Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
Ini cerita tentang aku. Aku yang lahir di tengah keluarga sederhana,tumbuh dan besar tanpa kedua orang tua. Ibu satu-satunya orang yang melahirkanku pergi entah kemana. Dan Ayah satu-satunya orang yang sangat aku harapkan juga pergi tak kunjung pulang.
Dan kini aku hanya seorang diri. Sendiri tanpa Ayah ataupun Ibu. Aku si bocah ingusan dengan warna kulit hampir sama rata dengan warna rambut yang berantakan terurai tak beraturan menghiasi kepalaku. Si bocah dekil ini merasa iri pada anak- anak seusianya, melihat mereka punya keluarga lengkap bisa tertawa, bermain, berbagi cerita dan makan bersama. Sedangkan aku?
“Mengapa aku berbeda? Kenapa aku tak bisa seperti mereka? Bagaimana mungkin perlahan semuanya menghindar dari kehidupan ini bahkan tidak pernah ku rasakan.”
Seiring berjalannya waktu aku pun mulai menyadari hal itu mustahil untuk bisa ku dapatkan. Karena inilah aku, ini cerita tentang hidupku. Dimana masa-masa yang begitu sulit kulalui tanpa kedua orang tua kandungku. Ya, tanpa seorang Ibu dan Ayah. Di kala kuterdiam setiap waktu rasa ini selalu menghampiriku. Rasa, ia sebuah rasa namun bukanlah rasa cinta ataupun senang, rasa ini asing sungguh tak bisa kuungkapkan seolah-olah mulut ini terbungkam saat ia terlintas di benatku.
Malam itu udara terasa amat dingin seketika membangunkan bulu-bulu tubuh dan pori-pori yang hendak menguap malu. Aku tak bisa tidur, mengapa? Entahlah, air mata adalah saksi bisu di sepanjang malam menjelang tidurku yang selalu memata-matai dan menjadi sahabat dikala rasa itu datang. Siang berganti malam, malam menjelma pagi begitu seterusnya, hari itu genap sudah 7 tahun usiaku masa dimana aku duduk dibangku SD.
Senin adalah hari pertamaku masuk sekolah,dengan hati gembira aku mulai bergegas dan merapikan segala keperluan belajarku nanti. Tapi disela-sela kesibukan itu, lagi-lagi rasa asing yang tak dapat kugambarkan itu datang, ia menari-nari dengan luluasanya di dalam otakku dan berusaha merampas semangat ini.
Terdengar bisikan halus. ”Aku ingin dipeluk Ibu, rambut dikepang oleh Ibu, dibuatkan sarapan oleh ibu, diantar jemput sekolah oleh ayah!”
Bisikan itu mulai terngiang-ngiang di kepala ini. Sayangnya semua itu kebalikan dari semua kenyataan yang selama ini kujalani. Kembali menatap cermin yang terletak di hadapanku.
”Dasar bodoh, kamu dilahirkan sendiri, ditinggalkan sendiri, hidup sendiri dan mati sekalipun akan tetap sendiri.”
Benar, maka terimalah mungkin ini adalah bagian dari karma pada kehidupan di masalalu. Dan untuk saat ini aku sadar harta yang paling berharga adalah nenek dan kakek yang selalu setia menemani cerita hidup dan merawatku hingga detik ini. Di tengah kesulitan ekonomi yang kami hadapi, sosok perempuan dengan kulit keriput rambut yang rata memutih dan bahu yang tak lagi berdiri dengan tegak.
Benar, ialah nenekku tercinta yang selalu berpesan, “Jangan pernah berkecil hati, Cu... dengan apa yang kamu alami saat ini, tetaplah bersyukur karena di luar sana masih ada banyak orang yang lebih susah daripada kita!”
Sementara Kakek hanya bisa terbaring lemas diranjang kayu dengan kedua kaki yang tak kuat lagi menompang berat badannya akibat kecelakaan saat ia bekerja menjadi kuli bangunan dulu, iapun tersenyum lembut melihat kami. Aku tak berdaya. Tanpa mereka apa jadinya aku. Hingga hari pertama masuk kelas telah usai,tadi, kemarin, lusa dan begitu seterusnya.
Melihat keadaan Kakek yang tiap hari semakin tak berdaya membuatku merasa sedih, karena semua beban hidup ini harus dipikul Nenek. Aku mulai berpikir dan mencari cara setidaknya agar bisa meringankan sedikit beban Nenek. Aku bertekad untuk berjualan di sekolah, waktu istirahat kuhabiskan dengan berjualan pisang goreng dihalaman sekolah saat bel istirahat berbunyi.
Dan waktu bermainku di rumah kupergunakan untuk membantu Nenek mengurus kebun kami yang tak begitu luas, sisanya kupergunakan untuk mencari kayu bakar. Si bocah ingusan ini beranjak tumbuh dan ia bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu halaman,mencuci pakaiam Kakek, dan menimba air di sumur, walau hanya pekerjaan kecil setidaknya itu bisa mengurangi tetesan keringan yang mengucur deras didahi sang Nenek.
Sampai akhirnya Kakek pun pergi meninggalkan kami, remuk sudah hati ini lengkap sudah cobaan yang datang menghapiri satu persatu orang-orang yang kucintai pergi. Semenjak itu, aku hanya tinggal bersama Nenek. Namun disisi lain aku sangat bersyukur karena sampai saat ini masih ada Nenek yang menemani dan menyanyangiku sepenuh hati, kami menghabiskan waktu berdua, menikmati hari dan melewati masa-masa digubuk sederhana peninggalan Kakek satu-satunya yang masih tersisa.
Ya, hanya tinggal kami berdua. Disini. Ditempat ini, masih ditempat yang sama aku merindukan segalannya. [T]
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PEREMPUAN mana sih yang tidak menginginkan tubuh indah dan dipuji banyak orang? Memiliki tubuh indah adalah impian setiap perempuan di dunia. Tapi, bagaimana dengan perempuan yang...
“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door - Bob Dylan) JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung pe...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) seringkali menjadi senjata tajam yang dengan segala keunikannya dapat memisahkan pasangan yang bahkan telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Karena...
Catatan Harian Sugi Lanus 10 Agustus 2016 . APA Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "rahajeng dina otonan" dan "rahajen...
BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya just...
SIAPA pun yang bicara jalur shortcut Denpasar-Singaraja selalu tampak bersemangat. Optimis. Seakan-akan setelah jalur shortcut terwujud, masyarakat akan langsung sejahtera. Padaha...
SELEBRITI artinya orang terkenal, termasyur, tersohor. Untuk menjadi terkenal, banyak hal bisa dilakukan. Jika seseorang berbuat aneh-aneh, masuk dalam kategori pemecah rekor, dia...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mah...
Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0 PEREMPUAN...