Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Ini cerita tentang aku. Aku yang lahir di tengah keluarga sederhana,tumbuh dan besar tanpa kedua orang tua. Ibu satu-satunya orang yang melahirkanku pergi entah kemana. Dan Ayah satu-satunya orang yang sangat aku harapkan juga pergi tak kunjung pulang.
Dan kini aku hanya seorang diri. Sendiri tanpa Ayah ataupun Ibu. Aku si bocah ingusan dengan warna kulit hampir sama rata dengan warna rambut yang berantakan terurai tak beraturan menghiasi kepalaku. Si bocah dekil ini merasa iri pada anak- anak seusianya, melihat mereka punya keluarga lengkap bisa tertawa, bermain, berbagi cerita dan makan bersama. Sedangkan aku?
“Mengapa aku berbeda? Kenapa aku tak bisa seperti mereka? Bagaimana mungkin perlahan semuanya menghindar dari kehidupan ini bahkan tidak pernah ku rasakan.”
Seiring berjalannya waktu aku pun mulai menyadari hal itu mustahil untuk bisa ku dapatkan. Karena inilah aku, ini cerita tentang hidupku. Dimana masa-masa yang begitu sulit kulalui tanpa kedua orang tua kandungku. Ya, tanpa seorang Ibu dan Ayah. Di kala kuterdiam setiap waktu rasa ini selalu menghampiriku. Rasa, ia sebuah rasa namun bukanlah rasa cinta ataupun senang, rasa ini asing sungguh tak bisa kuungkapkan seolah-olah mulut ini terbungkam saat ia terlintas di benatku.
Malam itu udara terasa amat dingin seketika membangunkan bulu-bulu tubuh dan pori-pori yang hendak menguap malu. Aku tak bisa tidur, mengapa? Entahlah, air mata adalah saksi bisu di sepanjang malam menjelang tidurku yang selalu memata-matai dan menjadi sahabat dikala rasa itu datang. Siang berganti malam, malam menjelma pagi begitu seterusnya, hari itu genap sudah 7 tahun usiaku masa dimana aku duduk dibangku SD.
Senin adalah hari pertamaku masuk sekolah,dengan hati gembira aku mulai bergegas dan merapikan segala keperluan belajarku nanti. Tapi disela-sela kesibukan itu, lagi-lagi rasa asing yang tak dapat kugambarkan itu datang, ia menari-nari dengan luluasanya di dalam otakku dan berusaha merampas semangat ini.
Terdengar bisikan halus. ”Aku ingin dipeluk Ibu, rambut dikepang oleh Ibu, dibuatkan sarapan oleh ibu, diantar jemput sekolah oleh ayah!”
Bisikan itu mulai terngiang-ngiang di kepala ini. Sayangnya semua itu kebalikan dari semua kenyataan yang selama ini kujalani. Kembali menatap cermin yang terletak di hadapanku.
”Dasar bodoh, kamu dilahirkan sendiri, ditinggalkan sendiri, hidup sendiri dan mati sekalipun akan tetap sendiri.”
Benar, maka terimalah mungkin ini adalah bagian dari karma pada kehidupan di masalalu. Dan untuk saat ini aku sadar harta yang paling berharga adalah nenek dan kakek yang selalu setia menemani cerita hidup dan merawatku hingga detik ini. Di tengah kesulitan ekonomi yang kami hadapi, sosok perempuan dengan kulit keriput rambut yang rata memutih dan bahu yang tak lagi berdiri dengan tegak.
Benar, ialah nenekku tercinta yang selalu berpesan, “Jangan pernah berkecil hati, Cu... dengan apa yang kamu alami saat ini, tetaplah bersyukur karena di luar sana masih ada banyak orang yang lebih susah daripada kita!”
Sementara Kakek hanya bisa terbaring lemas diranjang kayu dengan kedua kaki yang tak kuat lagi menompang berat badannya akibat kecelakaan saat ia bekerja menjadi kuli bangunan dulu, iapun tersenyum lembut melihat kami. Aku tak berdaya. Tanpa mereka apa jadinya aku. Hingga hari pertama masuk kelas telah usai,tadi, kemarin, lusa dan begitu seterusnya.
Melihat keadaan Kakek yang tiap hari semakin tak berdaya membuatku merasa sedih, karena semua beban hidup ini harus dipikul Nenek. Aku mulai berpikir dan mencari cara setidaknya agar bisa meringankan sedikit beban Nenek. Aku bertekad untuk berjualan di sekolah, waktu istirahat kuhabiskan dengan berjualan pisang goreng dihalaman sekolah saat bel istirahat berbunyi.
Dan waktu bermainku di rumah kupergunakan untuk membantu Nenek mengurus kebun kami yang tak begitu luas, sisanya kupergunakan untuk mencari kayu bakar. Si bocah ingusan ini beranjak tumbuh dan ia bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu halaman,mencuci pakaiam Kakek, dan menimba air di sumur, walau hanya pekerjaan kecil setidaknya itu bisa mengurangi tetesan keringan yang mengucur deras didahi sang Nenek.
Sampai akhirnya Kakek pun pergi meninggalkan kami, remuk sudah hati ini lengkap sudah cobaan yang datang menghapiri satu persatu orang-orang yang kucintai pergi. Semenjak itu, aku hanya tinggal bersama Nenek. Namun disisi lain aku sangat bersyukur karena sampai saat ini masih ada Nenek yang menemani dan menyanyangiku sepenuh hati, kami menghabiskan waktu berdua, menikmati hari dan melewati masa-masa digubuk sederhana peninggalan Kakek satu-satunya yang masih tersisa.
Ya, hanya tinggal kami berdua. Disini. Ditempat ini, masih ditempat yang sama aku merindukan segalannya. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...