Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat
umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya
potongan-potongan yang acak. Kelebat bayang aku kecil yang jatuh terpeleset di
ruang tunggu bidan saat diajak Ibuku memeriksakan kandungan, kemeriahan pergi
melasti dan mendapat hadiah gula kapas, jatuh ke dalam sungai saat melintas di
jembatan bambu dan yang membuatku ingin menulis tentang rumah adalah ingatan
tentang sumur.
Saat baru pindah, kami tidak memiliki sumur. Untuk
pemenuhan kebutuhan air bersih konsumsi, kami mengambil air dari sumur milik
tetangga. Ibuku memilih beberapa rumah tetangga yang dikunjungi secara
bergiliran, dengan kriteria; terdekat, sumur tidak terlalu dalam dan tidak ada
anjing galak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kami memilih sumur yang ada di
tengah sawah yang juga menjadi titik temu belasan orang tetangga, terutama saat
waktu mandi sore.
Menurut cerita, sumur itu dibangun oleh orang proyek
yang mengerjakan salurun irigasi bendungan Palasari yang melintasi desa kami. Saat
sudah bersekolah, selain mandi sore di lokasi sumur itu, kami juga membawa
masing-masing satu ember air untuk kebutuhan mandi pagi sebelum berangkat ke
sekolah. Tentu saja selain Ibuku, karena setelah selesai memasak setiap pagi,
dia akan pergi ke sumur untuk mencuci dan mandi.
Pada musim kemarau panjang, seringkali semua sumur di
sekitar rumah kami akan kekeringan sehingga kami akan meminta air ke sumur yang
ada di Pura Taman, yang juga terletak di tengah persawahan. Menurutku sumur di
pura itu ajaib, karena sepengetahuanku sumur itu tidak pernah kering dan ketinggian
airnya sangat stabil seberapapun kemarau melanda. Tentu saja kami tidak mandi
dan mencuci di sana, hanya mengambil air dan dibawa pulang.
Kira-kira di akhir tahun 80, kami memiliki sumur. Aku
yakin Ayahku yang guru sekolah dasar kala itu, menabung cukup rajin untuk
kemudian bisa membayar tukang gali sumur. Sumur milik kami termasuk paling
dalam dibandingkan dengan sumur-sumur milik tetangga, apalagi dengan sumur yang
ada di tengah sawah. Kedalaman sumur kami sebelas depa untuk mendapatkan air
yang stabil. Proses penggalian yang memakan waktu dan begitu dalam,
kelihatannya membuat Ibuku khawatir sehingga berkaul memotong ayam jago dan
membuat cendol daluman kalau penggali sumur mulai menemukan air.
Sebagai anak kecil, aku lebih bahagia karena makan
kuah ayam dan minum cendol daluman dibandingkan merayakan fakta bahwa sumur
sudah ada airnya. Sumur kami yang begitu dalam, menjadi penyesalan kecil bagi
Ayauhku karena memindahkan titik sumur beberapa meter ke arah barat daya dari
yang seharusnya.
Menurut Ayah, sebelumnya dia sudah meminta petunjuk
pada orang pintar yang memberi titik sumur persis di pohon belimbing, tapi
Ayahku sayang pada pohon belimbing itu. Misterius, bagaimana kakek itu tau
tentang pohon belimbing itu, padahal dia belum pernah ke rumah kami? Dan
menurut para penggali sumur, sumber air di dalam sumur kami asalnya dari arah
timur laut, persis arah pohon belimbing itu.
Bertahun-tahun kami bahagia memiliki sumur itu.
Bergiliran menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong di dapur adalah
rutinitas yang menyenangkan awalnya, tapi kemudian terasa menyebalkan. Setelah
itu aku mulai menyadari kekhawatiran Ibuku saat penggalian sumur begitu dalam dan
memilih mengambil air di sumur dangkal milik tetangga ketika itu.
Sumpah, bagiku yang waktu itu belum genap sepuluh
tahun, menimba air dari kedalaman sebelas depa, sangat menguras tenaga dan
emosi. Itu sebabnya, dimusim hujan, aku dan kakakku sering memilih mandi di
saluran irigasi yang kami anggap lebih mudah dan menyenangkan, tapi menjadi
tidak menyenangkan kalau kepergok Ayah kami karena kami tetap harus mandi lagi
dan menimba lagi, karena dianggap mandi tidak bersih dan berenang dengan bebek.
Ibuku juga sering mencuci di saluran irigasi, tentu untuk alasan menimba air
yang melelahkan.
Pada awal tahun 2000, PAM (Perusahaan Air Minum) mulai
memasang pipa di depan rumah kami dan tentu saja Ayahku mendapat tawaran untuk
memasang air PAM. Aku senyum-senyum dalam hati mengingat pikiran masa kecilku
yang menganggap punya keran itu keren, seperti yang sesekali aku nikmati saat
berkunjung ke rumah paman yang tinggal di pinggir jalan raya
Denpasar-Gilimanuk.
Ayahku baru memasang air PAM dua tahun kemudian,
sebagai hadiah bagi Ibuku yang telah tegar menghadapi proses operasi tumor yang
menjangkiti kandungannya. Dengan mengucurnya air dari keran, sangat memudahkan
aktivitas Ibuku pada tahun-tahun pertama paska operasi yang tentu tidak sanggup
jika harus menimba air dari sumur, sementara kami anak-anaknya yang sudah
keluar dari rumah untuk sekolah dan bekerja tidak bisa membantunya.
Sudah dua minggu aku tinggal di rumah ini lagi, untuk
memenuhi anjuran pemerintah mengisolasi diri karena kasus virus covid-19 yang
mewabah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dua minggu, waktu tinggal terpanjang
semenjak lepas sekolah dan mulai bekerja, waktu yang panjang untuk membuat otak
terbengong-bengong dan mulai mengulik apa-apa yang selama ini tidak pernah
terpikirkan, detail yang tidak penting mulai terasa penting, seperti halnya
sumur dan air PAM.
Sejak sumur-sumur digali di setiap rumah, sumur
ditengah sawah tidak lagi digunakan walau tetap setia menampung air. Sejak air disalurkan
melalui pipa-pipa kemudian begitu mudah mengucur dari keran, sumur di
rumah-rumah mulai dilupakan walau tetap setia dengan misteri dikedalamannya. Sejak
air tinggal klecek di keran, rasanya mewah penuh kemanjaan. Tidak ada lagi air
yang diangkut dengan ember, tidak ada lagi ember yang dikerek kepermukaan dari
kegelapan perut bumi.
Setelah merasakan kemewahan dan kemanjaan, rasanya
mulai muncul sikap kurang ajar. Makian ketika air keran mati beberapa jam, atau
ketika mati beberapa hari maka sumpah serapah akan ditujuakan pada
perusahana-perusahaan yang mengelola pipa-pipa itu.
Saya merasa mewah, merasa dimanjakan dan juga mulai
kurang ajar, tanpa pernah peduli atau sekedar bertanya siapakah yang merawat
sumber-sumber air yang diangkut dengan pipa-pipa itu ke rumah dan mengucur tiap
saat ketika keran dibuka? Saya jadi ingat ungkapan seorang petani ketika
pipa-pipa dipasang dari mata air di hulu sungai desa kami menuju rumah-rumah
penduduk, “Gendok bek, pulu puyung”. Gentong
air penuh, gentong beras kosong. [T]