Era tahun 2000-an ini
banyak punya sebutan yang beredar di tengah masyarakat maupun oleh netizen. Ada
yang menyebut era revolusi industri 4.0, era disrupsi, era milenial, era hyperconnected society, era baru dan sebagainya.
Apapun sebutan yang sering didengar, paling tidak era sekarang ditandai dengan
banyaknya perubahan.
Dulu, handphone hanya dimiliki oleh kalangan
tertentu. Sperti politisi, dosen, dokter dan profesi elit lainnya. Jumlahnya
sangat sedikit. Kepemilikan handphone
dalam satu desa bisa dihitung dengan jari. Sekarang kondisinya jauh berbeda.
Dimana-mana ditemui orang memegang handphone.
Tidak sedikit orang memiliki handphone
lebih dari satu. Kepemilikan handphone
tidak mengenal profesi.
Semua profesi sudah
mampu dan berhak memiliki handphone. Tukang suwun, tukang parkir, cleaning service, bahkan pengemis pun
sudah memiliki handphone. Jika
melihat kondisi ini, harusnya masyarakat makin sejahtera. Alat komunikasi
sebagai salah satu akses informasi sudah dalam genggaman. Konon, informasi
adalah sumber kemakmuran.
Perubahan berikutnya
adalah anak muda makin jarang pergi ke peken
(pasar tradisional). Mereka lebih memilih untuk berbelanja ke toko berjaringan.
Peken identik dengan tawar-menawar
sedangkan di toko, hal itu tidak ditemui. Tidak bisa nawar adalah salah satu
alasan mereka datang ke toko. Padahal harga di peken relatif lebih murah. Tetapi, di peken suasananya ramai, kadangkala becek bahkan perlu ojek saat
kesana.
Sedangkan jika ke toko,
suasananya jauh berbeda. Tampak bersih, cahaya bagus, disapa oleh pegawai toko
yang ramah serta ada lagu yang terdengar mengiringi langkah pembeli. Terpenting
lagi, rasa bangga dan tiba-tiba gengsi mendadak meningkat jika berbelanja ke
toko. Ini masalah rasa, sehingga sangat susah diukur. Tapi, demikianlah yang
dirasakan oleh kaum milenial saat datang berbelanja ke toko.
Saat ini, dengan mudah
ditemui toko berjaringan. Jumlahnya makin hari makin banyak. Hampir di setiap
jalan utama ada toko berjaringan. Ini artinya kebutuhan mayarakat akan
keberadaan toko ini tinggi. Sebagai bukti nyata, setiap ada buka toko baru, akan
selalu ramai dikunjungi. Belum pernah terdengar toko berjaringan tutup.
Sebaliknya setiap dibuka selalu diserbu oleh anak muda. Apalagi sekarang, toko
ini menyediakan fasilitas baru berupa tempat duduk. Kursi-kursi disediakan di
depan gerai untuk tujuan nongkrong. Toko berjaringan benar-benar memberi
kenyamanan. Toko sangat mengerti apa yang diinginkan anak muda kekinian.
Perubahan adalah
keniscayaan. Orang bijak menyebut, yang paling kekal adalah perubahan. Ke depan
akan banyak dijumpai perubahan-perubahan di sekitar. Perubahan fundamental juga
terjadi pada perilaku pembeli/konsumen saat ini. Coba perhatikan jika konsumen
berada di tempat makan atau tempat nongkrong terkenal. Perilakunya jauh berbeda
jika sedang berada di warung tegal atau warung pojok kampus.
Sesaat sebelum pergi ke
tempat makan terkenal, maka di status media sosialnya akan diketik “prepare to resto xxx”. Sambil dandan dan ganti baju akan cekikian melihat
respon temannya di media sosial. Ada yang memberi jempol, love, komentar singkat seperti keren, mantul, top dan sejenisnya
ditambah dengan emoticon lucu. Saat
mau berangkat ke lokasi, juga update status “otw resto xxx”. Lagi-lagi status tersebut mendapat respon dari netizen karena tempat tersebut merupakan
tempat bergengsi.
Saat tiba di tempat
makan, wajib hukumnya update status “at resto xxx”. Terkadang jenis makanan
dan minuman yang dipesan tidak begitu penting karena lebih penting tempatnya.
Tempatnya mampu menaikkan derajat kekinian anak muda. pemandangan ini awalnya susah
diterima oleh mata dan akal sehat.
Tetapi, saat ini
pemandangan itu ditemui di banyak tempat sehingga hal itu dianggap wajar.
Bahkan dirasa ada yang kurang jika belum melaksanakan hal tersebut. Hal
tersebut sudah dianggap ritual sehingga wajib dilakukan oleh kaum milenial.
Ritual itu adalah
memfoto makanan sebelum dinikmati. Padahal, saat sekolah di TK selalu diajarkan berdoa terlebih dahulu
sebelum makan. Ajaran guru TK berubaah praktiknya ketika sudah menjadi anak
muda. Makanan dan minuman yang tersaji wajib dipoto terlebih dahulu sebelum di
makan. Bahkan sebelum makan, lebih penting sharing
berupa update status dulu dengan caption “bahagia itu sederhana”.
Sambil makan anak muda
akan selalu melihat-lihat handphone.
Berharap ada respon dari teman sosialitanya. Berbagai respon dan ekspresi akan
segera menyerbu status tersebut. Sambil makan dan sambil balas komentar di
media sosial. Tanpa memedulikan kondisi sekitar. Apakah di sekitar ada yang
ulang tahun, ada yang sedang pacaran atau sedang menyendiri dalam kesendirian.
Jika itu ditengok, juga
akan terlihat pemandangan yang hampir sama yakni cekrek dulu terus upload dan cekikian sendiri sambil
melihat handphone. Artinya sekitar
kita kondisinya mirip. Bisa jadi karena di sekitar kondisinya begitu makanya
kita mengikuti trend itu. Siapa yang jadi trendsetter,
siapa yang jadi follower atau
semuanya follower. Lagi-lagi itu
bukan hal yang penting. Yang penting eksis di media sosial.
Mencermati fenomena
tersebut, sebenarnya ada perubahan besar yang dialami atau dilakukan oleh
konsumen. Ada perbedaan cara konsumsi pada masa lalu dengan masa kini. Dulu
hanya sekadar konsumsi (consuming),
kini konsumen dapat menyebarkan (sharing)
apa yang dikonsumsi dan menggiring opini/mengajak (shaping) para teman atau followernya di dunia maya.
Saat ini kegiatan konsumsi bukanlah menjadi yang utama tetapi menjadi perantara tujuan yang lain. Yang utama adalah sharing, kemudian shaping terakhir baru consuming. Jika dahulu masyarakat merasa tidak enak memberitakan tentang dirinya. Di era sekarang, netizen memiliki hasrat untuk sharing yang lebih tinggi tentang narasi dirinya. Selamat datang di era milenial, sebuah era ketika setiap orang merasa berharga atau memiliki harga diri bila eksis di dunia maya, atau diterima secara luas dan diberi jempol/like/comment atau emoticon. [T]