Covid 19 begitu ganas. Seluruh dunia meradang. Status pandemi pun diputuskan oleh WHO terhadap virus buas ini, karena menjangkiti banyak negara di beberapa benua. Awalnya orang yang terinfeksi pertama di kota Wuhan, Tiongkok, terus menyebar ke berbagai kota dalam hitungan hari. Tak sampai satu bulan, virus ini menjelajah negara-negara lain di luar Tiongkok.
Kita di Indonesia, awalnya yang santai-santai, begitu terkejut saat diumumkan 2 orang warga terinfeksi. Dalam hitungan hari warga yang terinfeksi bertambah jadi ratusan. Beberapa meninggal dunia. Status gawat darurat dicetuskan. Anak-anak diliburkan dari sekolah. ASN juga mulai disarankan kerja dari rumah.
Virus korona baru, Covid 19, memang tidak bisa dianggap remeh. Virus yang konon katanya sangat rapuh jika berada di udara bebas ini, kena cairan sabun saja sudah lumpuh, tapi kalau sudah masuk ke dalam tubuh dia akan tangguh dan bisa membunuh.
Sejak dua orang Indonesia yang pertama terinfeksi covid 19 ini diumumkan, masyarakat sempat panik. Masker diborong dan jadi langka. Hand sanitizer, bahkan alkohol 100 persen pun ikut lenyap di pasaran. Kebutuhan pokok seperti beras juga ikut diborong masyarakat yang kawatir.
Sejak itulah kami dihimbau untuk tinggal di rumah masing-masing. Lebih aman tinggal di rumah, menjauh dari ancaman virus mematikan itu. Virus itu tidak terbang sendiri untuk mencari korban-korbannya, tapi hinggap pada orang-orang yang menjadi perantara, atau istilah kerennya carrier. Tak ada yang kebal. Covid 19 tidak memilih korbannya, tapi siapa saja yang bisa dihinggapi. Siapa saja yang dekat dengan si perantara, orang yang terinfeksi.
Anak-anak senang diliburkan, tapi cemberut karena kami
tidak mengijinkan piknik.
“Ini bukan liburan sekolah, tapi cara yang jitu bersembunyi dari kejaran virus,” kata saya memberi pengertian mereka. Toh mereka tidak betul-betul istirahat di rumah, tapi diberi tugas bertumpuk-tumpuk oleh guru mereka untuk dikerjakan secara online. Mereka belajar secara mandiri, tanpa tatap muka dengan sang pengajar. Iya, sesungguhnya itu bukan liburan sekolah, tapi mengubah cara belajar saja. Karena virus covid 19, semua jadi darurat.
Gian, anak sulung saya, bilang mulai bosan, karena tugas yang susah harus dipecahkan sendiri, yang membuatnya agak stres. Tapi apa boleh buat, kita tidak berani piknik untuk menyegarkan pikiran. Apalagi nonton film ke bioskop, yang menjadi hobi anak sulung kami itu. Bioskop menjadi salah satu tempat yang paling riskan dari penyebaran covid 19.
Untuk mengusir kebosanan, Gian menonton film-film lewat internet di kamarnya, lewat laptop dan jaringan wifi yang sudah tersedia di rumah kami.
Sedangkan anak kami yang bungsu, Prema Ananda, menghabiskan berjam-jam waktunya untuk main game online. Ketika dia bosan, sorenya dia minta main bulutangkis di taman bunga depan rumah kami. Tentu dengan senang hati saya melatihnya, sambil berharap suatu ketika dia bisa menjadi pemain nasional yang akan mewakili Indonesia nanti…hehehe. Boleh kan bercita-cita tinggi. Bukankah orang bijaksana berkata: jangan membatasi cita-citamu!
Bermain bulutangkis untuk menghilang kebosanan
Iya, saban sore kami piknik di rumah saja. Tepatnya di
taman bunga depan rumah kami. Kebetulan tempat itu sepi, jadi aman dari kerumunan
massa, mungkin aman juga dari paparan covid 19. Saya dan si bungsu bermain
bulutangkis, sedangkan Gian dan ibunya duduk-duduk menonton kami yang sedang latihan. Sesekali
mereka memainkan smartphone di genggaman
masing-masing. Taman bunga yang sering kami cuekin, ternyata menjadi tempat
bercengkrama keluarga kecil kami yang mengasyikkan.
Saat kerja, saya tak perlu kawatir lagi, sebab ada istri sekarang di rumah 24 jam. Istri saya kebetulan sebagai ASN di Pemda Badung, yang diliburkan juga sejak merebaknya kasus covid 19 ini. Istri sekarang seolah sebagai ibu rumah tangga yang menjaga anak-anak di rumah, terutama memastikan kesehatan mereka. Terutama anak kami yang bungsu, yang sering telat-telat makan siang karena selama ini di luar pantauan kami. Sekarang terasa lebih aman. Untuk sementara, dalam keadaan darurat ini, ada yang melindungi anak-anak dari makanan luar. Anak-anak menjai jauh dari makanan jalanan, dan kini jadi lebih disiplin makan di rumah karena tunduk dengan ibunya.
Iya, kita ambil hikmah saja dari kasus covid 19 ini. Keadaan ini telah mendekatkan diri kita dengan rumah sendiri. Istri sekarang lebih banyak waktu untuk bersih-bersih rumah. Bahkan sekarang mulai memperhatikan kebun. Saat terasa ada tanaman yang kurang, yaitu lidah buaya, tanaman yang sangat bermanfaat itu, segera dia membeli bibit lidah buaya dan menanam sendiri dalam sebuah pot mungil.
Semenjak dirumahkan itu, anak-anak kami lebih sering bernyanyi. Bernyanyi mengikuti vokal para vokalis dari grup terkenal lewat smartphone mereka. Yah, itu jauh lebih positif daripada main game online. Bernyanyi akan melatih dan menstimulasi otak. Bernyanyi akan membuat gembira dan tubuh secara otomatis memproduksi hormon Endorfin, hormon yang baik untuk kesehatan. Bernyanyi menghaluskan hati dan melatih konsentrasi. Bernyanyi akan menyeimbangkan otak kanan-kiri. Kalau otak kanan-kiri tumbuh tidak seimbang, manusia cenderung egois.
Yah, kita terima saja hikmah ini dengan berpikir positif. Semoga darurat ini segera berakhir, dan anak-anak bisa kembali bersekolah, bersosialisasi dengan teman-teman mereka tanpa kawatir. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...