Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Mentari mulai menampakkan senyumnya. Cahayanya merambat masuk ke dalam kamar.Kicauan burung kudengar bersahutan sahutan, seperti sebuah alarm alami untuk membangunkan tidurku. Dengan mata yang masih sipit aku melirik jam weker disamping tempat tidur. Jam telah menunjukkan pukul 7.15 pagi.Dan aku masih berada diatas kasur. Dengan bersusah payah aku mengumpulkan kesadaranku, menggeliat kesana kemari,tendang sana tendang sini,tapi hasilnya nihil,aku masih mengantuk. Mataku begitu berat tuk dibuka dan kicauan burung yang kudengar tak mampu membangunkanku. Akhirnya aku menyerah,aku pejamkan kembali mataku untuk tidur lagi.
Hingga akhirnya Ibu datang membangunkan aku, namun kali ini dengan nuansa yang berbeda. Aroma semerbak yang tak asing lagi di hidungku. Aromanya begitu kuat, mantap dan menggoda. Dengan mata masih terpejam aku mencari asal aroma itu, mengendus ngendus kesana kemari. Sampai membuatku terbangun dari tidurku. Kulihat ibu berdiri di depanku dengan membawa semangkuk bubur ayam kesukaanku. Ternyata aroma itu adalah bubur ayam ini.Seketika itu aku melupakan kantukku dan bersemangat untuk menyantap bubur ayam buatan ibuku.
Sungguh lezat. Bubur ayam yang lama tak aku santap kini kembali aku rasakan. Di pagi yang cerah ini aku awali hari dengan menyantap Sabu alias sarapan bubur. Tak sampai 10 menit, bubur ayam itu telah kandas dan hanya tinggal mangkoknya saja. Mungkin kalau aku bisa memakan mangkok, mangkok itu juga akan ikut ludes. Yaahh, aku memang suka dengan bubur ayam apalagi bubur ayam buatan ibuku,saking sukanya aku bisa nambah porsi sampai tiga kali.
Sungguh, bubur ayam yang sangat menggiurkan. Sangat cocok disantap saat masih hangat.Aroma dari kuah kaldu bubur ayam sangat menggugah selera. Ditambah lagi kacang dan kerupuk memberi cita rasa yang sangat gurih.Daging ayam yang lembut dipadukan dengan bubur membuat kombinasi yang begitu lezat. Aku begitu senang menyantap Sabu. Dan karena sabu-lah aku bersemangat mengawali hari. Karena Sabu aku melupakan kantukku
Shabu alias sarapan bubur. It's The Best! [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...