Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
“Setiap orang mampu mengatasi kesulitan, namun kalau mau melihat tabiat asli seseorang, berilah ia kekuasaan.” (Abraham Lincoln)
Lincoln punya cara cerdas mengukur karakter seseorang, gagasan yang luput dari kecermatan sebagian besar orang. Karena tak mungkin setiap orang akan menjadi penguasa, maka karakter sebuah bangsa akan ditentukan oleh rakyatnya, saat mana mereka menghadapi bencana kolektif, sebuah wabah misalnya. Adakah mereka akan tulus berpadu dalam kesedihan ataukah darinya ada yang menyelinap berbahagia mengambil keuntungan dari musibah ini?
Ah..., rupanya mereka-mereka yang terakhir inilah yang telah punya kuasa untuk berlaku tega dan menampakkan tabiat asli mereka. Presiden AS ke-16 ini tepat, kekuasaan yang dirampas dari kegelapan sungguh-sungguh akurat menunjukkan tabiat buruk seseorang. Bagaimanapun, mereka saudara-saudara kita juga.
Presiden pertama RI, Bung Karno pun begitu visioner, begini ucapnya, “Tugas kami lebih mudah karena melawan bangsa penjajah. Tugas kalian kelak akan jauh lebih berat karena harus menghadapi bangsamu sendiri.”
Ya, saat saudara-saudara kita, dewasa ini meneror bangsa sendiri dengan kejahatan informasi bernama hoax. Jika pembaca setuju, masalah serius bangsa kita saat ini tentulah narkoba, terorisme/radikalisme dan hoax, menggelantungi pundak pemerintah yang telah doyong menanggung beban masalah ekonomi/lapangan kerja, pendidikan dan korupsi. Berbagai berita hoax telah dirancang dengan kecerdasan dan kecermatan tinggi demi meraup laba ekonomi dan politik. Dengan sendirinya ada kerugian intelektual dan peradaban bernama literasi yang mesti ditanggung oleh bangsa ini. Bagaimanapun, toh mereka saudara-saudara kita juga.
Virus Corona baru yang telah menyebabkan pandemi Covid-19, mungkin saja ramalan dari kedua tokoh besar dunia itu, Lincoln dan Bung Karno. Penderitaan dan kemewahan adalah sepasang opsi yang sepertinya dengan mudah dapat kita pilih, namun nyatanya tidaklah demikian. Apalagi saat keduanya masih kita jebak dalam bingkai persepsi yang telah kita ciptakan dengan egois. Bagaimana mungkin, minat kita hanya untuk kemewahan belaka jika bumi ini memiliki kutub utara dan kutub selatan serta waktu yang kita lalui akan selalu melewati siang dan malam?
Lalu ke manakah penderitaan harus pulang? Penderitaan hadir saat kita semua tampak sama, wajah tersembunyi dibalik masker dan hanya mampu berkata tentang rasa takut dari pancaran mata kita. Rasa ngeri kolektif yang telah menjauhkan kita dari segala kemewahan lalu membawa pada kebutuhan yang paling sederhana, kehidupan yang damai tanpa rasa takut. Maka, walau samar, kita tentu dapat melihat dengan mata hati, oh... penderitaan telah membawa pencerahan kepada kita sebagai saudara sebangsa.
Kematian -- tanpa tedeng aling-aling -- Covid-19 begitu lugas menyampaikan maksud kedatangannya. Kita pun lari tunggang langgang dibuatnya, melindungi nyawa kita masing-masing dengan cara dan gaya yang heboh serta berisik. Begitulah, kepanikan lebih mengemuka ketimbang kewaspadaan. Kewaspadaan yang tentu saja lebih efektif dalam situasi gawat seperti ini. Kepanikan selalu merujuk pada keadaan yang tidak sehat, sementara kewaspadaan akan selalu didorong oleh pengetahuan dan kecerdasan.
Oleh karena itulah, panik itu sendiri sebetulnya butuh terapi dan tentu saja takkan pernah menjadi solusi untuk sebuah masalah. Sebaliknya waspada merupakan fenomena fisiologis penjaga keseimbangan tubuh dan pikiran, satu syarat kelestarian hidup.
Negeri ini sungguh telah dilanda kepanikan akibat wabah virus Corona yang belum juga usai hingga detik ini. Kita panik, heboh dan berisik berburu masker, hand sanitizer atau multi vitamin. Bahkan sekonyong-konyong, jahe, kunyit dan temulawak pun sulit lagi didapatkan. Gaya-gaya rebutan model begini telah melanggar prinsip kewaspadaan paling mendasar, yang seharusnya sangat efektif, yaitu penjagaan jarak dengan orang lain sebagai program physical distancing. Sementara hal-hal yang diperebutkan belum tentu memberi manfaat seperti yang dibayangkan.
Bagaimanapun, itu semua dilakukan oleh anak bangsa saudara-saudara kita sendiri. Yang telah melalaikan peradaban literasi yang seharusnya menuntun kita pada kewaspadaan bukan menjerumuskan pada kepanikan. [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...