Cerpen Wayan Martino
Di sebuah desa kecil di balik Gunung A,
tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia
seorang pengumpul kayu bakar, saban hari masuk - keluar hutan, pergi saat pagi
dan pulang menjelang malam. Di antara orang-orang desa, dia dikenal dengan kepolosannya.
Hampir semua orang mengenal dirinya, entah karena keramahannya atau karena
selalu terlihat tersenyum. Namun ia punya satu rahasia, yang tak sembarang
orang tahu dan memahaminya, Ia bisa berbicara dengan pohon. Juga baginya pohon
seperti seorang ayah, sekaligus ibunya. Sejak lahir ia tak mengenal orang tua,
Ia tumbuh dan besar bersama sang nenek.
Suatu hari sebelum matahari terbenam, saat
jingga mewarnai langit, usai mengumpulkan dua ikat kayu bakar, Ia duduk seorang
diri di sudut desa. Di sebuah tanah lapang yang serupa bukit kecil, tempat yang
dikelilingi oleh pertemuan dua sungai. Tempat dimana ia bisa melihat desanya
secara menyeluruh dari ketinggian.
Di hadapannya berdiri satu pohon besar,
kokoh dan berdaun lebat, menurut orang-orang usianya lebih dari seratus tahun.
Di bawah tarian ranting yang dihembuskan angin, dalam pikiran tenang yang tak
pernah terusik oleh lelah fisik, Ia menundukkan kepala pada Sang Pohon.
"Ayah, Kau begitu mulia, tenang dan
sempurna. Seandainya saja aku bisa membalas kebaikan-Mu, belasan tahun telah
menjadi teman berkeluh kesah, menjadi sandaran bagi tubuh yang rentan ini.
Bolehkah aku sekali ini menginap, tidur dalam pelukanmu, Ayah? Menemani
kesendirianmu saat bulan mati, menatapmu bersama pijar-pijar bintang di malam
terakhir Sasih Kesana," gumamnya pada pohon.
"Anakku, tidak ada yang harus kamu
balas. Tak pernah kuharapkan hal seperti itu, padamu atau pada siapapun. Aku
tak mengenal kebaikan begitu juga keburukan dalam bahasa mu. Karena aku
tercipta sebagai pohon, maka sudah semestinya menjalankan kehidupan sebagai
pohon. Pohon tua ini atau pohon lainnya yang berjejer di atas bukit sana
mungkin telah menyaring udara kotor dan membuat kamu teduh, namun bisa saja
suatu saat kami tumbang disapu angin dan digerus air hujan, tak mampu lagi
menyangga tanah sehingga terperosok sampai ke desa dan melukai orang-orang.
Apakah di saat seperti itu kau akan menyebut kami buruk?
Demikian kaummu telah mengajarkan pikiran
dan tubuh menilai hal baik dan buruk, tapi ketahuilah jiwa yang bersembunyi di
dalamnya, telah melampaui keduanya. Belajarlah pada yang di dalam.
Anakku, lihatlah langit, gelap segera
tiba. Seperti yang kau tahu saat matahari terbenam, aku tak lagi baik untuk
napasmu. Kau akan jatuh dan lemas jika bermalam di dekatku."
Pemuda tanggung itu menegakkan
punggungnya, berdiri menatap salah satu ranting yang paling besar dan tua, Ia
kembali mengungkapkan isi pikirannya.
"Hidup manusia begitu pendek dan
rapuh, rentan akan sakit dan tak luput dimakan usia. Kematian tak mampu diduga,
bisa saja besok, lusa, tiga hari lagi, atau selesai percakapan ini kematian
datang pada anak mu ini. Aku khawatir hari esok tak ada lagi, dan niatku untuk
membalas kemuliaan mu tak pernah tersampaikan.”
Ia diam sejenak, memikirkan kata yang
tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sang Pohon. “Esok adalah hari
pergantian tahun, aku berharap bisa menyambutnya terjaga seperti dirimu, tenang
tanpa keluhan dan sempurna tanpa cela. Bisakah engkau ajarkan cara menjadi
seperti dirimu, Ayah, Pohon Tua yang tiada henti memberi dan menjaga bumi?”
"Kamu tidak perlu belajar menjadi Aku
dalam fisik pohon seperti ini, bukankah sejak beratus-ratus tahun yang lampau
leluhur mu telah menuturkan secara terus menerus bahwa sesungguhnya Kamu adalah
Aku dalam fisik manusia.”
Pemuda tanggung mendekati Sang Pohon,
menyentuh akar yang paling besar dengan tangannya yang kasar dan hangat.
Sentuhan lembut dari telapak tangan yang bergambarkan guratan-guratan pengalaman,
bekas goresan tanggung jawab, yang menemaninya berkembang sampai saat ini.
“Ayah, aku tidak paham dengan maksudmu.”
Sejenak hening, udara sudah mulai berubah
dan menipis. Hembusan dingin angin gunung perlahan menyentuh kulit Si Pemuda
Tanggung.
Sang Pohon kembali melanjutkan. “Anakku,
sejenak kamu bayangkan isi dapur di rumah mu, lihatlah satu demi satu perkakas
yang terbuat dari tanah liat, meski semua dibentuk dari tanah namun setiap
perkakas memiliki fisik, warna dan fungsi yang berbeda. Kala tak lagi terpakai,
usang dan rusak, mereka kan kembali, melebur pada asalnya. Kita semua, sampai
saat ini dengan berbagai macam kesadaran telah terbentuk dari entitas yang
sama, suatu saat cepat atau lambat kan kembali pada asalnya, tanah, Ibu kita
semua.”
Nampak Si Pemuda tanggung mencoba
mencermati yang disampaikan pohon. Lalu ia masuk celah di antara dua akar
besar, duduk menyandarkan kepala dan punggungnya.
Sang Pohon melanjutkan. “Besok, saat
matahari terbit kamu bisa mulai mencoba sesuatu yang sederhana.”
Jagalah udara di sekitar mu agar ia
berhembus apa adanya, tanpa asap, tanpa nyala api. Sehingga paru-parumu dapat
menghirup napas semesta yang murni, hidungmu belajar memahami aroma hidup yang
mengaliri pohon-pohon, binatang, serangga dan benda mati di sekitarmu. Saat
malam tiba, bintang-bintang kan terlihat jelas, mereka tidak dikaburkan oleh
pijar lampu di sekitarmu. Biarlah mata belajar dari dalam, melihat dalam
kegelapan.
Cahaya dan mata membantumu untuk
membedakan segala sesuatunya, tapi mata yang rapuh membuat mu jatuh pada
gemerlapa, keindahan yang sementara. Kupu-kupu yang bertengger di atas bunga
mawar kau puji dengan kata-kata indah, tapi pada hari sebelumnya saat ulat
menempel di salah satu daun kau malah menghindar. Bukankah ulat dan kupu-kupu adalah
sentitas yang sama, hanya karena periode waktu yang sementara itu kamu
melihatnya dengan cara yang berbeda.
Berhenti sejenak dari rutinitas, biarlah
tubuh beristirahat. Seluruh bagian tubuh dan semua organ bergerak tanpa
tekanan. Pahami setiap aliran darah pada nadi, rasakan bagaimana jantung
berdetak dan usaha paru-paru membuat mu tetap bisa bernapas sampai saat ini.
Lakukan segala sesuatunya tanpa harus
bersuara. Ijinkan kedua telinga mendengar apa yang seharusnya mereka dengar,
bukan apa yang pikiran inginkan. Kau tahu, segala sesuatu di dunia ini, baik
yang hidup dan yang mati, semuanya menghasilkan suara dan tanda. Mereka selalu
berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja telinga manusia tak mampu menjangkau
semua bahasa dan semua tanda.
Terakhir, menyepilah untuk menjadi diri
sendiri, untuk tubuh dan pikiran, meski tak bisa kau hindari dalam keramaian.
Ku tahu ini sulit, namun hal itu satu cara untuk bisa menjadi Aku, seperti yang
kau niatkan. Dan saat udara telah murni, kau kan mencium aroma mahluk hidup,
tidak hanya aroma tubuhnya tapu juga aroma di luar dari tubuhnya. Melihat wujud
dalam gelap dan membedakan segala sesuatunya tanpa cahaya. Mendengar segala hal
kemudian memahami tandanya, meski dirimu dan mereka tak saling berdekatan serta
bersentuhan.
Menjadi pengendali penuh atas diri,
seperti pohon-pohon tua yang selama ini kau datangi dan kau sentuh dengan
tangan mu itu. Tiada bahagia yang meluap dari mereka, tiada kesedihan yang
pernah mengendap. Saat angin datang, mereka membiarkan ranting-ranting menari
mengikuti arahnya, lalu benih beterbangan, menumbuhkan tunas baru di tanah
seberang. Ketika musim kemarau, daun-daun lama dan kering berguguran,
menyiapkan daun-daun kecil tumbuh hijau, berkembang di musim berikutnya.”
Si Pemuda tanggung membuka matanya, seolah
ia baru terbangun dari mimpinya yang panjang. Di antara udara dingin Ia
merasakan kehangatan, dipeluk oleh ayahnya.
Langit jingga telah menghilang,
pemandangan mulai terlihat samar. Binar-binar lampu di jalanan dan rumah-rumah
telah menyala. Orang-orang bersiap menyambut malam pergantian tahun. Sang
Pemuda bangkit dari duduknya, memasang kayu diantara ikatan dua kayu bakar,
kemudian menaruhnya pada bahu. Ia memandang kejauhan, wajahnya berseri usai
mengusap pipinya yang dibasahi kebahagiaan. Ia berpamitan pada Sang Pohon,
menerobos kabut, menuju desa.
__
Lima puluh tahun setelah percakapan itu, tepatnya dua belas tahun yang lalu, saya bertemu dengan Si Pemuda Tanggung. Dalam tubuh yang tak lagi semuda kisahnya di atas, Ia menyeduhkan saya kopi dan menawari pisang dari kebunnya. Suasana Nyepi ini selalu mengingatkan saya pada raut wajah dan senyumnya, yang bercerita lebih banyak dari apa yang ia sampaikan. [T]
Badung, 25 Maret 2020