I Gde Nyana Kesuma; Puisi-puisi di Masa Pandemi

Gde Nyana Kesuma
by Gde Nyana Kesuma — April 19, 2020 in Puisi

Tatkala.co

HARAPAN


Berharap semua ini hanya mimpi

Ternyata sungguh nyata


Sesuatu yang kecil

Tak terbayangkan ada

Tapi menyerang


Setiap hari kian bertambah

Entah kapan berkurang

Entah kapan sirna


Begitu banyak dari kita

Berpulang

Sesuatu yang kecil

Tak terbayangkan ada

Tapi menyerang

Seperti pikiran buruk


Cepatlah menghilang

Tinggalkan semua ini

Jangan pernah kembali lagi

Pulihkan bumi

Pulihkan kehidupan

Kembalikan kebahagian

Kembalikan semuanya

Yang suharusnya dapat kami jalani


Dan ingatlah

Harapan ini

Jangan dikabulkan

hanya lewat mimpi


RINDU DALAM BELENGGU


Dilanda rindu

Rindu ingin bertemu

Rindu ingin berkumpul

Menikmati senja yang menawan

Menikmati pagi yang sejuk

Tanpa bayang-bayang kegelisahan

Yang senantiasa menahan langkah kaki


Di rumah saja

Seperti dalam kurungan

Berjalan-jalan dalam pikiran sendiri

Tanda kehidupan masih tercapai


Apalah daya di masa kini

Diam di rumah

Tanpa berkumpul

Dengan teman dan sahabat


Di rumah saja

Cuci tanganmu selalu

Agar masa bahagia ditemukan nanti

Setelah kegelapan ini sirna


MAU TAK MAU


Puja

Puja mantra

Melekat dalam alam sadarku

Mengiringi setiap langkah

Setiap aku keluar rumah


Rumah yang kecil

Di tengah suasana bahagia dalam keseharian

Rasa takut itu melekat

Takut pada udara di luar


Tapi

Anakku istri dan keluarga

Mau makan apa?


Dalam risau hati

Dalam gelap kegelisahan

Yang senantiasa membayangi bumi ini

Cepatlah pulih

Bangkitlah bumiku

Seperti sediakala


Agar udara di rumah

Dan di luar rumah

Tetap sama

Memberi semangat


PERJUANGAN


Segarnya udara pagi

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya

Di mana asap-asap memenuhi langit

Biru yang terang pun berubah menjadi kegelapan

Inilah yang dinamakan perubahan

Perubahan yang kekal abadi kata orang

Perubahan yang merubah pola pikir

Perubahan yang mengajarkan arti hidup sebenarnnya


Istirahatlah sejenak

Renungkan otak yang mulai kusut

Berputar seribukali dalam belenggu

Jawablah dengan kedisiplinan

Disiplin yang tinggi


Berdiam diri tanpa keluhan

Nikmati apa yang ada

Dan terus berjuang menyambung hidup

Hidup yang masih panjang

Untuk menyambung kebahagiaan


BIJAK


Bijaklah dalam mendengar

Bijaklah dalam meneruskan

Bijaklah dalam melihat

Wahai kaula-kaula masa kini

Tua, muda dan anak-anak

Yang gemar bermain jari jemari


Putar kanan

Putar kiri


Hingga bahagia itu datang

Senyum lebar tanpa beban

Raut wajah senang

Namun ingatlah

Bijak dalam meneruskan

Pikir dahulu

Bukan masalah bijaksana bijaksini

Hingga membuat kekhawatiran

Kepanikan yang tak menentu

Membunuh rasa manusiawi


PIMPINAN PEMIMPIN

Hormatku tak kan pernah padam

Kau yang selalu menjadi panutan

Pemimpin yang sejuk

Sesejuk udara pagi saat ini

Tangismu pun tak ada yang tahu

Lelah dan letihmu apalagi

Kau kubur dalam denyut nadimu

Biarlah mereka yang menghujatmu

Jangan pernah hiraukan

Kuatlah untuk melawan semua

Kelak jikalau musuh telah pergi

Menjauhi bumi ini

Hujan pujian akan menghampirimu

Tanpa reda akan terus mengalir

Mengubur semua anggapan

Yang ingin menikammu dalam belenggu

Teruslah berjuang untuk nusantara

Wahai, presidenku


PAHLAWAN MASA KINI

 


Setiamu menjadi taruhan

Setia itu nyawamu

Tak ada kata mengeluh

Mengeluh lapar

Minta makan

Minta sembako

Apalagi hanya setetes air

Namun saat rindu datang

Kupastikan air matamu mengalir

Mengalir deras sederas air hujan

Lelah terbayarkan dengan pelukan

Pelukan hangat yang diharapkan

Akan tetapi jika kau berpulang

Ada juga yang mengecam

Tak mau menerima

Entah di mana pola pikirnya

Jasamu yang berjuang seakan sirna

Ditelan oleh kecaman primitif

Kuatlah pahlawan masa kini

Perjuanganmu akan selalu dikenang

Dalam mimpi atau kehidupan nyata


NUSANTARA


Nusantara

Apa kabarmu?

Baik atau buruk

Dirasa semua sudah tahu

Nusantara ku sedang berduka

Terasa gelap meski matahari setia bersinar

Kuatlah nusantara

Figur kebanggan pun menangis

Menangis dalam sendu

Akan tetapi beliau bersembunyi

Agar masyarakat mu tak ada yang tahu

Sungguh mulia hatinya

Berjuang dalam kecaman

Dalam caci dan cibir kata

Raut wajah yang mulai pucat

Seakan pertanda perlawanan melemah

Tapi sesungguhnya tak ada yang tahu

Kekuatan yang tak pernah lekang

Adalah persatuan

Tag: Puisi
Avatar

Gde Nyana Kesuma

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More