Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Berharap semua ini hanya mimpi
Ternyata sungguh nyata
Sesuatu yang kecil
Tak terbayangkan ada
Tapi menyerang
Setiap hari kian bertambah
Entah kapan berkurang
Entah kapan sirna
Begitu banyak dari kita
Berpulang
Sesuatu yang kecil
Tak terbayangkan ada
Tapi menyerang
Seperti pikiran buruk
Cepatlah menghilang
Tinggalkan semua ini
Jangan pernah kembali lagi
Pulihkan bumi
Pulihkan kehidupan
Kembalikan kebahagian
Kembalikan semuanya
Yang suharusnya dapat kami jalani
Dan ingatlah
Harapan ini
Jangan dikabulkan
hanya lewat mimpi
Dilanda rindu
Rindu ingin bertemu
Rindu ingin berkumpul
Menikmati senja yang menawan
Menikmati pagi yang sejuk
Tanpa bayang-bayang kegelisahan
Yang senantiasa menahan langkah kaki
Di rumah saja
Seperti dalam kurungan
Berjalan-jalan dalam pikiran sendiri
Tanda kehidupan masih tercapai
Apalah daya di masa kini
Diam di rumah
Tanpa berkumpul
Dengan teman dan sahabat
Di rumah saja
Cuci tanganmu selalu
Agar masa bahagia ditemukan nanti
Setelah kegelapan ini sirna
Puja
Puja mantra
Melekat dalam alam sadarku
Mengiringi setiap langkah
Setiap aku keluar rumah
Rumah yang kecil
Di tengah suasana bahagia dalam keseharian
Rasa takut itu melekat
Takut pada udara di luar
Tapi
Anakku istri dan keluarga
Mau makan apa?
Dalam risau hati
Dalam gelap kegelisahan
Yang senantiasa membayangi bumi ini
Cepatlah pulih
Bangkitlah bumiku
Seperti sediakala
Agar udara di rumah
Dan di luar rumah
Tetap sama
Memberi semangat
Segarnya udara pagi
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya
Di mana asap-asap memenuhi langit
Biru yang terang pun berubah menjadi kegelapan
Inilah yang dinamakan perubahan
Perubahan yang kekal abadi kata orang
Perubahan yang merubah pola pikir
Perubahan yang mengajarkan arti hidup sebenarnnya
Istirahatlah sejenak
Renungkan otak yang mulai kusut
Berputar seribukali dalam belenggu
Jawablah dengan kedisiplinan
Disiplin yang tinggi
Berdiam diri tanpa keluhan
Nikmati apa yang ada
Dan terus berjuang menyambung hidup
Hidup yang masih panjang
Untuk menyambung kebahagiaan
Bijaklah dalam mendengar
Bijaklah dalam meneruskan
Bijaklah dalam melihat
Wahai kaula-kaula masa kini
Tua, muda dan anak-anak
Yang gemar bermain jari jemari
Putar kanan
Putar kiri
Hingga bahagia itu datang
Senyum lebar tanpa beban
Raut wajah senang
Namun ingatlah
Bijak dalam meneruskan
Pikir dahulu
Bukan masalah bijaksana bijaksini
Hingga membuat kekhawatiran
Kepanikan yang tak menentu
Membunuh rasa manusiawi
Hormatku tak kan pernah padam
Kau yang selalu menjadi panutan
Pemimpin yang sejuk
Sesejuk udara pagi saat ini
Tangismu pun tak ada yang tahu
Lelah dan letihmu apalagi
Kau kubur dalam denyut nadimu
Biarlah mereka yang menghujatmu
Jangan pernah hiraukan
Kuatlah untuk melawan semua
Kelak jikalau musuh telah pergi
Menjauhi bumi ini
Hujan pujian akan menghampirimu
Tanpa reda akan terus mengalir
Mengubur semua anggapan
Yang ingin menikammu dalam belenggu
Teruslah berjuang untuk nusantara
Wahai, presidenku
Setiamu menjadi taruhan
Setia itu nyawamu
Tak ada kata mengeluh
Mengeluh lapar
Minta makan
Minta sembako
Apalagi hanya setetes air
Namun saat rindu datang
Kupastikan air matamu mengalir
Mengalir deras sederas air hujan
Lelah terbayarkan dengan pelukan
Pelukan hangat yang diharapkan
Akan tetapi jika kau berpulang
Ada juga yang mengecam
Tak mau menerima
Entah di mana pola pikirnya
Jasamu yang berjuang seakan sirna
Ditelan oleh kecaman primitif
Kuatlah pahlawan masa kini
Perjuanganmu akan selalu dikenang
Dalam mimpi atau kehidupan nyata
Nusantara
Apa kabarmu?
Baik atau buruk
Dirasa semua sudah tahu
Nusantara ku sedang berduka
Terasa gelap meski matahari setia bersinar
Kuatlah nusantara
Figur kebanggan pun menangis
Menangis dalam sendu
Akan tetapi beliau bersembunyi
Agar masyarakat mu tak ada yang tahu
Sungguh mulia hatinya
Berjuang dalam kecaman
Dalam caci dan cibir kata
Raut wajah yang mulai pucat
Seakan pertanda perlawanan melemah
Tapi sesungguhnya tak ada yang tahu
Kekuatan yang tak pernah lekang
Adalah persatuan
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...