Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Seperti halnya Galungan, Tilem Kasanga atau warga di desa kami biasa menyebutnya dengan Ngasanga selalu identik dengan keramaian, kesibukan. Pagi-pagi buta kami bangun, bahkan sebelum ayam berkokok, sambil menahan kantuk, mengambil sapu, menyapu sekeliling halaman rumah. Sementara anggota keluarga lain ada yang memasak atau mengambil daging untuk digunakan bekal saat Nyepi esoknya. Di rumah tetangga, telah mengalun suara baleganjur atau gong dari tape mereka.
Usai menyapu, kami sembahyang di rumah masing-masing, agar saat galang kangin, kami sudah bisa pergi ke pura untuk melakukan persembahyangan.
Mengingat ada banyak pura, kami baru selesai sembahyang minimal pukul 10.00 lebih. Dan di jalan desa, akan ramai oleh kami yang menggunakan pakaian adat sambil membawa banten, ada yang berjalan kaki bergerombol, naik mobil ataupun naik sepeda motor.
Itu baru sembahyang keliling ke pura. Belum lagi siangnya, saat suara kulkul desa (kentongan desa) berbunyi, kami yang baru istirahat sejenak kembali memakai pakaian adat ke pura dan menuju ke setra. Di desa kami, setiap Tilem Kasanga selalu menggelar tradisi munjung atau mengunjungi sanak keluarga yang dikubur di setra dengan membawa aneka sesajen atau oleh-oleh. Maka jika siang hari kau datang ke desa kami saat Tilem Kesanga, akan kau dapati banyak orang berkumpul di setra.
Sementara, dalam waktu yang bersamaan, di pinggir jalan, pada bale kulkul, anak-anak yang masih mengenakan pakaian adat juga terlihat asik memukul kentongan dengan kreasinya masing-masing. Di tempat kami disebut dengan ngoncang. Ngoncang ini akan dilakukan hingga larut malam, dan biasanya berbarengan dengan berakhirnya arak-arakan ogoh-ogoh yang biasanya hingga pukul 00.00 bahkan lebih.
Usai melaksanakan tradisi munjung, sorenya sekitar pukul 17.00, kami akan kembali mendengar suara kulkul desa, yang kemudian disusul suara kulkul banjar. Maka bergegaslah kami datang ke Pura Bale Agung dengan membawa tempat tirta dan danyuh (daun kelapa kering). Di Pura Bale Agung digelar tawur kasanga. Usai pelaksanaan tawur ini, kami pulang dengan membawa tirta, nasi tawur dan api.
Berbarengan dengan kepulangan kami itu, di depan Pura Bale Agung, muda-mudi berkumpul dengan ogoh-ogohnya. Saat baleganjur ditabuh, mereka masuryak (berteriak girang), lalu mengangkat ogoh-ogohnya beramai-ramai tinggi-tinggi.
Dari depan Pura Bale Agung, mereka mengarak ogoh-ogoh menuju ke utara, ke depan Pura Puseh. Sampai di depan Pura Puseh, mereka kembali ke selatan dan menuju ke setra desa. Ini sangat lama, dan kami yang lainnya, yang tak ikut mengusung ogoh-ogoh berdiri di sepanjang jalan menyaksikannya atau sekadar mengeluarkan kamera ponsel untuk mengabadikan momen ini.
Ini kesibukan kami di desa, dan benar-benar sibuk manum meriah saat Tilem Kasanga. Namun itu setahun lalu, dua tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya yang sudah berlalu.
Hari ini, pada Tilem Kesanga, 24 Maret 2020, saya, kami, dan mungkin juga kau tak mendapati kesibukan ini, tak juga mendapati kemeriahan ini. Saya sendiri merasa Nyepi telah dimulai hari ini. Nyaris tak terdengar suara baleganjur ataupun gong dari tape tetangga. Saat galang kangin, jalan desa masih lengang. Hanya tampak satu dua dari kami yang menyapu di depan rumah.
Ketika matahari sedikit meninggi, jalan desa juga masih terlihat lengang. Hanya di rumah masing-masing terlihat kesibukan beberapa dari kami yang melakukan persembahyangan. Pura tak lagi penuh didatangi oleh kami. Kami cukup di rumah. Kami sembahyang di rumah. Asap dupa mengepul di rumah-rumah kami. Di pura hanya ada pemangku dan juru sapuh yang membantunya ngunggahang banten.
Setra pun tak seramai tahun-tahun sebelumnya walaupun tradisi munjung tetap berjalan. Hanya tampak satu dua orang yang memiliki keluarga yang dikubur saja. Anak-anak tak terlihat lagi tertawa di atas bale kulkul sambil ngoncang. Benar-benar sepi. Seperti nyepi walaupun kami masih sedikit beraktivitas. Di kejauhan gonggongan anjing menyalak, namun tetap tak seramai tahun-tahun yang berlalu. Beberapa ogoh-ogoh di desa kami bahkan sudah ada yang dipralina walaupun belum diarak. Ada yang hanya dipajang saja di pinggir jalan. Ia menyepi.
Sungguh, saya merindukan keramaian pada tahun-tahun yang berlalu. Saya merindukan kesibukan yang biasa kami lewati setiap tahun. Saya dan mungkin juga kami merindukan keramaian terakhir sebelum kami benar-benar menutup diri selama sehari untuk kemudian memulai hari yang baru.
Hari ini mungkin akan selalu kita kenang, sebagai Tilem Kasanga yang paling sepi di antara Tilem Kasanga yang telah berlalu, utamanya bagi saya, generasi 90-an dan generasi setelahnya. Semoga ini cepat berlalu. Semoga saya, kau, dan kami semua bisa merasakan keramaian kembali yang kini telah menjadi barang langka. Salam dari saya, anak pedalaman dari sebuah desa terpencil di sisi barat daya Karangasem. [T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...