Seperti halnya Galungan, Tilem Kasanga atau
warga di desa kami biasa menyebutnya dengan Ngasanga selalu identik dengan
keramaian, kesibukan. Pagi-pagi buta kami bangun, bahkan sebelum ayam berkokok,
sambil menahan kantuk, mengambil sapu, menyapu sekeliling halaman rumah.
Sementara anggota keluarga lain ada yang memasak atau mengambil daging untuk
digunakan bekal saat Nyepi esoknya. Di rumah tetangga, telah mengalun suara
baleganjur atau gong dari tape mereka.
Usai menyapu, kami sembahyang di rumah
masing-masing, agar saat galang kangin, kami sudah bisa pergi ke pura untuk
melakukan persembahyangan.
Mengingat ada banyak pura, kami baru selesai
sembahyang minimal pukul 10.00 lebih. Dan di jalan desa, akan ramai oleh kami
yang menggunakan pakaian adat sambil membawa banten, ada yang berjalan kaki
bergerombol, naik mobil ataupun naik sepeda motor.
Itu baru sembahyang keliling ke pura. Belum
lagi siangnya, saat suara kulkul desa (kentongan desa) berbunyi, kami yang baru
istirahat sejenak kembali memakai pakaian adat ke pura dan menuju ke setra. Di
desa kami, setiap Tilem Kasanga selalu menggelar tradisi munjung atau
mengunjungi sanak keluarga yang dikubur di setra dengan membawa aneka sesajen
atau oleh-oleh. Maka jika siang hari kau datang ke desa kami saat Tilem
Kesanga, akan kau dapati banyak orang berkumpul di setra.
Sementara, dalam waktu yang bersamaan, di
pinggir jalan, pada bale kulkul, anak-anak yang masih mengenakan pakaian adat
juga terlihat asik memukul kentongan dengan kreasinya masing-masing. Di tempat
kami disebut dengan ngoncang. Ngoncang ini akan dilakukan hingga larut malam,
dan biasanya berbarengan dengan berakhirnya arak-arakan ogoh-ogoh yang biasanya
hingga pukul 00.00 bahkan lebih.
Usai melaksanakan tradisi munjung, sorenya
sekitar pukul 17.00, kami akan kembali mendengar suara kulkul desa, yang
kemudian disusul suara kulkul banjar. Maka bergegaslah kami datang ke Pura Bale
Agung dengan membawa tempat tirta dan danyuh (daun kelapa kering). Di Pura Bale
Agung digelar tawur kasanga. Usai pelaksanaan tawur ini, kami pulang dengan
membawa tirta, nasi tawur dan api.
Berbarengan dengan kepulangan kami itu, di
depan Pura Bale Agung, muda-mudi berkumpul dengan ogoh-ogohnya. Saat baleganjur
ditabuh, mereka masuryak (berteriak girang), lalu mengangkat ogoh-ogohnya
beramai-ramai tinggi-tinggi.
Dari depan Pura Bale Agung, mereka mengarak
ogoh-ogoh menuju ke utara, ke depan Pura Puseh. Sampai di depan Pura Puseh,
mereka kembali ke selatan dan menuju ke setra desa. Ini sangat lama, dan kami
yang lainnya, yang tak ikut mengusung ogoh-ogoh berdiri di sepanjang jalan
menyaksikannya atau sekadar mengeluarkan kamera ponsel untuk mengabadikan momen
ini.
Ini kesibukan kami di desa, dan benar-benar
sibuk manum meriah saat Tilem Kasanga. Namun itu setahun lalu, dua tahun lalu,
dan tahun-tahun sebelumnya yang sudah berlalu.
Hari ini, pada Tilem Kesanga, 24 Maret 2020, saya, kami, dan
mungkin juga kau tak mendapati kesibukan ini, tak juga mendapati kemeriahan
ini. Saya sendiri merasa Nyepi telah dimulai hari ini. Nyaris tak terdengar
suara baleganjur ataupun gong dari tape tetangga. Saat galang kangin, jalan
desa masih lengang. Hanya tampak satu dua dari kami yang menyapu di depan
rumah.
Ketika matahari sedikit meninggi, jalan desa
juga masih terlihat lengang. Hanya di rumah masing-masing terlihat kesibukan
beberapa dari kami yang melakukan persembahyangan. Pura tak lagi penuh didatangi oleh kami. Kami
cukup di rumah. Kami sembahyang di rumah. Asap dupa mengepul di rumah-rumah
kami. Di pura hanya ada pemangku dan juru sapuh yang membantunya ngunggahang banten.
Setra pun tak seramai tahun-tahun sebelumnya
walaupun tradisi munjung tetap berjalan. Hanya tampak satu dua orang yang
memiliki keluarga yang dikubur saja. Anak-anak tak terlihat lagi tertawa di
atas bale kulkul sambil ngoncang. Benar-benar sepi. Seperti nyepi walaupun kami
masih sedikit beraktivitas. Di kejauhan gonggongan anjing menyalak, namun tetap
tak seramai tahun-tahun yang berlalu. Beberapa ogoh-ogoh di desa kami bahkan
sudah ada yang dipralina walaupun belum diarak. Ada yang hanya dipajang saja di
pinggir jalan. Ia menyepi.
Sungguh, saya merindukan keramaian pada
tahun-tahun yang berlalu. Saya merindukan kesibukan yang biasa kami lewati
setiap tahun. Saya dan mungkin juga kami merindukan keramaian terakhir sebelum
kami benar-benar menutup diri selama sehari untuk kemudian memulai hari yang
baru.
Hari ini mungkin akan selalu kita kenang,
sebagai Tilem Kasanga yang paling sepi di antara Tilem Kasanga yang telah
berlalu, utamanya bagi saya, generasi 90-an dan generasi setelahnya. Semoga ini
cepat berlalu. Semoga saya, kau, dan kami semua bisa merasakan keramaian
kembali yang kini telah menjadi barang langka. Salam dari saya, anak pedalaman
dari sebuah desa terpencil di sisi barat daya Karangasem. [T]