Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa hidupmengatur dirinya...
“Hei, bagaimana kau bisa sampai di sini?” ucap seseorang dengan cangkul di bahunya, yang berdiri tak jauh dariku.
Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun aku dapat melihat dengan jelas bentuk tubuhnya yang kerdil dan bungkuk. Tempat apa ini? Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan disini? Siapa dia? Pikiranku dibanjiri pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri pun tak mampu menjawabnya.
“Rik...rik....!”
Pandanganku kemana-mana, aku seperti mendengar suara seseorang memanggilku. Aku telusuri arah suara itu, “Rikkk..., Rikkkk…” suaranya makin keras tapi aku tak melihat siapa pun.
Tiba-tiba “bruuugh”, sebuah handuk hinggap tepat di wajahku. Aaahhh ternyata ibu. Aku masih setengah sadar dari mimpi membingungkanku.
“Ayo bangun, mandi..., ini udah jam 09.00,” ujar Ibu.
Aku terkejut dan segera bangun, kulirik jam di dinding kamarku. “Haaahhh...., pukul 04.00,” kejutku sembari tergeletak kembali diatas kasur.
Tak terasa menit demi menit berlalu, aku masih tetap dengan posisi enakku saat ini. Dan aku mendengar suara langkah kaki seseorang dengan sandal yang diseret saat berjalan. Tampaknya itu Ibu. Aku segera memulihkan kesadaranku dan begegas menuju kamar mandi, “ahhh tidakkk” ucapku dalam hati.
Nampaknya semesta pun tak mendukung perjalanan ku untuk merasakan nikmatnya guyuran air gayung kamar mandi pagi ini, karna aku harus mengantri untuk mendapat giliran. Aku tinggal di salah satu desa di Kecamatan Gianyar dengan 5 kepala keluarga di satu pekarangan rumah, pemandangan seperti ini sudah biasa aku alami.
Hari ini adalah hari ke-5 aku mengikuti kelas maya dari rumah karena pandemik corona “covid-19” saat ini. Bagiku rumah merupakan satu-satunya nya istana yang membuatku nyaman, ketapa tidak?
Aku bisa meluapkan perasaanku disini, aku bisa menghancurkan dapur hanya untuk memasak makanan ataupun camilan kesukaanku, aku juga bisa mengekpresikan diriku dalam bernyanyi dan bahkan mempersiapkan naskah untuk projek drama angkatanku.
Dan yang paling penting dengan d irumah ini aku bisa berkumpul dengan keluarga sekaligus bisa membantu pahlawan-pahlawan Indonesia di dunia kesehatan dalam memberantas penyebaran covid-19 ini dengan tetap berdiam diri dirumah.
Aku memilih untuk fokus mengerjakan Unit Kegiatan Belajar Mandiri di bidang Geografi kali ini, karna di dalamnya terdapat 3 bab penting yang harus aku kerjakan yaitu Litosfer, Atmosfer, dan Hidrosfer.
Sesekali aku mengistirahatkan diriku dengan melihat gadget miliku, mungkin saja ada informasi penting mengenai daring kelas maya, ataupun notifikasi kabar dari teman-temanku.
Selain itu, update mengenai covid-19 pun banyak disiarkan di siaran-siaran televisi, pemerintah pun sudah menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dengan mencuci tangan dengan sabun dan mengenakan masker apabila sakit. Semoga saja dengan hal itu penyebaran virus ini tidak marak lagi ditengah masyarakat.
Kelihatannya matahari sudah tidak sabar berganti peran dengan bulan, hari juga sudah semakin gelap . Aku mengabiskan 3 jam kedepan dengan memasak sedikit kentang goreng untuk camilan dan melanjutkan belajarku.
Namun ada sedikit pembeda kali ini, aku seperti mencium aroma yang tidak asing di hidungku, kutelusuri arah bau itu, ternyata ibu sedang menggoreng ikan , dan sungguh itu surga dunia terindahku di rumah. Dan ya, aku tak bisa lagi menahan gaya tarik gravitasi pada kasurku, aku terjun ke pulau kapuk dan bersiap untuk terlelap. [T]
Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa hidupmengatur dirinya...
Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa yang selalu ia ulan...
Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan sekadar entitas ekonom...
SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja budaya di AbSenter alias Abian Senter (Taman Budaya -...
PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari a...
Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang nyaris padamdari lidah gelomba...
Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”, pemandangan di hotel itu terasa beda. Para ka...
Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Bubuh, merupaka...
Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir...
DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai dari komunikasi, hi...