Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Tak sengaja, meski kerap terjadi, saya bertemu pengetahuan lokal yang penuh kebijakan. Ini terjadi, mulanya, saya hanya hendak menyatakan akan suka kedamaian suasana alam, saat melihat asiknya seorang petani, di Subak Ganggangan, Penebel, Tabanan, Bali..
Petani itu, menurut saya, memang punya kecerdasan managemen lokal dalam ketahanan pangan dan keuangan. Sebagai petani penggarap, ia kini berhasil memiliki ketahanan pangan dengan stok padi sepanjang tahun dan ternak sapi dan kerbau yang cukup banyak.
Sapi dan kerbaunya semua telah dilatih membajak sawah. Juga sapinya bisa terus beranak pinak kedepannya. Salah satu kalimat menarik dari petani itu, "Hingga kini saya belum pernah membeli beras meskipun saya sudah prediksi akan pacekilik 1.5 tahun karena musim kemarau beberapa waktu lalu!”.
Lalu ia menjelaskan hidupnya yang sederhana, cukup, dan tenang.

Meskipun ia petani penggarap, namun hasil panen yang ia simpan di lumbung, dijual seperlunya saja untuk stok uang belanja. Jika hasil panen dari sawah yang digarap 1.5 hekatar itu sebagai petani pengarap dapat hasil panen setengahnya, yaitu 75 are , jika dijual semua, maka bisa habis setelah jadi uang.
“Sebab pipise nak bisa kecog-kecog nike laut saget telas!” katanya. Artinya, uang bisa loncat sendiri, tak terasa, tiba-tiba sudah habis.
“Yening kari padi tileh nike kan dados selip dadosan tiang baas. Yening ajeng dogen sareng keluarga buin atiban ten telas nike ngantos nepuk panen buin ping pendo nike!"
Terjemahan bebasnya, kalau padi disisakan, tinggal olah saja jadi beras. Kalau dimakan sekeluarga tak akan habis selama setahun, sampai bertemu panen lagi berikutnya.
Ia memang petani yang jenaka. Ketenangan membuat rasa humorya tumbuh dan stres hilang entah ke mana.
“Semeng, atinjakan samput, tiang sampun bangun, sawatara jam 6 semeng sampun ke carik ngarit 3 keranjang ngantos jam 9 pagi sampun puput. Jam 9.30 sampun ngopi jumah, dan bisa garap yang lainnya!”
Terjemahan bebasnya: pagi, sekali terjangan selimat, saya sudah bangun, sekitar jam 6 sudah ke sawah menyabit rumput 3 keranjang, sampai jam 9 semuanya sudah selesai. Jam 9.30 sudah ngopi di rumah dan bisa garap kerjaan lain.

Ia melanjutkan, jam 3 ia balik ke sawah menyabit rumput 2 keranjang. Satu hari memerlukan 5 keranjang rumput untuk 5 ekor sapi dan kerbaunya. Rumput tiada pernah kurang, rumput ini laba bagi dia.
Selain itu, sapi dan kerbau semua bisa dan terlatih mebajak bisa sampai membajak seluas 4.5 hektar .”Seluas itu saya membajak sawah dikawasan ini istilahnya buruh bajak sawah hasilnya per are saya nikmati tinggal dijumlahkan dengan luasnya. Hasil buruh bajak sawah berupa uang cash kami simpan,,” katanya.
Rejeki berupa uang kini bisa disimpan, juga yang berupa padi. Selebihnya ia bisa tiduran di sebelah kandang sambil melihat Gunung Batukaru, Gunung Batur dan Gunung Agung. “Kadang jika rindu kedamain di sini jam 2 menjelang pagi saya kesini disawah ini memang terasa damai...,” katanya.

Beliau tersenyum damai. Dan sangat mencintai pertanian dan peternakannya Harganya jangan ditanya seharga motor yang modis keluaran terbaru seekornya. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...