Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya potongan-potongan yang acak. Kelebat bayang aku kecil yang jatuh terpeleset di ruang tunggu bidan saat diajak Ibuku memeriksakan kandungan, kemeriahan pergi melasti dan mendapat hadiah gula kapas, jatuh ke dalam sungai saat melintas di jembatan bambu dan yang membuatku ingin menulis tentang rumah adalah ingatan tentang sumur.
Saat baru pindah, kami tidak memiliki sumur. Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih konsumsi, kami mengambil air dari sumur milik tetangga. Ibuku memilih beberapa rumah tetangga yang dikunjungi secara bergiliran, dengan kriteria; terdekat, sumur tidak terlalu dalam dan tidak ada anjing galak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kami memilih sumur yang ada di tengah sawah yang juga menjadi titik temu belasan orang tetangga, terutama saat waktu mandi sore.
Menurut cerita, sumur itu dibangun oleh orang proyek yang mengerjakan salurun irigasi bendungan Palasari yang melintasi desa kami. Saat sudah bersekolah, selain mandi sore di lokasi sumur itu, kami juga membawa masing-masing satu ember air untuk kebutuhan mandi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tentu saja selain Ibuku, karena setelah selesai memasak setiap pagi, dia akan pergi ke sumur untuk mencuci dan mandi.
Pada musim kemarau panjang, seringkali semua sumur di sekitar rumah kami akan kekeringan sehingga kami akan meminta air ke sumur yang ada di Pura Taman, yang juga terletak di tengah persawahan. Menurutku sumur di pura itu ajaib, karena sepengetahuanku sumur itu tidak pernah kering dan ketinggian airnya sangat stabil seberapapun kemarau melanda. Tentu saja kami tidak mandi dan mencuci di sana, hanya mengambil air dan dibawa pulang.
Kira-kira di akhir tahun 80, kami memiliki sumur. Aku yakin Ayahku yang guru sekolah dasar kala itu, menabung cukup rajin untuk kemudian bisa membayar tukang gali sumur. Sumur milik kami termasuk paling dalam dibandingkan dengan sumur-sumur milik tetangga, apalagi dengan sumur yang ada di tengah sawah. Kedalaman sumur kami sebelas depa untuk mendapatkan air yang stabil. Proses penggalian yang memakan waktu dan begitu dalam, kelihatannya membuat Ibuku khawatir sehingga berkaul memotong ayam jago dan membuat cendol daluman kalau penggali sumur mulai menemukan air.
Sebagai anak kecil, aku lebih bahagia karena makan kuah ayam dan minum cendol daluman dibandingkan merayakan fakta bahwa sumur sudah ada airnya. Sumur kami yang begitu dalam, menjadi penyesalan kecil bagi Ayauhku karena memindahkan titik sumur beberapa meter ke arah barat daya dari yang seharusnya.
Menurut Ayah, sebelumnya dia sudah meminta petunjuk pada orang pintar yang memberi titik sumur persis di pohon belimbing, tapi Ayahku sayang pada pohon belimbing itu. Misterius, bagaimana kakek itu tau tentang pohon belimbing itu, padahal dia belum pernah ke rumah kami? Dan menurut para penggali sumur, sumber air di dalam sumur kami asalnya dari arah timur laut, persis arah pohon belimbing itu.
Bertahun-tahun kami bahagia memiliki sumur itu. Bergiliran menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong di dapur adalah rutinitas yang menyenangkan awalnya, tapi kemudian terasa menyebalkan. Setelah itu aku mulai menyadari kekhawatiran Ibuku saat penggalian sumur begitu dalam dan memilih mengambil air di sumur dangkal milik tetangga ketika itu.
Sumpah, bagiku yang waktu itu belum genap sepuluh tahun, menimba air dari kedalaman sebelas depa, sangat menguras tenaga dan emosi. Itu sebabnya, dimusim hujan, aku dan kakakku sering memilih mandi di saluran irigasi yang kami anggap lebih mudah dan menyenangkan, tapi menjadi tidak menyenangkan kalau kepergok Ayah kami karena kami tetap harus mandi lagi dan menimba lagi, karena dianggap mandi tidak bersih dan berenang dengan bebek. Ibuku juga sering mencuci di saluran irigasi, tentu untuk alasan menimba air yang melelahkan.
Pada awal tahun 2000, PAM (Perusahaan Air Minum) mulai memasang pipa di depan rumah kami dan tentu saja Ayahku mendapat tawaran untuk memasang air PAM. Aku senyum-senyum dalam hati mengingat pikiran masa kecilku yang menganggap punya keran itu keren, seperti yang sesekali aku nikmati saat berkunjung ke rumah paman yang tinggal di pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk.
Ayahku baru memasang air PAM dua tahun kemudian, sebagai hadiah bagi Ibuku yang telah tegar menghadapi proses operasi tumor yang menjangkiti kandungannya. Dengan mengucurnya air dari keran, sangat memudahkan aktivitas Ibuku pada tahun-tahun pertama paska operasi yang tentu tidak sanggup jika harus menimba air dari sumur, sementara kami anak-anaknya yang sudah keluar dari rumah untuk sekolah dan bekerja tidak bisa membantunya.
Sudah dua minggu aku tinggal di rumah ini lagi, untuk memenuhi anjuran pemerintah mengisolasi diri karena kasus virus covid-19 yang mewabah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dua minggu, waktu tinggal terpanjang semenjak lepas sekolah dan mulai bekerja, waktu yang panjang untuk membuat otak terbengong-bengong dan mulai mengulik apa-apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan, detail yang tidak penting mulai terasa penting, seperti halnya sumur dan air PAM.
Sejak sumur-sumur digali di setiap rumah, sumur ditengah sawah tidak lagi digunakan walau tetap setia menampung air. Sejak air disalurkan melalui pipa-pipa kemudian begitu mudah mengucur dari keran, sumur di rumah-rumah mulai dilupakan walau tetap setia dengan misteri dikedalamannya. Sejak air tinggal klecek di keran, rasanya mewah penuh kemanjaan. Tidak ada lagi air yang diangkut dengan ember, tidak ada lagi ember yang dikerek kepermukaan dari kegelapan perut bumi.
Setelah merasakan kemewahan dan kemanjaan, rasanya mulai muncul sikap kurang ajar. Makian ketika air keran mati beberapa jam, atau ketika mati beberapa hari maka sumpah serapah akan ditujuakan pada perusahana-perusahaan yang mengelola pipa-pipa itu.
Saya merasa mewah, merasa dimanjakan dan juga mulai kurang ajar, tanpa pernah peduli atau sekedar bertanya siapakah yang merawat sumber-sumber air yang diangkut dengan pipa-pipa itu ke rumah dan mengucur tiap saat ketika keran dibuka? Saya jadi ingat ungkapan seorang petani ketika pipa-pipa dipasang dari mata air di hulu sungai desa kami menuju rumah-rumah penduduk, “Gendok bek, pulu puyung”. Gentong air penuh, gentong beras kosong. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...