“Jangan Lebay” merupakan idiom yang muncul dari kebanyakan lawan bicara saat merespon kegelisahan individu yang menurutnya terlihat sepele. Sebagai lawan bicara yang hanya mendengar sepintas lalu, tentunya, tanpa merasakan seperti orang yang terkena masalahnya, idiom ini seolah memberikan semangat untuk si sakit hati. Alih-alih menjadi membaik yang ada malah menjadi pelik. Maunya semangat malah terasa menyengat. Tanpa sadar kita melakukan Toxic Positivity. Entah karena peduli atau agar dia cepat melupakan masalahnya yang, yah, menurut beberapa orang biasa saja.
Perlu untuk diketahui. Batasan manusia dalam menghadapi masalah berbeda-beda. Satu hal yang bisa dipercayai. Kapasitas manusia dalam menyelesaikan permasalahan kehidupannya juga sudah berada di takaran yang sesuai pada diri setiap manusia. Memang dalam proses, kita perlu jeda hanya untuk beristirahat atau menangis tatkala merasa apa yang telah diperjuangkan masih menemui jalan buntu. Layaknya langkah kaki yang berderap semangat di awal, akan ada momentum untuk berhenti sejenak agar selanjutnya bisa berlari.
Namun tidak semua memiliki kapasitas untuk memikirkan semuanya dengan sadar. Maka secara refleks, tubuh akan memberikan cara agar kesakitan keluar dengan semestinya. Membantu membersihkan mental agar tetap menjadi kuat. Mencerahkan otak agar tetap berfikir logis di tengah kekeruhan akibat rasa sakit yang di dera. Ada yang menangis. Ada yang berteriak. Ada yang berlari tanpa arah. Ada yang bercerita. Mencurahkan semua kepedihan pada orang yang dipercaya. Semoga kepada siapa yang diceritakannya, mau mendengarkan dengan sabar dan berfokus untuk membantu meringankan beban tanpa harus memberikan saran yang menyakiti.
“Lewat single kedua berjudul “Mungkin Harus”, saya ingin mengajak untuk menerima kepedihan hati dengan semestinya. Bukan dengan berpura – pura kuat. Bukan dengan melupakan karena rasa pedih akan meledak suatu hari nanti. Tapi dengan merespon dengan jujur pada apa yang seharusnya terjadi,“ ungkap Bligungyudha selaku pembuat lagu ini.
Kehidupan sosial kadang membentuk stigma pada kita untuk selalu menjadi kuat dan memberi solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi. Itu bagus. Bahkan sangat baik memberikan kepercayaan yang membangun. Tapi tidak dipungkiri banyak yang justru terberangus akan aturan sosial yang tidak serta merta menguatkan semua pihak.
“Mungkin Harus” bisa menjadi pengingat bahwa semua terjadi untuk sebuah alasan. Jika ikhlas dianggap terlalu naif, menganggap semua yang terjadi adalah bagian dari yang seharusnya ada mungkin akan membantu memberikan pandangan lain untuk meringankan beban diri. Karena saat telah menerima dan kita meluapkan kepedihan dengan seharusnya, fisik dan mental akan menjadi lebih siap untuk beranjak menuju tatanan kehidupan yang lebih baik. “Apapun yang terjadi, terjadilah. Que Sera Sera!”
“Mungkin Harus” tercipta dari beberapa pengalaman kawan dalam menghadapi permasalahan yang menimpa. Mengambil sudut pandang seorang anak manusia yang berlari di penghujung malam, Bligungyudha mencoba menarasikannya menjadi rangkaian lirik yang menggambarkan pengembaraan makna singkat untuk mencari jalan keluar dengan merasa tidak apa – apa untuk menangis, berlari maupun cara refleks lainnya berdasarkan pengalaman pribadi setiap individu. Masih menggandeng Adit Onox untuk menerjemahkannya menjadi sebuah artwork bertema sama sebagai padanan visual dari Mungkin Harus.
Bligungyudha
Setelah dengan single perdananya dengan judul Rehat, Single kedua Bligungyudha dengan judul Mungkin Harus dapat diintip dengar di beberapa platform musik online. Spotify, Itunes, Apple Music, Deezer maupun Youtube Music secara gratis di bit.ly/MHbligungyudha “Merayakan kegembiraan adalah hak kita semua. Merayakan kepedihan dengan semestinya adalah pilihan kita juga. Rayakan dengan sadar. Semoga setelahnya kita menjadi lebih baik seperti apa yang telah kita panjatkan,” tutup Bligungyudha dengan memberikan penggalan lagu Mungkin harus lewat laman Instagram.com/bligungyudha.
Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga setiap sel...
GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu bukan hiasan semata, tetapi mendukun...
Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, term...
SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan...
SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, sa...
Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan Empeg. Ritual inilah y...
DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini menimbulkan pertany...
PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang dipasang, seperti baliho. Namun, entah mengapa...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcu...
SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepa...