Bung Hatta pernah
berucap bahwa Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta,
Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di desa. Di India, tokoh
dunia yakni Gandhi juga pernah berseloroh bahwa masa depan India terletak di
desa.
Menengok dua pernyataan
dari dua tokoh besar tersebut maka sangat sejalan dan relevan dengan nawacita
ketiga yakni membangun Indonesia dari desa. Desa bukan lagi menjadi latar
belakang melainkan menjadi halaman depan kemajuan Indonesia. Pembangunan di
Indonesia harus melihat desa sebagai fokus dan target pembangunan karena di
desa sumber potensi kemajuan bangsa Indonesia.
Ada dua hal yang
menjadi isu utama pembangunan perdesaan di Indonesia:
Pertama,
sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di wilayah desa. Saat ini,
diperkirakan 60 persen penduduk masih tinggal di desa;
Kedua,
kesejahteraan penduduk di desa jauh tertinggal dibandingkan penduduk kota,
sekitar 63 persen dari total penduduk miskin berdiam diri di desa (Yustika,
2015). Pembangunan desa memiliki tantangan yang cukup besar sebab hingga saat
ini jumlah desa mandiri di Indonesia hanya 7,55 persen dari 74.957 desa di
Indonesia.
Bali adalah salah satu
provinsi yang selalu memiliki nilai rapor baik bahkan sangat baik dalam bidang
ekonomi. Rata-rata pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas nasional. Tingkat
pengangguran terendah nomor 1 dan memiliki angka kemiskinan terendah nomor 2 di
Indonesia. Ini adalah prestasi yang sangat mengagumkan. Walaupun dalam beberapa
hal masih perlu dilakukan perbaikan seperti tingkat disparitas (ketimpangan), baik
ketimpangan antar wilayah maupun ketimpangan antar sektor.
Baiknya ekonomi Bali
juga tercermin dari komposisi jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan yang
lebih rendah daripada di perkotaan. Sejak Maret tahun 2011, penduduk miskin di
perdesaan (73,1 ribu jiwa) lebih rendah dari perkotaan yang berjumlah 92,7 ribu
jiwa.
Data terakhir yakni
Maret 2019, dari 163,85 ribu jiwa penduduk miskin yang ada di Bali, sebanyak 97,98
ribu jiwa (59,80 persen) berdiam diri di perkotaan sedangkan sisanya 65,87 ribu
jiwa (40,20 persen) tinggal di desa. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi
nasional, dimana desa masih dicirikan sebagai tempat berkumpulnya orang miskin.
Pariwisata adalah
pahlawan untuk perekonomian Bali. Selain sektor pariwisata, ada pahlawan yang
sangat berjasa bagi masyarakat Bali, terutama bagi masyarakat desa yang termarjinalkan
(tidak bankable). Pahlawan itu adalah
Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
LPD hadir untuk
melayani masyarakat desa dengan mudah, cepat dan yang paling penting dengan
syarat sederhana. Jauh berbeda dengan persyaratan di dunia perbankan. Kondisi
ini membuat masyarakat kecil di desa memiliki sahabat di kala kesusahan. LPD
adalah mitra sejati bagi masyarakat yang tidak bankable. Inilah salah satu tujuan didirikannya LPD pada tahun 1984
oleh Prof Ida Bagus Mantra.
Saat ini terdapat 1.433
LPD di Bali. Hal ini juga menjadikan Bali sebagai pulau seribu LPD selain
dikenal dengan sebutan pulau seribu pura. Secara ekonomi tercatat, asset LPD
sampai akhir 2018 berjumlah Rp 21,76 triliun, menyalurkan kredit sebesar Rp
418,861 triliun, menghimpun dana dalam bentuk tabungan sebesar Rp 8,60 triliun,
dalam bentuk deposito sebesar Rp 9,61 triliun.
Data keuangan tersebut
mencerminkan betapa besarnya kepercayaan masyarakat terhadap LPD. Karena
kerpercyaan yang begitu besar, maka asset LPD melampui jumlah asset yang
dimiliki oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi simpan pinjam yang ada
di Bali. Ini potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh Bali.
Sampai akhir tahun 2018
Laba LPD tercatat sebesar Rp 580,42 milyar. Sebesar Rp 145,10 milyar (25
persen) harus disalurkan ke desa adat baik untuk pembangunan desa maupun untuk
dana sosial. Masyarakat desa bisa menggunakan dana tersebut untuk mambangun
pura, upacara ngaben massal, metatah massal, membangun balai banjar dan
sejenisnya sehingga memperkecil iuran dari masyarakat desa.
Pengurangan iuran untuk
desa bisa dialokasikan untuk biaya lainnya seperti biaya pendidikan anak maupun
biaya kesehatan sehingga masyarakat akan tambah sejahtera. Artinya, LPD sudah
berkontribusi nyata untuk pembangunan desa di Bali. Kontribusi lain, LPD
mempekerjakan sebanyak hampir 8.000 karyawan. Ini artinya LPD berperan dalam
mengurangi angka pengangguran.
Peran nyata LPD akan
semakin besar manakala masyarakat mendukung keberadaan LPD. Dukungan masyarakat
dapat dilakukan dengan memanfaatkan jasa layanan yang ada di LPD. Menabung,
mendepositokan uang, bayar listrik, pajak dan sejenisnya serta pinjam uang di
LPD.
Untuk diketahui, jika
mendepositokan uang di LPD, bunganya jauh lebih tinggi daripada di bank, serta
tidak dikenakan pajak. Artinya dari sisi ekonomi sangat menguntungkan jika
mempercayakan depsosito di LPD. Jika seluruh masyarakat Bali mau mempercayakan
transaksi keuangan di LPD maka masyarakat Bali akan tambah sejahtera.
Fakta di lapangan,
banyak dari golongan menengah ke atas ogah atau enggan menaruh uang di LPD. Di
satu sisi mereka menuntut agar LPD semakin berkontribusi nyata pada pembangunan
desa. Jika hal ini terus terjadi maka akan terjadi debat kusir yang pada
akhirnya tidak menghasilkan perubahan apa-apa.
Marilah mulai dengan menyalakan
lilin kecil daripada mengumpat kegelapan. Anak muda banyak yang acuh tentang keberadaan
LPD. Mereka seperti alergi dengan LPD, padahal di desa tempat tinggalnya ada
LPD. Kaum milenial lebih suka bekerja di kantor pemerintahan (jadi pegawai
honorer) walau gajinya jauh lebih kecil tinimbang bekerja di LPD. Kondisi ini tentu
sangat memperihatinkan.
Visi gubernur Bali
yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali yakni mewujudkan Bali era baru yang salah
satunya dengan getol mengajak masyarakat untuk mencintai dan melestarikan
budaya Bali. LPD sebagai salah satu warisan leluhur patut dijaga dan
dilestarikan keberadaanya. Sudah saatnya anak muda mulai ngeh akan keberadaannya. LPD harus menjadi kebanggaan masyarakat
Bali. Lewat tulisan ini, saya mengajak anak muda serta kaum menengah keatas
untuk mengenal, menyayangi serta memanfaatkan jasa LPD. Karena dengan itulah
kita sudah berkontribusi nyata untuk kemajuan desa serta kemajuan Bali.
Semoga Pak Gubernur
Bali mengeluarkan himbauan untuk mengajak masyarakat Bali menabung maupun
meminjam uang di LPD sama seperti himbauan untuk melestarikan KB Bali. [T]