Pandemi COVID-19 memberikan efek
samping tak langsung bagi berbagai kalangan masyarakat. Ekonomi mati karena
sebagian besar kantor/usaha non-esensial ditutup. Karyawan diputus kontrak
karena tidak adanya konsumen. Masyarakat panik akan terpapar penyakit yang
menyebar cepat, sehingga mulai terjadi krisis barang pokok kesehatan seperti
masker dan hand sanitizer serta naiknya harga kebutuhan sehari-hari. Seandainya
lockdown diberlakukan dengan durasi yang relatif panjang, kesehatan
psikis masyarakat akan menjadi hal yang akan dikhawatirkan selanjutnya.
Namun demikian, tak sedikit kalangan
yang merenungkan berbagai dampak positif dari krisis kesehatan ini. Bill Gates menyerukan
bahwa pandemi global ini mengingatkan kita akan berbagai pelajaran penting yang
sering terlupakan dan kini tergantung kita apakah akan belajar dari krisis ini
atau tidak. Berikut di antaranya adalah efek riak positif yang dapat diambil dari
pandemi dunia ini.
Yang paling mendasar, semakin banyak
orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dengan sabun dan
tidak menyentuh wajah. Hal ini menyebabkan berkurangnya infeksi penyakit akibat
kuman, bakteri dan virus. Contohnya, kasus
flu di Jepang berkurang sekitar 14 juta kasus dibandingkan tahun lalu untuk
periode hingga bulan Maret.
COVID-19 mengingatkan kita bahwa alam
sebenarnya sedang sakit dan perlu disembuhkan. Berkurangnya mobilisasi publik
secara drastis baik darat, laut ataupun udara membantu mengurangi emisi karbon
dioksida. Contohnya di Cina, emisi CO2 turun 25% atau sekitar 200
juta ton dibandingkan tahun lalu per bulan Maret. Di Venezia, Italia, air tampak
lebih jernih dari sebelumnya karena tidak ada lagi aktivitas masyarakat
setempat setelah lockdown nasional yang sedang terjadi di Italia. Cina
secara permanen mengilegalkan konsumsi hewan liar karena ada isu bahwa asal
usul menyebarnya coronavirus berawal dari konsumsi hewan liar di Wuhan. Sehingga,
beberapa spesies langka seperti trenggiling, yang biasa dikonsumsi di Cina
dapat terjaga dari kepunahan.
Saat penulisan artikel ini, 1/5
wilayah di Bumi sedang melakukan lockdown. Hal ini memberikan dampak
yang cukup signifikan terhadap hubungan keluarga masyarakat yang melakukan lockdown.
Di masa normal, kita terkadang terlalu memfokuskan diri dengan dunia
masing-masing; pekerjaan, sekolah, tugas, dan lain sebagainya. Masa lockdown
memberikan momentum bagi masyarakat untuk lebih mendekatkan diri dengan anggota
keluarganya. Masa ini memberikan kesempatan bagi kita untuk semakin mempererat
hubungan keluarga.
Di tahun 1971, John Lennon hanya
dapat berimajinasi bagaimana seandainya negara, agama, rasa kepemilikan, surga
dan neraka tidak ada. Saat ini, segala imajinasinya seakan menjadi nyata. Pemerintah
dunia bahu membahu melupakan label negara, agama, ras dan lainnya untuk melawan
musuh bersama ini. Kita tidak tahu hingga kapan rasa ‘amnesia’ atas konsep
negara, agama, golongan politik, ras, budaya, akan bertahan. Yang jelas saat
ini kerjasama global antar negara semakin erat.
Cina memberikan bantuan APD kepada
Indonesia, Rusia mengirimkan dokter ke Italia, peneliti dari semua negara
saling berbagi informasi untuk menciptakan vaksin dan obat bagi penyakit baru ini.
Semenjak hangatnya isu pandemi ini, secara spontan dan serentak segala omongan
dan argumen bersubyek agama, politik, korupsi, wilayah kekuasaan, ras, etnis,
budaya terdiam membisu. Semua orang sadar bahwa memperdebatkan isu-isu dengan
subyek tersebut tidak akan membawa kita ke arah kemajuan, namun justru
menunjukkan bahwa umat manusia belum seberadab yang dipikirkan. Wabah ini
mengingatkan kita atas subyek yang paling esensial; kemanusiaan.
COVID-19 menyadarkan pemangku jabatan
untuk memikirkan kembali alokasi dana negara. Setelah ditemukannya vaksin untuk
SARS ketika mewabah di tahun 2003, pendanaan untuk penelitian lebih lanjut
dipangkas dan beberapa negara seperti AS, Cina, Iran, dan Rusia mengalihkan
dana untuk penelitian nuklir dan teknologi perang. Ketika wabah COVID-19
terjadi sekarang tak sedikit kalangan yang mulai menganggap bahwa pemangkasan
dana penelitian tersebut menjadi cikal bakal lambatnya penanganan wabah Corona
saat ini. Beberapa tahun lalu Bill Gates menunjukkan kekhawatirannya akan epidemi
yang bisa muncul karena kita tidak cukup mendanai pembuatan sistem untuk
menghentikan epidemi di masa depan. Akhirnya, epidemi tersebut terjadi
sekarang.
Masyarakat kini juga mulai menghargai
hal-hal yang dulunya dianggap sepele. Masker, sabun tangan, hand sanitizer, air
dan komoditas kesehatan lainnya sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan
emas, berlian, mobil mewah ataupun rumah mewah. Wabah saat ini menyadarkan kita
bahwa segala bentuk kemewahan tidak akan membuat kita lebih hebat dibandingkan
orang lain.
Di masa ini manusia mulai mengingat
kembali satu keterampilan dasar yang telah dimiliki manusia sejak diciptakan:
cinta dan kasih. Banyak orang mulai sadar untuk saling berbagi. Sejumlah kalangan
membagikan masker, hand sanitizer dan vitamin gratis bagi masyarakat yang
kurang mampu karena mereka sadar bahwa kesehatan satu orang akan berdampak bagi
orang lainnya.
Pada masa krisis ini manusia
disadarkan bahwa butterfly effect benar-benar ada. Kita semua terhubung dari
satu ujung Bumi hingga ujung lainnya secara tidak langsung. Apa yang dilakukan
satu orang di belahan Bumi satu memiliki dampak signifikan bagi orang di
belahan Bumi lainnya. Kita pun mulai mengerti
bahwa keegoisan hanya akan memperburuk keadaan. Sebisa mungkin tetaplah lakukan
hal yang berdampak positif bagi masyarakat umum, tidak hanya diri sendiri.
Kita sebagai makhluk spiritual juga
dapat belajar bahwa hidup kita lebih dari apa yang kita pahami. Kadang kita
tidak mempedulikan hal-hal kecil di sekitar kita dan menerima segala kenyamanan
hidup begitu saja, seakan semua kenyamanan tersebut adalah hak asasi kita.
Lihat sekarang yang ‘membunuh’ kita adalah virus, benda kecil tak terlihat yang
mungkin kita selama ini anggap sepele. Kita juga menyadari bahwa hidup
sangatlah singkat dan tujuan mutlak kita di dunia adalah untuk membantu satu
sama lain dan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. Kita tidaklah
terlahir sekadar untuk membahagiakan diri sendiri. Justru sering kali
sebenarnya kebahagiaan datang ketika kita tahu kita telah berkontribusi bagi
kebahagiaan atau kepentingan orang lain.
Pada akhirnya, wabah ini bisa jadi merupakan akhir dari peradaban atau bisa juga merupakan awal dari peradaban yang baru; dunia yang lebih beradab, lebih waras dan dengan ego manusia yang berkurang. Dunia baru, yang membuat kita mengesampingkan kepentingan pribadi, mengesampingkan segala perbedaan dan dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita yang jauh lebih baik dibandingkan dunia yang kita huni saat ini. Sekali lagi, semua hal dapat dilihat dari berbagai sisi. COVID-19 bisa kita lihat melalui kacamata suram dan gelap, tapi bisa juga kita pandang melalui jendela cerah yang penuh dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Semoga krisis ini segera berlalu dan kita dapat menuju peradaban yang lebih baik. Salam damai.[T]