Begitu rapuhkah Ogoh-ogoh dibanding
sesuatu yang tak tampak (Covid-19) yang tidak bisa kita prediksi?
Ogoh-ogoh adalah lambang Bhuta Kala.
Ogoh-ogoh adalah wujud dari imajinasi estetik orang Bali terhadap Bhuta-Kala
yang hanya bisa diangankan.
Sekarang ketika Bhuta-Kala mengejawantah
menjadi nyata sebagai Covid-19, imajinasi estetik (Ogoh-ogoh) harus menepi diam
tidak diarak kita kunci di Balai Banjar.
Kenapa?
Karena yang dihayalkan telah hadir sebagai
kuasa alam tiada terhalang sedang melalap dunia. Begitulah nasihat dalam
lontar-lontar kuno peninggalan leluhur Bali: Bhuta-Kala mengejawantah dalam
berbagai penyakit yang disebut dengan mrana, gering, gerubug, bah bedeg, sasab
— berbagai wabah yang pernah menyerang pulau Bali.
Ogoh-ogoh
bukan seni biasa. Ogoh-ogoh adalah seni memprediksi
masa depan.
Masa depan apa yang diprediksi Ogoh-ogoh?
Bahwa ada berbagai ancaman berbagai
Bhuta-Kala (mara-bahaya-bencana-ancaman penyakit-wabah-dstnya) yang bisa datang
ke dunia kita. Ada berbagai ancaman horor yang bisa menjelma menjadi kenyataan.
Lewat seni Ogoh-ogoh orang Bali diajak
melihat imajinasi dan memprediksi bahwa Bhuta-Kala bisa hadir dalam berbagai
bentuk horor dan ancaman nyata dunia.
Pelajarannya: Agar kita siaga kalau
kekuatan energi alam semesta yang tidak tampak itu turun menjadi penyakit dan
ancaman kehidupan. Agar kita siaga dengan berbagai bentuk horor dan ancaman
kemanusiaan yang bisa terjadi kapan saja.
Sudahkah
kita siap ketika Ogoh-ogoh (imajinasi Bhuta-Kala) yang kita arak dalam pawai
itu tiba-tiba menjelma dan menyerang manusia?
Semenjak tahun 1983 — semenjak ada
Festival Ogoh-ogoh — telah dibuat ribuan Ogoh-ogoh dibuat dan diarak. Artinya
ada ribuan imajinasi Bhuta-Kala telah diprediksi dalam berbagai bentuk dan
ekspresi oleh orang Bali. Ribuan ancaman marabahaya telah diimajinasikan oleh
masyarakat dan anak-anak banjar.
Seharusnya sekarang kita harus siap.
Siap?
Ya, seharus kita telah siap melihat dan
menghadapi bahwa kekuatan Bhuta-Kala yang imajiner hadir ke muka bumi. Sekarang
yang imajiner itu hadir sebagai virus: Covid-19.
Ogoh-ogoh telah mengajari anak-anak banjar
bahwa apa yang diarak dalam pawai adalah kekuatan Bhuta-Kala yang harus
diantisipasi dengan bijak dan penuh nalar.
Semua pemuda Bali yang lahir setelah tahun
1983 adalah “Generasi Ogoh-Ogoh.” Generasi Ogoh-ogoh ini adalah generasi
berani. Generasi yang telah belajar bahwa imajinasi manusia tentang Bhuta-Kala
beragam dan bisa dirayakan.
Bhuta-Kala bukan hanya ditakuti, tapi
diimajinasikan dan wujudkan, diarak dalam pawai, dan kemudian kita “somya”
(lebur kembali kembali ke alamnya). Artinya: Dibuat untuk diantisipasi.
Sepantasnya berani gagah dan nalar untuk
tabah dan bijak menyikapi Bhuta-Kala yang kini mengejawantah menjadi Covid-19.
Bagaimana bijak menyikapi Bhuta-Kala yang
mengejawantah?
Satu caranya yang ampuh mengurangi korban:
Memberi waktu Sang Bhuta-Kala berlalu.
Dukung dan beri dukungan para petugas
medis dan pelaksana tugas yang merawat korban. Selebihnya harus berdiam diri
dan sabar menunggu sampai Sang Bhuta-Kala benar-benar berlalu. Sabar sampai benar-benar
aman.
—
Bayangkan saja sekarang ribuan Ogoh-ogoh yang telah dibuat semenjak tahun 1983
itu bangkit dan berjalan di jalanan menguasai jalanan di penjuru Bali, bahkan
penjuru dunia.
—
Bayangkan Ogoh-ogoh di masa lalu itu bernyawa dan bergerak di alam tak tampak
dan siapa yang menghalangi terseruduk dan terserang Coronavirus.
—
Bayangkan ribuan Ogoh-ogoh dengan segala senjata dan segala kuasa Bhuta-Kala
mengamuk menguasai jalan.
—
Bayangkan mereka haus dan lapar. Mencari mangsa dan tumbal. Bayangkan mereka
meminta korban nyawa manusia yang harus ditadah jadi tetadahan.
—
Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Ini adalah waktuku. Beri aku waktu berjalan.
Siap saja yang tidak minggir dari jalan dan keramaian akan aku tadah (cabut
nyawanya sebagai tumbal)”.
—
Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Manusia yang berdiam diri di rumah akan selamat.
Manusia yang masih berkeliaran di jalan berarti menantangku. Akan kutadah
(kumakan) siapa yang berkeliaran, termasuk orang tua, anak, dan teman-teman
dekatnya yang tidak menghentikan dan melarangnya untuk tidak keluar ke jalan
menantangku.”
LOGIKANYA:
Ketika sedang berlangsung pawai Ogoh-ogoh
lewat, maka kita sebagai pejalan kaki harus menepi. Biarkan dulu lewat semua
Ogoh-ogoh sampai pawai usai dan benar-benar selesai.
Jika pawai Ogoh-ogoh sedang berjalan, kita
sok menantang dan mau lewat dengan mobil kita atau kendaraan kita, pasti kepala
kita dikepluk banjar. Pasti kita diteriaki dan beresiko diadili anak-anak
banjar.
Begitulah. Sekarang terjadi pawai Ogoh-ogoh niskala. Sekarang Ogoh-ogoh niskala berjalan di jalanan
menguasai jalanan niskala.
Kita harus menepi. Kita harus bakti. Kita
harus lapang hati. Karena apa yang kita imajinasikan secara estetik dan budaya
bukan sekedar imajinasi biasa. Ogoh-ogoh adalah imajinasi gaib yang memang
sungguh betul-betul gaib. Ada dan bisa mengejawantah menjadi mrana-wabah-sasab
menyakit menular yang bisa merubuhkan dunia.
Ketika Ogoh-ogoh yang kita imajinasikan
secara budaya dan religi di Bali hadir ke alam nyata, artinya kepercayaan dan
agama yang kita anut benar-benar keramat, bukan sekedar mitos. Kita harus bijak
menepi dan merenung bahwa realitas Ogoh-ogoh telah hadir dan meminta jalan.
Kitalah sekarang yang bijak minggir ke tepi dan menepi mengurung diri dalam
rumah.
Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh
Covid-19. Tapi Covid-19 sesungguhnya adalah Ogoh-ogoh yang sesungguhnya. Hadir
ke dunia berpawai menguasai panggung dunia, menguasai jalanan dunia, kita harus
minggir menepi.
Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh
Covid-19, tapi Nyepi kali ini, Nyepi tahun ini Ida tedun ke mercapada (beliau menjelma ke dunia kasat mata) — tendun
mangreh manadi virus (turun ke dunia menjelma dalam wajah horor tak
kasat mata sebagai virus).
Sesungguhnya sekarang “Ogoh-ogoh niskala”
sedang ngelawang (pentas keliling) keliling dunia. Ida memargi (Beliau
berjalan dan menguasai jalanan). Kita harus melakukan brata menarik diri tidak
keluar, amati lelungan, sampai waktunya selesai Ida usan ngelawang
(Beliau usai pentas keliling). Kita harus sabar mengurung diri menunggu sampai
beberapa waktu ke depan.
Kita belum tahu kapan ida kasomya (beliau
dikembalikan ke alam nir/nis/tiada tampak). Kita belum ketemu diwasa
(hari-waktu-momentum) kapan beliau amor kembali ke alam nis.
Sebelum waktu somya (kembalikan ke alam
nir/nis)
tiba, kita harus mawas diri dan mengurung diri.
Siapa yang berkeliaran di saat beliau memargi (berjalan) akan tersandung. Siapa yang liar keluar yang kesandung Bhuta-Kala. Janjinya siapa teguh brata mengurung diri yang selamat. [T]