Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Pada sebuah Pohon Soka yang tinggi, ada sarang Lebah. Letaknya tersembunyi pada celah-celah kayu yang besar. Tempat sarang yang tinggi membuat Ratu Lebah leluasa bertelur, mengerami, memelihara dan mengajar anak-anaknya.
Biasanya Ratu Lebah mengajarkan anak-anaknya pada sore hari pada saat Lebah Pekerja pulang dari tempat mencari nectar dan tepung sari bunga. Nectar dan sari bunga itu akan dibagikan secara merata kepada Lebah-Lebah yang masih kecil.
Sambil memberi makan Ratu Lebah biasanya akan mengajari Lebah-Lebah Kecil bagaimana Keluarga Lebah bisa hidup damai dan berketurunan.
"Lebah perempuan yang mempunyai mulut yang panjang bertugas mengisap nektar. Yang kakinya panjang bertugas membawa tepung sari, dan yang mempunyai kantung madu yang besar bertugas,menyimpan dan mengubah nectar dan sari bunga menjadi jely dan madu. Yang lain bertugas membersihkan dan menjaga sprang,” terang Ratu Lebah.
Mendengar penjelasan Ratu Lebah, anak-anak Lebah menjadi riuh. Mereka mulai melihat-lihat kondisi tubuhnya sendiri dan bakat-bakatnya yang dimilikinya.
"Horeee, kantong madu saya besar, saya jadi penyimpan," kata seekor anak Lebah.
"Mulut Saya panjang saya jadi pengisap nectar, asyikk,” kata anak Lebah yang lain.
Tetapi ada seekor anak Lebah betina yang tubuhnya paling besar. Ia sama sekali tak memiliki kelebihan seperti saudara-saudaranya itu.
"Saya tak jadi pengisap, pembawa sari, jadi perawat, juga jadi penjaga, saya sungguh tak berguna," kata Lebah bertubuh besar itu sambil menjauh dari tempat saudara-saudaranya.
Anak Lebah bertubuh besar sedih, ia tak rnak makan, ia menangis sendiri menyesali keadaannya. Hal itu dilihat oleh Ratu Lebah. Pada saat semua anak-anak tertidur pulas Ratu Lebah mendekati Anak Lebah bertubuh besar.
"Kenapa bersedih, makanlah nanti kamu sakit, " kata Ratu Lebah Denham lembut sambil menghapus air mata Anak Lebah.
"Saya Anak Lebah tak berguna, lebih baik saya pergi saja," kata Anak Lebah.
Ratu Lebah tersenyum, dan bercerita bahwa dia juga dulu merasa seperti itu, karena tubuhnya yang jauh lebih besar dari yang lain, tak punya kelebihan dan ketrampilan seperti yang lain, tapi Ia mempunyai perasaan yang peka, sehingga selalu merasa tidak enak hati.
"Tenanglah, kepekaanmu, rasa tidak enakmu itu menunjukkan bahwa kau Lebah Kecil yang bijaksana, menunjukan bahwa kamu memang berbakat menjadi Ratu Lebah seperti diriku," jelas Ratu Lebah. Anak Lebah tertegun, dia tidak percaya apa yang didengarnya.
"Saya, kenapa saya, saya tidak tahu apa-apa, saya bodoh," kata Anak Lebah.
"Sabarlah, merasa bodoh adalah titik awal untuk semangat belajar, maka belajar dan belajarlah selalu," kata Ratu Lebah.
Sejak saat itu Anak Lebah sangat bersemangat untuk belajar. Dia banyak belajar dari hal-hal yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Kalau menemukan suatu hal yang tak dipahaminya Ia tak segan-segan bertanya kepada Ratu Lebah dan Lebah yang lain.
Suatu ketika Anak Lebah melihat peristiwa yang sangat melukainya. Ia melihat seorang anak lelaki yang sedang mencari layangannya yang tersangkut pada pohon Soka dengan galah. Galah itu tanpa sengaja mengenainya saat ia bermain ke luar sarang. Sesunghuhnya lukanya hanya luka kecil, tapi yang membuat ia sangat sedih, karena Lebah Penjaga mengeroyok dan menyengat anak lelaki itu. Anak itu menangis, tubuhnya bengkak-bengkak, untung saja ada seorang Ibu yang melihatnya dan mengoleskan sesuatu pada anak itu. Anak itu sembuh, tapi Lebah Kecil masih merasa sangat sedih.
"Kenapa anak itu disengat, kenapa sengatan bangsa Lebah beracun?," kata Anak Lebah sambil menangis.
"Racun adalah sisa dari nektar dan tepung dari kita pakai senjata, sebagai penjata pelindung agar bangsa kita tidak punah. Racun kita bisa membuat manusia yang bertubuh besar sakit, pinsan atau bahkan mati, tapi..."Ratu Lebah berhenti berbicara.
"Tapi apa Ratu, adakah obatnya?"
"Baiklah akan aku ceritakan sebuah rahasia padamu. Rahasia yang harus diketahui oleh para Ratu Lebah dimanapun berada. Sebagai bangsa Lebah kita sudah mengikat janji pada Bunga-bunga yang telah sangat berjasa untuk kelangsungan hidup bangsa Lebah. Bahwa betapun hebatnya racun Lebah, maka akan mampu diobati oleh keharuman bunga, oleh minyak dari bunga-bunga," kata Ratu Lebah akhirnya.
Ratu Lebah merasa sudah saatnya ia turun tahta. Anak Lebah sudah siap menjadi Ratu Lebah yang baru. Sudah siap untuk menjaga dan menjalankan janji bangsa Lebah pada Bunga. [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...