Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
“Setiap orang mampu mengatasi kesulitan, namun kalau mau melihat tabiat asli seseorang, berilah ia kekuasaan.” (Abraham Lincoln)
Lincoln punya cara cerdas mengukur karakter seseorang, gagasan yang luput dari kecermatan sebagian besar orang. Karena tak mungkin setiap orang akan menjadi penguasa, maka karakter sebuah bangsa akan ditentukan oleh rakyatnya, saat mana mereka menghadapi bencana kolektif, sebuah wabah misalnya. Adakah mereka akan tulus berpadu dalam kesedihan ataukah darinya ada yang menyelinap berbahagia mengambil keuntungan dari musibah ini?
Ah..., rupanya mereka-mereka yang terakhir inilah yang telah punya kuasa untuk berlaku tega dan menampakkan tabiat asli mereka. Presiden AS ke-16 ini tepat, kekuasaan yang dirampas dari kegelapan sungguh-sungguh akurat menunjukkan tabiat buruk seseorang. Bagaimanapun, mereka saudara-saudara kita juga.
Presiden pertama RI, Bung Karno pun begitu visioner, begini ucapnya, “Tugas kami lebih mudah karena melawan bangsa penjajah. Tugas kalian kelak akan jauh lebih berat karena harus menghadapi bangsamu sendiri.”
Ya, saat saudara-saudara kita, dewasa ini meneror bangsa sendiri dengan kejahatan informasi bernama hoax. Jika pembaca setuju, masalah serius bangsa kita saat ini tentulah narkoba, terorisme/radikalisme dan hoax, menggelantungi pundak pemerintah yang telah doyong menanggung beban masalah ekonomi/lapangan kerja, pendidikan dan korupsi. Berbagai berita hoax telah dirancang dengan kecerdasan dan kecermatan tinggi demi meraup laba ekonomi dan politik. Dengan sendirinya ada kerugian intelektual dan peradaban bernama literasi yang mesti ditanggung oleh bangsa ini. Bagaimanapun, toh mereka saudara-saudara kita juga.
Virus Corona baru yang telah menyebabkan pandemi Covid-19, mungkin saja ramalan dari kedua tokoh besar dunia itu, Lincoln dan Bung Karno. Penderitaan dan kemewahan adalah sepasang opsi yang sepertinya dengan mudah dapat kita pilih, namun nyatanya tidaklah demikian. Apalagi saat keduanya masih kita jebak dalam bingkai persepsi yang telah kita ciptakan dengan egois. Bagaimana mungkin, minat kita hanya untuk kemewahan belaka jika bumi ini memiliki kutub utara dan kutub selatan serta waktu yang kita lalui akan selalu melewati siang dan malam?
Lalu ke manakah penderitaan harus pulang? Penderitaan hadir saat kita semua tampak sama, wajah tersembunyi dibalik masker dan hanya mampu berkata tentang rasa takut dari pancaran mata kita. Rasa ngeri kolektif yang telah menjauhkan kita dari segala kemewahan lalu membawa pada kebutuhan yang paling sederhana, kehidupan yang damai tanpa rasa takut. Maka, walau samar, kita tentu dapat melihat dengan mata hati, oh... penderitaan telah membawa pencerahan kepada kita sebagai saudara sebangsa.
Kematian -- tanpa tedeng aling-aling -- Covid-19 begitu lugas menyampaikan maksud kedatangannya. Kita pun lari tunggang langgang dibuatnya, melindungi nyawa kita masing-masing dengan cara dan gaya yang heboh serta berisik. Begitulah, kepanikan lebih mengemuka ketimbang kewaspadaan. Kewaspadaan yang tentu saja lebih efektif dalam situasi gawat seperti ini. Kepanikan selalu merujuk pada keadaan yang tidak sehat, sementara kewaspadaan akan selalu didorong oleh pengetahuan dan kecerdasan.
Oleh karena itulah, panik itu sendiri sebetulnya butuh terapi dan tentu saja takkan pernah menjadi solusi untuk sebuah masalah. Sebaliknya waspada merupakan fenomena fisiologis penjaga keseimbangan tubuh dan pikiran, satu syarat kelestarian hidup.
Negeri ini sungguh telah dilanda kepanikan akibat wabah virus Corona yang belum juga usai hingga detik ini. Kita panik, heboh dan berisik berburu masker, hand sanitizer atau multi vitamin. Bahkan sekonyong-konyong, jahe, kunyit dan temulawak pun sulit lagi didapatkan. Gaya-gaya rebutan model begini telah melanggar prinsip kewaspadaan paling mendasar, yang seharusnya sangat efektif, yaitu penjagaan jarak dengan orang lain sebagai program physical distancing. Sementara hal-hal yang diperebutkan belum tentu memberi manfaat seperti yang dibayangkan.
Bagaimanapun, itu semua dilakukan oleh anak bangsa saudara-saudara kita sendiri. Yang telah melalaikan peradaban literasi yang seharusnya menuntun kita pada kewaspadaan bukan menjerumuskan pada kepanikan. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...