat pun terjadi hal-hal yang terkesan janggal, misalnya kejadian di kabupaten Bangli, seorang wanita tua yang berprofesi sebagai buruh nyuun (memikul barang di atas kepala), ditemukan positif Covid-19 dan telah menjadi sumber penularan. Padahal yang bersangkutan dipandang jauh dari kemungkinan terinfeksi virus Corona yang berasal dari luar negeri ini. Namun dalam penelusuran, didapatka telah terjadi kontak dengan kerabatnya yang seorang pekerja migran. Ketiadaan gejala pada sebagian besar pengidapnya membuat penularan lebih mudah terjadi karena pengidap cenderung bersosialisasi.
Sepertinya memang bakal terjadi sebuah era new normal, yang disebabkan oleh virus yang new abnormal. Akan terjadi berbagai tradisi baru yang mungkin lam-lama akan menjadi hal biasa. Bayangkan saja, situasi tak mudah saat kita mulai memakai kloset duduk. Namun saat ini, kloset jongkok hampir sudah tak ada lagi dalam masyarakat. Perubahan bisa terjadi dari sebuah rencana yang tertata rapi namun dapat saja terjadi tiba-tiba dan tak terencana tanpa persiapan, sebuah jalan damai. Wanita tak dapat lagi memamerkan pesona bibirnya sebagai daya tarik erotika dan bergeser pada kerling matanya.
Ini lantaran masker yang harus kita pakai dalam keseharian guna mencegah infeksi Covid-19. Kebiasaan antre yang sejak dulu begitu sulit diterapkan tampaknya kini menjadi sebuah kebutuhan setiap orang. Orang-orang akan menyediakan termometer di rumah masing-masing dan tentunya hand sanitizer yang akan selalu dibawa kemana-mana. Setiap siswa pun akan terbiasa belajar secara on line yang mebuatnya lebih cekatan menjajal era digital ini. Hal serupa sebetulnya sudah terjadi terkait kehadiran penyakit-penyakit sebelumnya. Misalnya protokol vaksinasi sebagai sikap hidup berdampingan dengan virus hepatitis B atau rekomendasi kuat memakai kondom akibat kita hidup bersama virus HIV.
Era new normal dapat saja akan menjadi sebuah realitas, namun alam bawah sadar kita sejujurnya ingin kembali pada kehidupan biasa yang dulu. Menikmati kesempurnaan seorang wanita yang dilukis oleh bibirnya yang indah. Bertemu kawan dalam kedekatan ragawi yang hangat atau kerinduan para siswa akan sekolahnya yang meski gedungnya telah usang namun selalu memberi pengalaman baru dalam belia hidupnya. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...