Oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti*
____
Pernah mendengar Bioritma (Biorythm)? https://en.wikipedia.org/wiki/Biorhythm
Dunia sempat berpendapat, bahwa manusia punya irama hidup
untuk ketahanan fisik, emosi, dan intelektual yang berdaur secara teratur
pasang naik dan pasang surutnya. Daur fisik 23 hari, emosi tiap 28 hari, dan
intelektual 33 hari.
Tiap orang mengikuti siklus tubuh dan batiniah tersebut
sejak lahir sampai mati. Siklus atau daur emosi 28 hari, misalnya, ditunjukkan
dengan daur menstruasi bagi rata-rata kaum perempuan. Berbahagialah perempuan
karena tubuhnya seiring dengan siklus semesta, dengan itu berkesempatan bersama
semesta mengandung dan melahirkan kehidupan.
Bioritma juga dipakai mengukur pemilihan personel kunci yang
menentukan keberhasilan perang sampai olympiade. Dulu sempat ada kalkulator
bioritma.
Di Nusantara bioritma ini dikenal sebagai Kalender Wuku.
Dasar kalender Nusantara kuno ini lebih rinci berkaitan
dengan wariga atau wewaran, mengandung perhitungan dari
siklus 1 yaitu Ekawara sampai siklus
10 yaitu Dasawara, bersanding erat
dengan perhitungan Wuku (siklus 7
dikalikan 30) yang disebut daur pawukon.
Kalender Wuku ini menentukan hari-hari penting penulisan dan
pendirian prasasti, penobatan raja-raja, penentuan hari-hari suci di peradaban
pardatuan, kedatuan, dan kerajaan-kerajaan dan komunitas kuno di Sumatera,
Kalimantan, Sunda, Jawa, Bali, Buton, Kei, Sumba, dstnya.
Panjangnya wewaran
yang diikat oleh pawukon ini masing-masing adalah 210 hari, atau di Bali
disebut 6 bulan Bali.
Fisikawan Berlin ternama Wilhelm Fliess abad ke-19 —
berdasarkan teori Sigmund Freud — merumuskan daur-daur bioritma membentuk
siklus massal yang berdaur 23 x 28 x 33 = 21.252.
Periode nemu-gelang
atau satu putaran oleh leluhur Nusantara dibagi menjadi 100 pawukon yang
masing-masing sepanjang 210 hari. Totalnya 21.000 hari.
Kenapa rumusan fisikawan Jerman Wilhelm Flies sangat
mendekati rumusan nemu gelang?
Dari mana leluhur kita tahu?
Biorhythm telah berdenyut dalam diri dan kehidupan
masyarakat Nusantara kuno yang tubuh, napas, dan denyut hidupnya menyatu dengan
alam sekitarnya, sungai, gunung-gunung, samudera, langit dan semesta.
Meskipun sempat menjadi pergunjingan sekian lama, bioritma
semakin tidak populer karena fisikawan barat patah arang, tidak mempunyai
tradisi pengetahuan kuno seperti yang dirumuskan leluhur kita lewat pendalaman
laku hidup. Hening batiniah untuk mendengar denyut diri dan alam. Mereka gagal
mencari realitas rumusannya, yang padahal, telah berlaku dalam kehidupan dan
menjadi kalender peradaban Nusantara kuno dan tersisa sampai kini.
Sebagai bukti pengetahuan kuno ini masih hidup di Bali dan
masih sangat menjadi pedoman utama untuk menentukan kalender kegiatan-kegiatan
suci, pertanian, kegiatan nelayan dan semua aspek tradisi di Bali — ini
berkaitan dengan bioritma karena aritmatikanya berasal dari micro-cosmos, yaitu
tubuh manusia sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan dari kesadaran kosmik,
melalui pengetahuan diri bhuana alit
untuk selaras-manunggal dengan alam semesta bhuana agung.
Di Jawa dan Sunda kalender wuku, sasih, titi mangsa masih
menjadi jiwa dan irama kehidupan pedesaan.
Rumusnya:
“Wewaran alah dening
Wuku, wuku alah dening penanggal lan pangelong, penanggal lan pangelong alah
dening sasih, sasih alah dening dawuh, dawuh alah dening Sang Hyang Triyodasa
Saksi”.
“Bahwa sistem siklus wewaran dikalahkan pengaruhnya oleh
siklus pawukon, pawukon dikalahkan pengaruhnya oleh sasih (siklus bulan purnama
dan bulan gelap), siklus sasih dikalahkan pengaruhnya oleh dawuh (putaran “momentum” waktu), “momentum” dikalahkan pengaruhnya
oleh Sang
Hyang Triyodasa Saksi — Maha Saksi Berwujud Tiga Belas Kekuatan Alam
Semesta.“
Sang Hyang Triyodasa
Saksi adalah Tiga Belas Kekuatan Mahadasyat pengatur semesta raya.
KECERDASAN ULTIMA YANG MENGATUR SEMESTA RAYA. Ini sebab kenapa orang kita
mengenal istilah cilaka tiga belas
artinya tidak ada siapapun bisa membantu kalau kekuatan besar alam semesta raya
bekerja di balik kejadian naas yang dialami.
Bioritma sebagai
pemersatu alam pikir Nusantara
Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan di
Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, sampai kepulauan Kei dstnya diikat oleh
sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu sistem sasih dan
kalender pawukon (30 x 7 hari = 210 hari), dikombinasikan dengan sitem lunar
dan solar.
Setidaknya kalender Wuku telah mulai dikenal semenjak jaman
Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti
Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi. Peradaban di balik
kebesaran Candi Borobudur dan Prambanan memakai kalender Wuku.
Kalender Wuku sampai saat ini masih sangat relevan mengatur
kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga
rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok, dstnya.
Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih
relevan dimainkan kalender Wuku dan wewaran dalam kehidupan masyarakat di
beberapa suku di Nusantara — seperti Sunda, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Sumbawa,
dll.
1. Mengatur agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan
(ritual tradisional), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).
2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup,
pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut
dirangkai atau dilalui lewat slametan dan ritual Nusantara lainnya.
3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta
bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’
dan ruwatannya.
4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara
jiwa dan obat penghilang lara.
5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup
dengan alam dan manusia lain, termasuk di dalamnya sebagai pedoman hari bertani
(pertanian), melaut (nelayan), mengambil ternak (peternakan) dsbnya, ini
ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gĕmĕt sajroning wuku sawiji).
Kalender Wuku menjadi ‘sistem keyakinan bersama yang padu
secara imajiner’, yang menyatukan ‘imajinasi’ kita sebagai sebuah rumpun
suku-suku di Nusantara. Dalam kehidupan rumpun suku-suku Nusantara kuno,
sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kesukuannya’ masing-masing, mereka
dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah
ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan
bersama, secara bioritmik, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi
yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, yang
memuat berbagai simbol kultural sarat makna.
Nenek moyang kita telah terasah dan ‘bertemu’ dalam
‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut — berabad-abad sebelum kemerdekaan
Indonesia — dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh
kedalaman rasa yang bioritmik. Sama-sama mendengar detak semesta dalam dirinya,
dan diteguhkan dalam hidup berpedoman pada kalender Wuku dan sasih yang sama.
Leluhur Nusantara di berbagai pulau, tanpa disadari, bertemu secara bioritma.
Kalender Wuku secara arkais berperan sebagai benang untaian
yang mempersatukan irama kehidupan rumpun masyarakat Sumatera, Sunda, Jawa,
Bali, Lombok, Sumba, Bima, Kei dstnya dalam ‘ritmik-kalenderik' yang sama.
Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta
pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara
periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan
‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga
berbagai mitologi yang melingkupinya.
Dalam mekanisme bioritmik ini leluhur menemukan hari baik
buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan, berkarya,
memenuhi panggilan ritus kehidupan ruhaniah.
Bioritma kalender Wuku secara ‘misterius’ menjadi salah-satu
pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, memberi andil dalam
membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang arkais di alam bawah sadar masyarakat
Nusantara.
*Tulisan BIORITMA
PEMERSATU NUSANTARA ini oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti, yang
menimbang ada keterkaitan antara Wuku dengan teori biorythm, terkhusus
kaitannya dengan apa yang dirumuskan oleh fisikawan Wilhelm Fliess.