Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Kadang saya berpikir sambil duduk memandangi lautan lepas, karna kapal tempat saya bekerja tidak dperbolehkan untuk bersandar. Dibalik kasus virus corona ini ada hikmah tersendiri. Sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Begitu pula menjaga pola makan dan jenis makanan.
Dan bagi saya pribadi, dengan tidak adanya tamu, pekerjaan sedikit, saya bisa punya waktu dan energi lebih untuk menulis.
Seluruh dunia sekarang sedang dalam situasi genting. Semua sibuk berperang melawan virus yang sampai saat ini telah menelan puluhan ribu jiwa di seluruh dunia. Belum lagi yang terinfeksi. Kejadian luar biasa ini berimbas di segala lini kehidupan. Termasuk melemahnya perekonomian dunia.
Bagi para pekerja kapal pesiar seperi tulisan saya sebelumnya, menjadi sebuah shock therapy mengingat mereka mendapatkan rejeki dari tamu yang notabene sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.
Hingga akhirnya pemerintah Amerika memutuskan untuk melarang warganya bepergian menggunakan kapal pesiar sampai batas waktu yang ditentukan yakni 30 hari. Mungkin saja nanti akan diperpanjang apabila keadaan dunia masih belum stabil dan virus corona masih belum menurun intensitasnya.
Dengan tidak adanya tamu, mutlak crew member yang penghasilannya berasal dari tiping tamu, tidak ada lagi pemasukan. Mereka hanya mendapat gaji pokok saja. Begitu juga kemungkinan ke depannya. Pulang itu adalah sudah pasti. Tapi mungkin bertahap. Company juga masih butuh beberapa orang di masing-masing departemen untuk tetap stay di kapal.
Dalam situasi yang seperti ini, pekerjaan sedikit, banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk hal-hal yang positif dan menyenangkan. Ada yang berenang, lari sore di jogging track, begitu pula dengan fasilitas-fasilitas lainnya boleh digunakan oleh crew seperti gym, smoking area, swimming pool dan lain-lain.
Diantara semua itu, karena saya lebih senang duduk dan melamun, saya memutuskan untuk kembali menulis setelah sekian lama absen, dalam artian sudah lama saya tidak intens menulis dan menelurkan tulisan.
___
___
Dulu, sebelum bekerja di kapal pesiar, saya masih bisa menulis cerita pendek berbahasa Bali. Beberapa cerita tersebut saya masukkan ke dalam buku Antologi Ling. Kumpulan cerpen mistis kriminalis.
Anehnya, 5 tahun di kapal, saya sama sekali belum menulis cerita tentang kehidupan kapal. Mungkin artikel-artikel yang saya buat di Tatkala ini menjadi momentum pertama saya menuliskan situasi di kapal pesiar dan pertama kal saya menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia.
Saat ini, masih ada tabungan ide dan tulisan berbahasa Bali yang akan saya terbitkan nanti. Sambil belajar menulis menggunakan bahasa Indonesia. Karena menurut saya pribadi, ketika sudah terbiasa menulis dengan bahasa Bali, untuk melompat menggunakan bahasa Indonesia agak sulit. Masih terlihat kaku. Semoga nanti terbiasa.
Hari-hari belakangan ini, di kapal, saya menulis apa saja yang saya temui. Belajar menulis di kapal pesiar dan saya sebagai pelaku di dalamnya. Tak bisa dipungkiri, dalam kekhawatiran, kecemasan serta kegentingan akibat adanya virus corona, menulis menjadi sebuah pilihan untuk menuangkan segala perasaan dan hal-hal lain yang telah saya temui.
Banyak hal yang terjadi. Banyak hal pula yang harus ditulis. Semoga saja kesehatan selalu ada dalam diri ini hingga saya bisa tetap menuliskan yang telah berlalu dan situasi saat ini yang selalu berubah tiap detik.
Salam dari samudra. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...