Bali sudah
memasuki minggu ke-2 memberlakukan Peningkatan Kewaspadaan Penyebaran Penyakit
Akibat Corona Virus (COVID-19) yang dilakukan dengan penerbitan Surat Edaran
(SE) No. 2717 Tahun 2020 yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Provinsi
Bali Dewa Made Indra tertanggal 16 Maret 2020. Surat ini juga disusul juga dengan
Surat Edaran dari Gubernur Bali No. 7194 Tahun 2020 tentang Panduan Tindak
Lanjut Terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di
Lingkungan Pemerintah Provinsi Bali yang pada pokok pembahasannya melakukan
pembatasan aktivitas yang melibatkan banyak orang yang berlaku mulai 16 s/d 30
Maret 2020.
Corona Virus ini
berhasil membuat berbagai lapisan masyarakat di Bali saling berspekulasi,
apalagi virus ini merebak menjelang perayaan Hari Raya Suci Nyepi yang sehari
sebelumnya biasa dilakukan pawai Ogoh-Ogoh. Walaupun pada akhirnya pawai
Ogoh-Ogoh urung dilaksanakan karena terbit surat berbagai instansi mulai
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Desa Adat (MDA) dan Pemerintah
Daerah agar pawai Ogoh-Ogoh tidak dilaksanakan. Tetapi hal ini telah berhasil
memantik berbagai pro dan kontra di lapisan masyarakat bawah.
Banyak
pemuda-pemuda yang menganggap bahwa kreativitasnya tidak dihargai jika pawai
ogoh-ogoh tidak dilaksanakan. Nyatanya, pawai ogoh-ogoh beberapa kali
mendapatkan pembatasan bahkan pelarangan oleh pemerintah. Salah satunya akibat
pelaksanaan pawai ogoh-ogoh berdekatan dengan pelaksanaan Pemilu sehingga pawai
ogoh-ogoh memiliki potensi untuk menimbulkan gesekan antar kelompok masyarakat.
Di Bali sendiri,
kasus pertama yang terungkap terkait dengan kasus (COVID-19) pada 11 Maret 2020
yaitu Warga Negara Asing (WNA) asal Inggris berusia 53 tahun. Mulai dari sana
pemerintah mulai getol memberitakan perkembangan kasus ini ke khalayak ramai,
tetapi belum banyak inovasi yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah terlihat
monoton dalam penanganan kasus ini. Mulai dari pemberlakuan WFH (work from home)
kepada jajaran OPD yang ada di seluruh wilayah Bali hingga Lockdown yang
dilakukan di wilayah Provinsi Bali sehari setelah Nyepi yang berbekal surat
intruksi dari masing-masing pemimpin wilayah (baca: bupati/walikota).
Selain itu tak
nampak lagi inovasi pemerintah daerah dalam menangani kasus COVID-19 ini.
Selain itu transparansi terhadap daerah yang rawan akan penyebaran virus ini
khususnya di Bali pun belum ada. Hanya jumlah-jumlah terkait dengan virus ini
saja yang diungkap oleh pemerintah.
Berangkat dari
daerah lain, bagi masyarakat sangatlah penting dalam menyebarluaskan wilayah
yang sudah terpapar COVID-19 di Bali, agar masyarakat lebih waspada ketika
terpaksa keluar rumah untuk mengerjakan sesuatu yang mendesak. Alat Pelindung
Diri untuk masyarakat keberadaannya juga sekarang cukup langka seperti masker,
sanitasi tangan (hand sanitizer), dan lainnya.
Pariwisata Bali Anjlok
Mewabahnya Corona
Virus tak hanya di Indonesia melainkan di berbagai negara belahan dunia mana
pun, membuat tingkat kunjungan wisatawan ke Bali menurun secara pesat. Banyak
kamar hotel yang kosong akibat virus ini yang memberikan dampak lebih parah
kepada masyarakat Bali yang bekerja di sektor pariwisata. Banyak dari mereka
yang terpaksa harus di rumahkan oleh perusahaannya (hotel, restoran, villa,
dll) karena tak mampu menutupi biaya operasional. Hal ini tentu menjadi pukulan
telak bagi Bali yang hampir 60% pendapatannya berasal dari sektor pariwisata.
Menyikapi hal
ini, pemerintah bergerak cepat melakukan kerja sama dengan Bank Indonesia untuk
memberikan keringanan biaya bagi para karyawan yang nasibnya kurang baik karena
terkena kebijakan di rumahkan karena virus ini. Namun dibalik itu semua,
nampaknya kita perlu belajar untuk tidak memfokuskan diri hanya pada sektor
pariwisata saja. Memang benar, Bali tak memiliki Sumber Daya Alam seperti emas,
perak, batu bara, dan lainnya. Tetapi Bali masih memiliki Sumber Daya Manusia
yang bisa diandalkan untuk membuat berbagai kreativitas dan inovasi di berbagai
sektor. Sehingga ekonomi tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata saja.
Ekonomi kreatif
menjadi salah satu alternatif yang tengah digandrungi anak muda di kota
Denpasar dan sekitarnya. Membuat start up, membangun komunitas yang
berdampak pada ekonomi harus juga diberikan perhatian lebih oleh pemerintah.
Tidak hanya ekonomi kreatif saja, sektor pertanian dan kemaritiman patut
diberikan ruang yang lebih besar lagi untuk memberikan kontribusi terhadap
ekonomi di Bali. Jangan lagi hanya digunakan sebagai sektor penunjang bagi
pariwisata saja. melainkan semua sektor ini bisa saling berdiri mandiri satu
sama lain. Agar tak menyebabkan penurunan ekonomi yang jomplang ketika berbagai
ujian menyerang Bali. Karena sampai hari ini, Bali belum memiliki prosedur
mitigasi yang jelas, khususnya bencana alam karena Bali sangat rentan terkena
bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, dll.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah provinsi Bali untuk segera merilis peta sebaran kasus COVID-19 di Bali agar lebih meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang tidak bisa melakukan work from home seperti himbauan dari pemerintah. Dan perlu juga nampaknya pemerintah memikirkan bagaimana langkah konkrit pemulihan terhadap sektor pariwisata Bali setelah wabah COVID-19 di Bali mereda dan mencoba untuk memberikan perhatian dengan porsi yang sama kepada sektor perekonomian yang lain. [T]
Denpasar, 28 Maret 2020