Ketika
mara-bahaya agung melanda — tsunami, meteor jatuh, letusan mahadasyat gunung,
atau Covid-19 — leluhur Nusantara punya jawaban puncak: Sang Hyang Jāti-Karuṇā di
balik semuanya.
Apakah Sang Hyang Jāti-Karuṇā?
Jāti adalah
“kesejatian hakiki”. Karuṇā adalah “welas-asih universal”.
“Sang Hyang Jāti-Karuṇā” adalah titik temu tertinggi ajaran religi Śiwa-Buddha
dan religi-religi Nusantara mengenai konsep alam semesta, sebuah nama untuk
Kekuatan Tiada Terhingga yang menggerakan alam semesta beserta isinya, dari
dalam dan dari luar.
Sang Hyang Jāti-Karuṇā adalah “the universal force of love”, tenaga welas-asih
universal.
Kenapa bencana terkait dengan “the universal force of
love”?
Jāti-Karuṇā adalah kekuatan
yang menyusupi dan melingkupi semua alam semesta, sekaligus mengerakkan
fenomena yang beroperasi di alam semesta.
Jāti-Karuṇā wibawanya menembus dan menyusup kulit, tulang sumsum, detak
jantung, pikiran, getar hati, serta melampaui alam sadar dan ketaksadaran
manusia. — muṅguh
pwa sira niṅ śarīra, siṅ jro niṅ pusuh pusuh, pinakasthānanira.
Rasa cinta, welas-asih, yang ada dalam diri manusia
adalah partikel-partikel yang bisa diamati atau wujud kehadiran yang bisa
dirasakan oleh manusia atas keberadaan Sang Hyang Jāti-Karuṇā.
Manusia merasakan cinta yang personal, cinta keluarga,
welas-asih sesama; ini adalah bentuk-bentuk kekuatan Sang Hyang
Jāti-Karuṇā yang hadir dalam
diri manusia; ini menjadi pengatur relasi atau hubungan dengan sesama; ini
menjadi “magnet dan gravitasi” yang mengatur relasi manusia secara universal.
Kalau lebih jauh “diturunkan” Jāti-Karuṇā hadir dalam kehidupan kita dalam bentuk karuṇā, lalu menjadi “cinta” yang menggebu — tresna-asih.
Bencana di tataran hubungan antara manusia sering muncul oleh “maya” atau ilusi
dari karuṇā ini. Jika tidak bisa dikendalikan, bisa
terjadi akar keretakan antar manusia. Jika kuatan “cinta” terbuka di hati
manusia, dan tidak terkendali, manusia akan mengalami dan merasa rasa ditolak,
diam-diam merasa kehilangan harapan dan sakit hati, ini menjadi mara-bencana
bagi yang mengalaminya. Stress dan rontok daya hidupnya, trauma seumur hidup,
dan seterusnya.
Jika ilusi dari kekuatan Jāti-Karuṇā tidak terkendali, berubah menjadi marabahaya; membara menjadi api
amarah dan kebencian. Ada banyak kisah cinta berujung kematian dan perang —
disulut oleh energi “maya” Jāti-Karuṇā. Ini bukan kesejatian karuṇā, tapi ilusinya.
Sepanjang masih terkendali tidak akan bertentangan dengan jalinan relasi
kemanusiaan kita, tapi kalau tidak terkendali akan berbalik menjadi marabahaya
antar manusia.
Jika “maya” ini bergerak liar di hati manusia, tidak terkendali,
maka meluber menjadi api benci, dstnya. Demikian juga di balik semua fenomena alam tsunami,
meteor jatuh, letusan mahadasyat gunung, atau Covid-19, ada Sang Hyang Jāti-Karuṇā. Energi mahadasyat Jāti-Karuṇā yang mengerakkan
putaran kosmik, oleh sesuatu dan lain hal, bisa meluber menjadi tidak
sepenuhnya terkendali.
Jāti-Karuṇā bekerja mengikat akar
pohon-pohon dengan air dan tanah. Ketika pohon-pohon ditebangi dan hutan
digundulkan, energi Jāti-Karuṇā lepas dan tidak terkendali. Maka
terjadilah banjir bandang, longsor dan runtuhnya perbukitan.
Seperti banjir bandang akibat lepas dan tidak terkendalinya
energi yang mengikat pohon, tanah, air dan perbukitan, demikianlah gelombang
kegaduhan antar manusia, kebencian yang menguasai dunia, dan tipisnya
welas-asih antar manusia, semuanya bergema ke langit, laut, udara, tanah, dan
semua partikel alam sekitar kita. Semakin besar gelombang kebencian dan
kegaduhan antar manusia, semakin tidak terkendali energi Jāti-Karuṇā yang bekerja menjaga
harmoni alam sekitar kita.
Dalam manuskrip-manuskrip kuno disebutkan: Kebencian diri yang
ditahan akan mengendap menyebabkan seseorang jatuh sakit; kebencian antar
sesama yang bertumpuk dan terus berlipat bergelombang menyebabkan muncul
bermacam penyakit menular dan wabah, serta bencana.
Jika kita bersikap berseberangan dengan hakikat Jāti-Karuṇā — welas-asih
yang hakiki tanpa batas — maka ia akan berpantul mengingatkan kita dengan
gelombang mara-bahaya. Jika kita bekerja selaras dengannya, maka ia akan
mendukung sepenuh perjalanan damai umat manusia.
Ajaran Sang Hyang Jāti-Karuṇā mengatakan bahwa
tindakan kebajikan dan perbuatan welas-asih adalah generator energi untuk
menyembuhkan dunia. Jika kebajikan dan welas asih universal terus diputar oleh
semua manusia, maka energi karuṇā akan berlipat dan
bekerja di alam raya selaras dengan energi magnet (tarik-menarik), cahaya
(terang), gravitasi (keseimbangan) — harmonilah alam raya.
Dengan memahami prinsip ajaran Jāti-Karuṇā manusia akan dapat “mengendalikan”
kekuatan alam semesta untuk mendukung kehidupan di dunia yang damai penuh
welas-asih.
Ajaran Jāti-Karuṇā bukan hanya pedoman untuk bertahan hidup dalam harmoni,
tapi juga pegangan untuk menemukan makna terdalam dari kehidupan dan penciptaan
kosmik. Sanghyang Jāti-Karuṇā adalah jawaban puncak atas semua misteri kehidupan
karena ia adalah intisari kehidupan.
Setiap manusia adalah generator cinta universal dan
welas-asih — Karuṇā, Jāti-Karuṇā, Sanghyang Jāti-Karuṇā. Jika tidak diputar
maka ia akan berkarat dan menjadi residu yang otomatis menimbulkan malas gerak,
berat hati, cepat tersinggung, benci hati, dan mudah sakit hati. Jika diputar
generator welas-asih, hati manusia akan lapang — terjadi proses penyucian dan
pemurnian berkerja diam-diam dalam diri manusia.
Dengan memutar generator welas-asih yang ada di dalam diri kita masing-masing, kita terlibat dan turut serta bekerja memperbesar gelombang kebajikan Jāti-Karuṇā. Sekecil apapun putaran welas-asih, sesuai dharma masing-masing, akan berkontribusi memperbesar gelombang energi kebajikan Jāti-Karuṇā di sekitar kita, sumber harmoni manusia dan alam semesta. [T]
Catatan Harian Sugi Lanus, 20 April 2020
*Catatan ini
adalah “resume” kecil atas pembacaan kitab Kalpabuddha dan Jñānasiddhânta,
dua kitab kuno religi Nusantara, yang menyebutkan intisari terdalam dari
kehidupan adalah Sang Hyang Buddha-jāti-Karuṇā dan Sang Hyang
Siwa-jāti-Karuṇā.