Oleh: Kadek Wika Arinata -- SMAN Bali Mandara
Ini cerita sekitar tahun 2014-2015, perihal tentang seorang nenek, ibu dan anak.
Mimpi’ suatu kata yang begitu familiar ditelinga kita. Mimpi adalah suatu keadaan yang dialami pada saat tertidur. Peristiwa dalam mimpi biasanya sangat mustahil terjadi dalam dunia nyata. Sedangkan ‘Kenyataan’ adalah suatu hal yang benar-benar ada dalam hidup ini.
9 November 2014,
Seorang nenek yang tak dikenal identitasnya tiba di rumah saya, ia mengenakan baju kebaya layaknya orang jaman dulu dan kamben batik tua dan usang sambil membawa mangkok putih kosong.
”Dados tiang nunas ajengan? (Bolehkah saya meminta nasi?),” tanya nenek itu.
”Ampura nika, tiang tan medue ajengan, tiang durung ngarateng.” (Aduh maaf, saya tidak punya nasi, saya belum masak) jawab saya.
Nenek tersebut berbalik badan, lalu menuju ke rumah Nenek Putu Winari yang terletak sekitar 5 langkah dari rumah saya sambil berjalan terpincang-pincang.
Kebetulan sekali Nenek Putu Winari berada di teras rumah sedang majejaitan (membuat alat-alat perlengkapan sembahyang dari janur kelapa).
”Dados tiang nunas ajengan? (Boleh saya meminta nasi?),” tanya nenek itu lagi. Kali ini bertanya kepada Nenek Putu Winari.
”Mimih ampura Meme, tiang durung ngarateng nika. (Aduh maaf ibu, saya belum masak),” ucap Nenek Putu Winari. “Nasi dibi sanja kari Me, kanggeang? (Nasi yang kemarin masih Bu, mau?),” lanjutnya.
”Nggih-nggih tan kenapi, kanggeang kemanten. (Iya-iya tidak apa-apa, terima saja),” jawab nenek itu.
Nenek Putu Winari pun mengambilkan sedikit nasi yang sisa kemarin untuk Nenek itu. Nasi tersebut hanya memenuhi sekitar 1/4 dari mangkok yang dibawanya.
”Suksma nika, nggih. (Terima kasih, ya),” ujar nenek itu sambil berlalu, bukannya keluar menuju jalan keluar rumah, tetapi malahan ke arah timur menuju merajan (pura keluarga besar) kami yang letaknya berlawanan arah dengan jalan keluar rumah.
Begitulah cerita mimpi bibi saya, Ketut Nuriti. Ia bercerita dengan sangat serius kepada orang-orang di sekitar rumah kami, mengenai mimpi yang sedikit aneh baginya yang berlangsung kurang lebih 20-30 detik itu.
11 November 2014,
Seorang yang sudah lingsir, begitu orang-orang Bali menyebut orang-orang yang sudah tergolong berumur senja atau tua. Seorang yang sudah lingsir tersebut adalah seorang nenek yang tidak tahu darimana asalnya yang membawa mangkok lalu menghampiri rumah saya.
”Tiang nunas ajengan, tiang durung ngajeng uling dibi sanja. (Saya minta nasi, saya belum makan dari kemarin),” ujar nenek itu dengan nada yang pelan.
Saya, Putu Winari yang mendengar suara ringan tersebut langsung menghampirinya.
”Tiang wau ngarateng, durung rateng ajengane, indayang drika dumun nunas ajengan, Me. (Saya baru saja masak nasi, belum matang nasinya, coba dulu disana minta nasi, Bu),” ucap saya sambil menunjuk rumah milik Ketut Nuriti yang berada di depan rumah saya.
”Tan kayun, driki kemanten. (Tidak mau, disini saja),” jawab nenek itu. Tetap bersikukuh dengan pilihannya.
”Antosang, nggih. (Ditunggu ya).”
data-p-id=e265f35157d8e562bbc6dc42c54b5449,Selang
10 menit kemudian, nasi sudah masak. Lalu saya memberi nenek itu nasi yang hampir
memenuhi mangkok yang dibawanya.
”Suksma banget. (Terima kasih banyak),” ujar nenek itu sambil berlalu menuju ke merajan kami.
Itu adalah mimpi nenek saya, Putu Winari yang hampir serupa dengan apa yang dimimpikan bibi saya, Ketut Nuriti.
*****
Beberapa hari kemudian, terdengar bahwa ibu saya muntah-muntah. Bapak saya mengira bahwa hal itu biasa terjadi pada orang yang masuk angin, kebetulan saja pada saat itu ibu saya setelah kehujanan dan merasa tubuhnya sedikit meriang, maka ibu saya pun meminum obat masuk angin.
Hal aneh terjadi kembali setelah ibu saya sudah merasa
mendingan dari tubuhnya yang masuk angin. Tak henti-hentinya ibu saya
muntah-muntah sampai bolak-balik ke kamar mandi. Melihat hal tersebut, Bapak
saya pun merasa heran bahwa kalau masuk angin biasa tidak mungkin sampai
terus-terusan seperti ini. Tanpa basa-basi, akhirnya Bapak saya mendatangkan Test
Pack (alat uji kehamilan berbentuk stik) pada ibu saya. Ternyata setelah
digunakan hasilnya positif.
Ibu saya pun hamil sejak saat itu. Kehamilan tersebut
tidak diduga, tanpa terencana dan datang begitu saja tanpa persiapan yang
matang. Secara umum, ada tiga sikap pilihan yang ditunjukkan dalam menghadapi
hal semacam ini, yakni langsung menerima kehamilan itu; menolak, akan tetapi
kemudian menerima apa adanya; ataupun benar-benar menolak kehamilan itu.
Kejadian yang dialami ibu saya dinamakan Kesundulan atau Kebobolan. Begitulah
menurut orang-orang di sekitar saya.
Suatu ketika, ibu saya muntah-muntah sangat keras
sekali dan merasa perutnya sangat sakit, sampai didengar oleh bibi saya, Ketut
Nuriti yang biasa saya panggil Mek Tut.
“Kenapa Dayu?” tanya Mek Tut.
“Saya sakit, Mbok, kebobolan.” jawab ibu saya dengan
jujur. Mbok adalah kata sapaan perempuan yang dipakai untuk memanggil orang
yang dianggap sebagai kakak atau lebih senior.
“Pantas saja, Mbok pernah mimpi ada seorang nenek yang
tidak dikenal kemari, dia mau minta nasi …” jelas Mek Tut. Ia menceritakan
kembali kisah 9 November 2014 itu.
Tiba-tiba Nenek saya, Putu Winari datang menghampiri
mereka berdua sambil tergopoh-gopoh.
“Saya juga memimpikan hal yang serupa dengan Ketut.” kata
nenek saya dan menceritakan kembali tentang mimpinnya yang serupa.
“Mungkin ini sudah direncanakan oleh Tuhan,” sahut ibu
saya. “Kita terima saja karuniannya,” lanjutnya.
“Iya, siapa tahu nanti anaknya perempuan, kan
cucu-cucu Nenek Winari belum ada yang berjenis kelamin perempuan,” ujar Mek
Tut.
“Iya, astungkara,” sahut nenek saya. Astungkara adalah
ucapan masyarakat Hindu di Bali yang artinya semoga, serupa dengan ‘Amin’.
Percakapan tersebut ditutup dengan senyum sumringah.
Pada akhirnya, ibu saya pun memilih pernyataan nomor dua dari tiga sikap yang akan
ditunjukkan yang telah disebutkan diatas, yakni menolak, akan tetapi
kemudian menerima apa adanya. Menolak disini tidak didefinisikan sebagai
sebuah kebencian, melainkan sebagai buah pemikiran terlebih dahulu sebelum
melakukan suatu tindakan yang berbahaya kedepannya.
9 Bulan Kemudian, tepatnya pada tanggal 1 Juli 2015,
dan pada saat itu pula merupakan Rahina merajan kami. Rahina adalah hari raya
suci Agama Hindu.
Seorang anak terlahir ke dunia yang berjenis kelamin
perempuan di sebuah rumah sakit Kertha Usadha Singaraja, beratnya sekitar 3400
gram dengan wajah cantik dan mungilnya. Kemudian, ia tumbuh dan berkembang
dengan cepat sampai sekarang berumur 4 tahun yang bernama Komang Winda Arta
Kirana.
Lalu ada beberapa pertanyaan yang akan muncul dari kejadian
diatas, seperti : Apakah nenek dalam mimpi itu sebagai pertanda jenis kelamin
anak dari ibu saya? Apakah kenyataan ini berawal dari mimpi atau hanya suatu
kebetulan belaka? Dan Apakah hal itu akan mendatangkan pertanda baik atau
buruk?
Beberapa ahli menyebutkan bahwa mimpi yang nyata adalah mimpi yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada pula mimpi yang nyata adalah suatu harapan yang kuat yang merupakan suatu indikasi pada saat tertidur saja. Sementara sumber lainnya, mimpi yang nyata terdapat dua pengertian. Yang pertama adalah mimpi tersebut adalah sebuah peringatan yang melekat pada diri seseorang yang memiliki peran penting untuk menentukan pilihan hidup. Dan kedua, mimpi tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan itulah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada seseorang. Mungkin tidak direncanakan oleh manusia, akan tetapi kita tidak tahu bahwa Tuhanlah yang mungkin saja merencanakannya. [T]