Oleh: Ni Luh Novitasari -- Desa Bebetin, Sawan, Buleleng
Ini cerita tentang aku. Aku yang
lahir di tengah keluarga sederhana,tumbuh dan besar tanpa kedua orang tua. Ibu
satu-satunya orang yang melahirkanku pergi entah kemana. Dan Ayah satu-satunya
orang yang sangat aku harapkan juga pergi tak kunjung pulang.
Dan kini aku hanya seorang diri.
Sendiri tanpa Ayah ataupun Ibu. Aku si bocah ingusan dengan warna kulit hampir
sama rata dengan warna rambut yang berantakan terurai tak beraturan menghiasi
kepalaku. Si bocah dekil ini merasa iri pada anak- anak seusianya, melihat
mereka punya keluarga lengkap bisa tertawa, bermain, berbagi cerita dan makan
bersama. Sedangkan aku?
“Mengapa aku berbeda? Kenapa aku tak
bisa seperti mereka? Bagaimana mungkin perlahan semuanya menghindar dari
kehidupan ini bahkan tidak pernah ku rasakan.”
Seiring berjalannya waktu aku pun
mulai menyadari hal itu mustahil untuk bisa ku dapatkan. Karena inilah aku, ini
cerita tentang hidupku. Dimana masa-masa yang begitu sulit kulalui tanpa kedua
orang tua kandungku. Ya, tanpa seorang Ibu dan Ayah. Di kala kuterdiam setiap
waktu rasa ini selalu menghampiriku. Rasa, ia sebuah rasa namun bukanlah rasa
cinta ataupun senang, rasa ini asing sungguh tak bisa kuungkapkan seolah-olah
mulut ini terbungkam saat ia terlintas di benatku.
Malam itu udara terasa amat dingin
seketika membangunkan bulu-bulu tubuh dan pori-pori yang hendak menguap malu.
Aku tak bisa tidur, mengapa? Entahlah, air mata adalah saksi bisu di sepanjang
malam menjelang tidurku yang selalu memata-matai dan menjadi sahabat dikala
rasa itu datang. Siang berganti malam, malam menjelma pagi begitu seterusnya,
hari itu genap sudah 7 tahun usiaku masa dimana aku duduk dibangku SD.
Senin adalah hari pertamaku masuk
sekolah,dengan hati gembira aku mulai bergegas dan merapikan segala keperluan
belajarku nanti. Tapi disela-sela kesibukan itu, lagi-lagi rasa asing yang tak dapat kugambarkan itu datang,
ia menari-nari dengan luluasanya di dalam otakku dan berusaha merampas semangat
ini.
Terdengar bisikan halus. ”Aku ingin
dipeluk Ibu, rambut dikepang oleh Ibu, dibuatkan sarapan oleh ibu, diantar
jemput sekolah oleh ayah!”
Bisikan itu mulai terngiang-ngiang di
kepala ini. Sayangnya semua itu kebalikan dari semua kenyataan yang selama ini
kujalani. Kembali menatap cermin yang terletak di hadapanku.
”Dasar bodoh, kamu dilahirkan
sendiri, ditinggalkan sendiri, hidup sendiri dan mati sekalipun akan tetap
sendiri.”
Benar, maka terimalah mungkin ini
adalah bagian dari karma pada kehidupan di masalalu. Dan untuk saat ini aku
sadar harta yang paling berharga adalah nenek dan kakek yang selalu setia
menemani cerita hidup dan merawatku hingga detik ini. Di tengah kesulitan
ekonomi yang kami hadapi, sosok perempuan dengan kulit keriput rambut yang rata
memutih dan bahu yang tak lagi berdiri dengan tegak.
Benar, ialah nenekku tercinta yang
selalu berpesan, “Jangan pernah berkecil hati, Cu... dengan apa yang kamu alami
saat ini, tetaplah bersyukur karena di luar sana masih ada banyak orang yang
lebih susah daripada kita!”
Sementara Kakek hanya bisa terbaring lemas
diranjang kayu dengan kedua kaki yang tak kuat lagi menompang berat badannya
akibat kecelakaan saat ia bekerja menjadi kuli bangunan dulu, iapun tersenyum
lembut melihat kami. Aku tak berdaya. Tanpa mereka apa jadinya aku. Hingga hari
pertama masuk kelas telah usai,tadi, kemarin, lusa dan begitu seterusnya.
Melihat keadaan Kakek yang tiap hari
semakin tak berdaya membuatku merasa sedih, karena semua beban hidup ini harus
dipikul Nenek. Aku mulai berpikir dan mencari cara setidaknya agar bisa meringankan
sedikit beban Nenek. Aku bertekad untuk berjualan di sekolah, waktu istirahat
kuhabiskan dengan berjualan pisang goreng dihalaman sekolah saat bel istirahat
berbunyi.
Dan waktu bermainku di rumah kupergunakan
untuk membantu Nenek mengurus kebun kami yang tak begitu luas, sisanya
kupergunakan untuk mencari kayu bakar. Si bocah ingusan ini beranjak tumbuh dan
ia bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu halaman,mencuci
pakaiam Kakek, dan menimba air di sumur, walau hanya pekerjaan kecil setidaknya
itu bisa mengurangi tetesan keringan yang mengucur deras didahi sang Nenek.
Sampai akhirnya Kakek pun pergi
meninggalkan kami, remuk sudah hati ini lengkap sudah cobaan yang datang
menghapiri satu persatu orang-orang yang kucintai pergi. Semenjak itu, aku
hanya tinggal bersama Nenek. Namun disisi lain aku sangat bersyukur karena
sampai saat ini masih ada Nenek yang menemani dan menyanyangiku sepenuh hati,
kami menghabiskan waktu berdua, menikmati hari dan melewati masa-masa digubuk
sederhana peninggalan Kakek satu-satunya yang masih tersisa.
Ya, hanya tinggal kami berdua. Disini. Ditempat ini, masih ditempat yang sama aku merindukan segalannya. [T]