17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Ini cerita sekitar tahun 2014-2015, perihal tentang seorang nenek, ibu dan anak.
Mimpi’ suatu kata yang begitu familiar ditelinga kita. Mimpi adalah suatu keadaan yang dialami pada saat tertidur. Peristiwa dalam mimpi biasanya sangat mustahil terjadi dalam dunia nyata. Sedangkan ‘Kenyataan’ adalah suatu hal yang benar-benar ada dalam hidup ini.
9 November 2014,
Seorang nenek yang tak dikenal identitasnya tiba di rumah saya, ia mengenakan baju kebaya layaknya orang jaman dulu dan kamben batik tua dan usang sambil membawa mangkok putih kosong.
”Dados tiang nunas ajengan? (Bolehkah saya meminta nasi?),” tanya nenek itu.
”Ampura nika, tiang tan medue ajengan, tiang durung ngarateng.” (Aduh maaf, saya tidak punya nasi, saya belum masak) jawab saya.
Nenek tersebut berbalik badan, lalu menuju ke rumah Nenek Putu Winari yang terletak sekitar 5 langkah dari rumah saya sambil berjalan terpincang-pincang.
Kebetulan sekali Nenek Putu Winari berada di teras rumah sedang majejaitan (membuat alat-alat perlengkapan sembahyang dari janur kelapa).
”Dados tiang nunas ajengan? (Boleh saya meminta nasi?),” tanya nenek itu lagi. Kali ini bertanya kepada Nenek Putu Winari.
”Mimih ampura Meme, tiang durung ngarateng nika. (Aduh maaf ibu, saya belum masak),” ucap Nenek Putu Winari. “Nasi dibi sanja kari Me, kanggeang? (Nasi yang kemarin masih Bu, mau?),” lanjutnya.
”Nggih-nggih tan kenapi, kanggeang kemanten. (Iya-iya tidak apa-apa, terima saja),” jawab nenek itu.
Nenek Putu Winari pun mengambilkan sedikit nasi yang sisa kemarin untuk Nenek itu. Nasi tersebut hanya memenuhi sekitar 1/4 dari mangkok yang dibawanya.
”Suksma nika, nggih. (Terima kasih, ya),” ujar nenek itu sambil berlalu, bukannya keluar menuju jalan keluar rumah, tetapi malahan ke arah timur menuju merajan (pura keluarga besar) kami yang letaknya berlawanan arah dengan jalan keluar rumah.
Begitulah cerita mimpi bibi saya, Ketut Nuriti. Ia bercerita dengan sangat serius kepada orang-orang di sekitar rumah kami, mengenai mimpi yang sedikit aneh baginya yang berlangsung kurang lebih 20-30 detik itu.
11 November 2014,
Seorang yang sudah lingsir, begitu orang-orang Bali menyebut orang-orang yang sudah tergolong berumur senja atau tua. Seorang yang sudah lingsir tersebut adalah seorang nenek yang tidak tahu darimana asalnya yang membawa mangkok lalu menghampiri rumah saya.
”Tiang nunas ajengan, tiang durung ngajeng uling dibi sanja. (Saya minta nasi, saya belum makan dari kemarin),” ujar nenek itu dengan nada yang pelan.
Saya, Putu Winari yang mendengar suara ringan tersebut langsung menghampirinya.
”Tiang wau ngarateng, durung rateng ajengane, indayang drika dumun nunas ajengan, Me. (Saya baru saja masak nasi, belum matang nasinya, coba dulu disana minta nasi, Bu),” ucap saya sambil menunjuk rumah milik Ketut Nuriti yang berada di depan rumah saya.
”Tan kayun, driki kemanten. (Tidak mau, disini saja),” jawab nenek itu. Tetap bersikukuh dengan pilihannya.
”Antosang, nggih. (Ditunggu ya).”
data-p-id=e265f35157d8e562bbc6dc42c54b5449,Selang 10 menit kemudian, nasi sudah masak. Lalu saya memberi nenek itu nasi yang hampir memenuhi mangkok yang dibawanya.
”Suksma banget. (Terima kasih banyak),” ujar nenek itu sambil berlalu menuju ke merajan kami.
Itu adalah mimpi nenek saya, Putu Winari yang hampir serupa dengan apa yang dimimpikan bibi saya, Ketut Nuriti.
*****
Beberapa hari kemudian, terdengar bahwa ibu saya muntah-muntah. Bapak saya mengira bahwa hal itu biasa terjadi pada orang yang masuk angin, kebetulan saja pada saat itu ibu saya setelah kehujanan dan merasa tubuhnya sedikit meriang, maka ibu saya pun meminum obat masuk angin.
Hal aneh terjadi kembali setelah ibu saya sudah merasa mendingan dari tubuhnya yang masuk angin. Tak henti-hentinya ibu saya muntah-muntah sampai bolak-balik ke kamar mandi. Melihat hal tersebut, Bapak saya pun merasa heran bahwa kalau masuk angin biasa tidak mungkin sampai terus-terusan seperti ini. Tanpa basa-basi, akhirnya Bapak saya mendatangkan Test Pack (alat uji kehamilan berbentuk stik) pada ibu saya. Ternyata setelah digunakan hasilnya positif.
Ibu saya pun hamil sejak saat itu. Kehamilan tersebut tidak diduga, tanpa terencana dan datang begitu saja tanpa persiapan yang matang. Secara umum, ada tiga sikap pilihan yang ditunjukkan dalam menghadapi hal semacam ini, yakni langsung menerima kehamilan itu; menolak, akan tetapi kemudian menerima apa adanya; ataupun benar-benar menolak kehamilan itu. Kejadian yang dialami ibu saya dinamakan Kesundulan atau Kebobolan. Begitulah menurut orang-orang di sekitar saya.
Suatu ketika, ibu saya muntah-muntah sangat keras sekali dan merasa perutnya sangat sakit, sampai didengar oleh bibi saya, Ketut Nuriti yang biasa saya panggil Mek Tut.
“Kenapa Dayu?” tanya Mek Tut.
“Saya sakit, Mbok, kebobolan.” jawab ibu saya dengan jujur. Mbok adalah kata sapaan perempuan yang dipakai untuk memanggil orang yang dianggap sebagai kakak atau lebih senior.
“Pantas saja, Mbok pernah mimpi ada seorang nenek yang tidak dikenal kemari, dia mau minta nasi …” jelas Mek Tut. Ia menceritakan kembali kisah 9 November 2014 itu.
Tiba-tiba Nenek saya, Putu Winari datang menghampiri mereka berdua sambil tergopoh-gopoh.
“Saya juga memimpikan hal yang serupa dengan Ketut.” kata nenek saya dan menceritakan kembali tentang mimpinnya yang serupa.
“Mungkin ini sudah direncanakan oleh Tuhan,” sahut ibu saya. “Kita terima saja karuniannya,” lanjutnya.
“Iya, siapa tahu nanti anaknya perempuan, kan cucu-cucu Nenek Winari belum ada yang berjenis kelamin perempuan,” ujar Mek Tut.
“Iya, astungkara,” sahut nenek saya. Astungkara adalah ucapan masyarakat Hindu di Bali yang artinya semoga, serupa dengan ‘Amin’.
Percakapan tersebut ditutup dengan senyum sumringah. Pada akhirnya, ibu saya pun memilih pernyataan nomor dua dari tiga sikap yang akan ditunjukkan yang telah disebutkan diatas, yakni menolak, akan tetapi kemudian menerima apa adanya. Menolak disini tidak didefinisikan sebagai sebuah kebencian, melainkan sebagai buah pemikiran terlebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan yang berbahaya kedepannya.
9 Bulan Kemudian, tepatnya pada tanggal 1 Juli 2015, dan pada saat itu pula merupakan Rahina merajan kami. Rahina adalah hari raya suci Agama Hindu.
Seorang anak terlahir ke dunia yang berjenis kelamin perempuan di sebuah rumah sakit Kertha Usadha Singaraja, beratnya sekitar 3400 gram dengan wajah cantik dan mungilnya. Kemudian, ia tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai sekarang berumur 4 tahun yang bernama Komang Winda Arta Kirana.
Lalu ada beberapa pertanyaan yang akan muncul dari kejadian diatas, seperti : Apakah nenek dalam mimpi itu sebagai pertanda jenis kelamin anak dari ibu saya? Apakah kenyataan ini berawal dari mimpi atau hanya suatu kebetulan belaka? Dan Apakah hal itu akan mendatangkan pertanda baik atau buruk?
Beberapa ahli menyebutkan bahwa mimpi yang nyata adalah mimpi yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada pula mimpi yang nyata adalah suatu harapan yang kuat yang merupakan suatu indikasi pada saat tertidur saja. Sementara sumber lainnya, mimpi yang nyata terdapat dua pengertian. Yang pertama adalah mimpi tersebut adalah sebuah peringatan yang melekat pada diri seseorang yang memiliki peran penting untuk menentukan pilihan hidup. Dan kedua, mimpi tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan itulah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada seseorang. Mungkin tidak direncanakan oleh manusia, akan tetapi kita tidak tahu bahwa Tuhanlah yang mungkin saja merencanakannya. [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...