Awalnya saya tidak berniat menulis sesuatu apapun. Tapi
setelah membaca salah satu tulisan Alit Joule di tatkala.co, saya merasa ada
sesuatu yang harus diketik. Saat dia bilang “salam dari samudra”, saya
membayangkan situasi yang melahirkan kata-kata itu. Barangkali saat dia ketik
kata-kata itu, kapal yang ditumpanginya belum berlabuh. Dia mengetiknya di
tengah hamparan laut super luas.
Entah kepada
siapa dia tujukan salam itu. Saya menduga, dia sedang memberi salam kepada
semua pembacanya. Tapi saya juga tidak bisa berhenti menduga, kalau dia
sesungguhnya sedang memberi salam pada dirinya sendiri.
Dalam bayangan saya, dia sedang berada di tengah
lautan yang luas, di dalam sebuah kapal. Seberapa besarnya kapal itu, saya tak
tahu. Mungkin sebesar satu banjar adat. Atau mungkin lebih besar lagi. Mungkin
sebesar desa adat tapi dengan peraturan yang tidak lebih rumit. Kapal itu
goyang-goyang karena air laut tidak tenang. Langit di atas bersuara pelan
meniru-niru gemuruh laut. Mungkin begitu keadaannya sebagaimana saya bayangkan
dari dalam kamar.
Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti itu? Alit Joule memilih untuk menulis. Itu karena dia memang penulis. Tak usah diragukan lagi. Menulis adalah cara yang ditempuhnya untuk mengusir kecemasan dan kebosanan. Saya tidak yakin kalau dia penganut jargon ‘menulis untuk keabadiaan’ sebagaimana ditulis oleh Pram. Sebab jauh sebelum saya belajar menulis, dialah yang menjerumuskan saya pada dunia paling membahagiakan ini. Suatu saat seingat saya, dia pernah berpesan ‘lanturang, meskipun iraga sing di Bali tapi raga lakar terus nulis’ [lanjutkan, meskipun saya tidak di Bali, tapi saya akan terus menulis]. Saya yakin itu murni dari pemikirannya sendiri. Lalu belakangan saya menemukan kata-kata serupa dari Pram.
Pesan itu selalu saya ingat saat tidak menulis. Lalu
saya lupakan saat menulis saya lakukan. Menulis adalah pekerjaan. Dari
pekerjaan itu didapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan
yang disebut wahyadhyatmika suka.
Artinya kebahagiaan lahir dan batin.
Salah satu jenis kebahagiaan lahir adalah kekayaan,
pengakuan, kesehatan. Kebahagiaan jenis ini konon bisa berbalik menjadi duka,
kesedihan. Karena kekayaan bisa hilang, pengakuan bisa lenyap, dan kesehatan
bisa sirna. Oleh sebab itu, para yogi mengajarkan untuk mencapai kebahagiaan
yang penuh. Penuh berbeda dengan banyak. Karena penuh, tidak lagi ada sesuatu
yang diinginkan. Tidak ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada kebahagiaan yang
sangat. Semua ada pada takaran yang pas.
Ada kebahagiaan yang tidak putus-putus. Keadaan
semacam itu disebut menikmati amerta. Amerta adalah air kehidupan yang
memberikan keabadian. Bukan hidup yang abadi, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan
dianalogikan seperti makanan. Bisa membuat perut kenyang tanpa harus makan.
Makanan jenis ini dinikmati oleh mereka yang melakukan yoga. Dan menulis adalah
salah satu bentuknya, salah satu caranya. Metodenya.
Begitulah menulis dalam pandangan saya sekarang.
Kegiatan ini tidak lagi sesederhana memindahkan suara-suara pikiran ke dalam
simbol-simbol aksara. Menulis kini bermakna berbeda. Karena itu, pesan dari
Alit Joule kini tidak lagi saya maknai sebagai menulis dalam artian menuangkan
isi pikiran dalam simbol tertulis. Menulis adalah metode yang bisa ditempuh
untuk mendapatkan kebahagiaan. Menulis adalah yoga.
Alit Joule dalam posisinya yang sekarang, bahkan
memberikan saya inspirasi untuk menulis. Kepada laut yang ia pandangi ia
ucapkan terimakasih. Juga kepada ‘sepi’ yang diterimanya sebagai anugerah.
Karena keadaan sepi itu, ia mendapatkan energy lebih untuk menulis.
Situasi yang dipaksakan oleh suatu wabah telah
memberikan energi positif kepada seorang penulis di tengah laut. Situasi dan
kondisi jelas mempengaruhi inspirasi. Kali ini dia benar, kesenyapan yang
dihadiahkan oleh wabah bisa diisi dengan melakukan permenungan. Cukup sendiri,
tanpa bantuan siapa-siapa. Atau dalam istilah Jawa Kuno disebut nirasraya. Hasil dari permenungan adalah
keheningan pikiran yang bisa dibagikan kepada orang lain. Kebeningan demi
kebeningan yang dialirkan pada banyak pikiran yang sedang keruh. Jarang sekali
ada hasil permenungan yang didedikasikan demi mengajak pikiran-pikiran yang
dikeruhkan oleh kecemasan, untuk kembali kepada keheningan buddhi. Buddhi
adalah intelek yang bisa menimbang baik dan buruk. Buddhi bening inilah yang
konon bisa menjadi lampu penerang di tengah kegelapan yang pekat. Sastra adalah
nama lain dari buddhi bening itu. Bukankah dengan menggunakan sastra sebagai
lampu penerang, kebahagiaan di dunia bisa didapat?
Wrettasancaya adalah salah satu puisi berbahasa Jawa
Kuno yang dilahirkan dari permenungan, dari buddhi yang bening. Anehnya,
kebeningan buddhi itu lahir saat pengarangnya konon menyendiri di tepi laut.
Mungkin memang benar, kesendirian memberikan anugerah lain yang tidak pernah
kita berikan tempat spesial. Jika direnung-renungkan sesungguhnya manusia tidak
pernah sendiri karena setiap saat selalu ada yang menyaksikan segala yang
dipikir, dikata, dan dilakukan. Saat terang, saksinya adalah matahari. Saat
gelap, saksinya rembulan. Saat malam paling gelap, saksinya kegelapan. Saat
ramai ada banyak mata jadi saksi. Saat sendiri, ada jiwa yang jadi saksi.
Karena itu, manusia tidak pernah sendiri. Tidak ada kesendirian yang
sesungguhnya sendiri.
Saat saya mulai mengetik kata-kata ini, saya seolah
mengerti kalau di pikiran orang-orang sedang merasa cemas karena wabah virus. Wabah
virus adalah wabah. Saya mengertikannya sesederhana itu. Saya tidak tahu cara
paling tepat menghilangkan wabah ini. Saya hanya mendengar banyak peneliti,
pembicara, perenung, pembaca, penulis yang menulis dan bicara tentang virus
ini. Katanya harus begitu dalam situasi begini. Mestinya begini dalam situasi begitu-begitu.
Begini dan begitu itu, saya pikir-pikir semuanya benar.
Kebenaran ternyata tidak hanya satu, tapi ada banyak
kebenaran. Terus terang kenyataan itu bertolak belakang dengan konsep kebenaran
yang pernah saya dengar. Katanya, kebenaran hanya satu, yang banyak adalah
pembenaran. Bagaimana membedakan kebenaran dengan pembenaran? Saya jadi bingung
dibuatnya. Lahir sebagai manusia adalah kebingungan. Jadi saya menerima
kebingungan itu sebagai kewajaran. Lebih dari itu, kebingungan tadi saya terima
bukan karena tidak mengerti, tapi karena saya bodoh.
Kebodohan yang saya miliki jika digunakan untuk
memikirkan sesuatu yang sulit saya mengerti, hanya akan melahirkan kekeruhan
yang lain. Jadi saya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan dari putaran bumi yang
tidak pernah saya rasakan berputar [kecuali mabuk] ini kepada para pemikir dan
penindaklanjut yang berbaris menjaga keamaan pada baris paling depan.
Barisan-barisan itu saya yakini akan menjaga saya yang rakyat jelata ini dari
kesakitan dan kemiskinan.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak tahu
harus melakukan apa. Saya sekarang hanya diam di rumah sebagaimana dianjurkan
oleh banyak orang. Jika pergi hanya lewat satu tembok saja ke rumah saudara.
Melihat nenek yang sedang nglocok base, dan mendengar orang-orang tua membicarakan
ingatan mereka tentang kejadian lampau-lampau. Juga membaca beberapa tulisan
yang menarik. Salah satunya adalah salam dari samudra milik sahabat saya.
Kepada Alit Joule saya ucapkan terimakasih. Karena ia
membuat saya punya keinginan menulis sesuatu di tengah kegamangan. Kegamangan
yang lahir dari kecemasan-kecemasan. Tidak hanya virus, tapi juga
pikiran-pikiran semerawut karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan dengan
terlalu sedikit kekuatan untuk menyelesaikan.
Lit, sampai jumpa di rumah. Benar, sastra selalu menemukan jalannya [T]