Bumi layaknya bagian dari
tubuh semesta. Berotasi dan berevolusi pada porosnya hingga beredar
mengelilingi matahari. Pun tubuh mahluk hidup, kesatuan yang melingkupi
dan mengandung lima unsur dasar semesta, yakni air, tanah, api, udara dan ether
(zat)
Segala alur peredaran dan siklus di dalam alam semesta sejatinya melakukan jeda, diam dan atau kosong pada ruang dan waktu sedemikian rupa. Pada titik tertentu, semua akan berhenti sejenak, sadar dan tidak sadar kita rasakan dan saksikan, baik secara nyata maupun tidak nyata.
Dalam
konteks kearifan budaya lokal, masyarakat agraris di Bali, sejak dahulu telah
dan hingga kini mengenal dan melakoni budaya “ngeneng”, istilah budaya agraris
pada masyarakat Bali, yang hakikatnya tercermin dalam wujud pergantian obyek
jenis tanaman, yang di biasanya ditanam di lahan persawahan.
“Ngeneng”, dapat diartikan
“jeda”, musim menanam tanaman palawija, diantara musim menanam tanaman basah
(umunya padi) di sawah. Dalam pergantian inilah memerlukan ketepatan waktu pada
lahan (ruang) olahannya.
Jeda
waktu pada ruang ini, dalam kearifan budaya lokal masyarakat agraris Bali,
dikenal dengan istilah “ngeneng”. Ngeneng, tidak semata-mata hakikatnya
menggantikan tanaman dari kelas tanaman monokotil ke tanaman dikotil. Atau
basah ke kering.
Namun ada ruang dan waktu
yang diporsikan dengan perhitungan ketepatan wilayah masing-masing dengan
melalui kesepakatan dalam wadah organisasi “subak”, dengan “Pekaseh/Klian
Subak” sebagai pemimpin simbol pemimpin komunitas budaya Bali.
Ngeneng,
jeda waktu yang sejatinya memberikan kesempatan kepada akar tunggal untuk
berbagi dengan akar jamak (serabut) kepada tanah dan air (bumi),
sekaligus memberikan tanda pada aktivitas petani (tubuh) untuk menyegarkan
kembali alur dan siklus aktivitas pada tatanan kesehariannya dalam melakukan
usaha bertani dan bersosialisasi.
Bukan semata hanya sebagai siasat atau strategi memenuhi kebutuhan masyarakat dalam dunia ekonomi pasar tradisional kelampauan. Sejatinya adalah hikmah merujuk alam semesta menuju keseimbangan hakiki, pada elemen air, tanah, udara (angin), api (geotermal bumi) dan ether (zat)
Kearifan
budaya hasil perenungan segala tanda.
Beragam isi referensi
ataukah literatur yg ada dari dulu hingga sekarang, dari segala literasi
tradisional hingga modern di era digital ini, tentang segala hal, hakikatnya
refleksi segala tanda dari alam semesta. Bermuara pada teks dan tekstual, dalam
ragam teori dan konsep hingga analisa dan pandangan serta pengembangan dari
berbagai sudut pandang pemikir dan ataukah hasil penelitian.
Tanda
yang terjadi di semesta raya menjadi pemantik benih lahirnya pengetahuan yg
melimpah dalam menafsirkan rahasia semesta melalui naluri dan kecerdasan
manusia dalam menerjemahkan alam semesta dalam wujud sebuah teks dan tekstual,
paparan ilmu pengetahuan melalui inovasi dan perkembangan teknologi.
Seringkali
kita tersentak dan terhenyak ketika menghadapi sebuah pertanda alam, seperti
halnya kejadian biasa dan luar biasa, gejala dan bencana di alam semesta.
Namun,
tidak jarang juga setelah kejadian dan bencana tanpa disadari membawa hikmah
peradaban pada alur dan awal yang baru, tidak terbayangkan sebelumnya, dan
memang tidak terprediksi, yg sesungguhnya memutus siklus, akumulasi destruksi
sendi-sendi tatanan kemanusiaan khususnya, konflik antar kelompok/golongan
hingga negara, yang tidak secara langsung dan tidak langsung, berdampak, mengimplikasi,
hingga merusak dimensi harmoni alam semesta pada akhirnya. Pun berbagai teori
dan analisa ikut melebur sintesa hingga antitesa menyertainya.
Sebuah kearifan budaya pada suatu wilayah, adalah sebuah pembelajaran mendalam akan masa lalu, tertuang dalam tafsir kekinian hingga simulasi dan prediksi akan masa depan. Segala wujud dan unsur kebudayaan, sejatinya telah memberikan kita ruang dan waktu untuk menerjemahkan kodefikasi tatanan alur semesta, melalui tanda (sign).
Diam,
sepi, menyepi dan “nyunia” dalam konteks kebudayaan Bali. “Nyunia ring sunia”,
menyepi dalam sepi (kesunyian). Situasi sepi, “sunia” merupakan sebuah
alhasil aktivitas menuju nihil, kosong, memulai memikirkan akan pikiran kita
sendiri.
Kosong, diam, pada hakikatnya berada pada titik koordinat tengah pada ruang dan waktu. Titik keseimbangan diri, melalui pikiran, berdikir menuju kesadaran dan ketenangan. Diam, pun adalah tanda, dimana tidak saja tubuh diposisikan pada kondisi tenang, pun pemikiran kepada pikiran itu sendiri.
Dalam
teori semiotika. Ada 3 (tiga) macam tanda pembeda yang dikenal dalam ilmu
pengetahuan tentang tanda; ikon, indeks, dan simbol.
Pembedaan
dikemukakan oleh filsuf, Charles Sanders Peirce di akhir abad ke-19.
Artikel ini berupaya menjelaskan perbedaan di antara ketiga jenis tanda ini.
Menurut
Pierce, manusia dapat berfikir dengan sarana tanda, manusia hanya dapat
berkomunikasi dengan sarana tanda. Semiotika merupakan persamaan dari kata
logika, dan logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar.
Ikon
adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi,
simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan
sumber acuan melalui simulasi atau persamaan. (Danesi, 2004: 38-39)
Tubuh
diam merupakan bentuk replikasi, simulasi, imitasi atau persamaan. Dirancang
untuk merepresentasikan sumber acuan, yakni kondisi tenang dalam ruang dan
waktu
Indeks
adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau
mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain (Danesi,2004:
38)
Tubuh
diam, tidak serta merta menunjuk atau mengaitkannya dengan pikiran dan tubuh
yang lemah semata sesungguhnya, dan apalagi dengan sumber kondisi yang sakit.
Namun tubuh diam adalah jeda sejenak, momentum menyegarkan kembali segala
pikiran, aktivitas bersama seisi alam, dalam konteks kearifan budaya agraris di
Bali (ngeneng), aktivitas tubuh yg diarahkan dan dibimbing untuk mereproduksi
dan memperbaharui kembali sel-sel dalam tubuh manusia bersama alam, menyegarkan
kembali pikiran kepada tubuh dan alam, yang hendaknya tidak sampai diharapkan
menemui sebuah situasi dan kondisi kelabilan pikiran dan tubuh dalam kehidupan,
menghindari kemandekan (kesumpekan) kepenatan atau situasi ketidaknyamanan
pikiran dan tubuh dalam waktu dan ruang semesta.
Berbanding
lurus berkaitan dengan sumber acuan lainnya, layaknya bidang atau lahan
persawahan yg berjeda, berganti obyek tumbuhan/tanaman pada permukaannya.
Bersinergi
pada media tanah, air dan udara hingga tanaman yg merupakan replikasi tanda yg
secara eksplisit dan implisit adalah persamaan dari tubuh (jaringan sel).
Hakikatnya
ada jeda waktu sejenak pada ruang menuju keseimbangan, hingga kita maknai
sebagai usaha pemulihan unsur hara dalam tanah pada akhirnya salah satunya.
Simbol
adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam
konteks spesifik. Makna – makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan
sosial atau melalui beberapa tradiasi historis (Danesi,2004: 38,44). Simbol
merupakan jenis tanda yang bersifat arbitrer dan konvensional. (Budiman, 2004:
32).
Simbol
membantu manusia untuk berkomunikasi. Simbol juga lebih kuat dari tanda. Simbol
bisa membantu manusia menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara
langsung. Media simbol berupa bahasa lisan,
tindakan, benda / bentuk visual.
Tubuh
adalah visual kehidupan. Dalam hal ini, tubuh merupakan simbol terringgi dalam
alam semesta. Kesepakatan alamiah yang dimaknai dan dipahami oleh ragam ilmu
pengetahuan dan analisa, merupakan wujud kompleksitas mikrokosmos kepada
makrokosmos. Tubuh mahluk hidup, menandakan dirinya atas segala pikiran dan
kehidupan pada peradaban.
Dari
segala tanda yang muncul dalam semesta dalam konteks kekinian, dan berkorelasi
dengan hikmah hakiki kearifan budaya lokal, masyarakat dan kebudayaan Bali, ada
segenap tanda dalam semesta, momentum yang menandakan alam mengisyaratkan untuk
diam sejenak, dalam masyarakat agraris Bali, “ngeneng” berefleksi dalam
wujud lain, layaknya prosesi inisiasi, mengakhiri babak dan memasuki awal yang
baru, layaknya alogaritma, deretan angka yang menyimbolkan jumlah hari, akhir
penanggalan dalam warsa, pergantian tahun. Masyarakat Bali, merayakannya, dalam
sebuah ritual, hari raya Nyepi.
Ditandai
dengan kesunyian, sepi dan berhenti sehari dalam segala aktivitas, yakni tidak
menghidupkan api (amati gni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak melakukan
pekerjaan (amati karya) dan tidak mendengarkan hiburan (amati lelanguan), yang
merupakan refleksi jeda (ngeneng).
Momentum
ketika antara pikiran, tubuh/badan dan alam semesta mencapai keseimbangan,
pikiran dengan tubuh, tubuh dengan lingkungan dan lingkungan/bumi dengan alam
semesta raya.
Dalam
konteks kekinian, alam sedang memasuki jeda dalam ruang dan waktu, yang
“dibujuk” untuk jeda (ngeneng) dan menyepi (Nyepi).
Rutinitas
dalam semesta akhirnya “ngeneng dan nyepi” dari segala asal muasal alur pikiran
manusia, untuk kembali belajar dan merenung, memikirkan kembali pikiran dan
tubuh kita, diantara semesta dan ke-ilahi-an.
Mungkinkah
pikiran dan tubuh kita sedang lelah? Ataukah kekuatan semesta kembali membujuk
pikiran dan tubuh kita melalui tanda/gejala?
Hakikat
kearifan lokal budaya Bali, seperti istilah “ngeneng” seperti dalam masyarakat
agraris di Bali, sejak dahulu dilakoni oleh para petani di Bali,
diyakini dan dilaksanakan secara berkesinambungan, sebagai sebuah
tanda jeda pada ruang dan waktu, banyak hikmah yang terkandung dalam sistem
bertani seperti ini, yang secara keilmuawan dapat diartikan utk bertujuan
menyegarkan pikiran melalui keberagaman perubahan pola bertani, mengembalikan
unsur hara tanah, menyeimbangkan siklus udara dan air hingga
menyinergikan kembali antar manusia dengan manusia, manusia dengan interaksi
sosial dan manusia kepada alam semesta.
Hakikatnya
ada hikmah atas hadirnya jeda, momentum dalam ruang dan waktu, ada kekuatan
energi yang tanpa kita duga bekerja di alam semesta.
Pun,
hakikat Nyepi, menyepi, hening, jeda, waktu dan ruang alam yang nihil (sunia),
hingga akhirnya membawa kita pada hikmah situasi dan kondisi yg sedang terjadi
di dunia saat ini.
Sesungguhnya
pikiran kita adalah alam semesta dengan segala isianya.
Kita
hanya bisa mengoptimalkan pikiran beserta kekuatannya. Berusaha, berkeyakinan
dan tetap fokus untuk menyerap segala energi kebaikan yang melimpah di alam
semesta.
Pikiran
adalah kekuatan mutlak. Pikiran miniatur alam semesta.
Mari Merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1942 dengan kekuatan dan ketenangan pikiran. Semoga semua mahluk hidup berbahagia.[T]