Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Di dalam gaguritan Basur, pada tontonan Arja Batur, juga dalam novel Ki Gede Basur, I Gede Basur identik dengan tokoh antagonis yang kejam. Tokoh antagonis, karena direndahkan harga dirinya murka seketika. Murka itu, berlanjut dengan tindakan menyakiti. Bukan menyakiti untuk membuat jera yang merendahkan harga dirinya. Tetapi, menyakiti berlanjut dengan tindakan mencabut nyawa yang dilakukan tidak dengan terang-terangan.
Laku menjatuhkan yang dilakukan kepada I Gede Basur, bukan mengejek. Bukan pula mencaci maki. Laku menjatuhkan harga diri I Gede Basur, dilakukan dengan berterus terang mengatakan memilih sosok pria sebagai pendamping hidup. Sosok pria dimaksud, anak dari pelamar lain. Pelamar itu justru datang dalam tempo bersamaan dengan I Gede Basur.
Selain kejam, I Gede Basur, juga diidentikkan dengan sosok arogan yang menindas. Menindas, tanpa memberi penilaian, setimpalkah hukuman yang diberikan dengan kesalahan yang dilakukan oleh tokoh lain yang menjatuhkan harga dirinya? Sebagai sosok yang ilmu teluh terangjananya tinggi, tinggi pula tingkat intelektualnya, bisa memilah dengan cermat. Sehingga hukuman yang dijatuhkan seimbang dan sebanding.
Sebutan kejam dan penindas kepada I Gede Basur, di kalangan generasi tua penikmat geguritan, masih lekat sampai kini.
Sesungguhnya, di balik dua hal yang menjadi identitas I Gede Basur tersebut, ada sisi baik. Tentu, sisi baik I Gede Basur, yang bila direnungkan menimbulkan decak kagum. Karena sisi baik itu, sesuai dengan norma kehidupan.
Sisi baik pertama. I Gede Basur, dengan kesatria mengaku kalah, kepada Kaki Balian. Ketika keduanya melakukan perang kanuragan, sesudah Kaki Balian mengobati Ni Sokasti.
Saat mengakui kekalahannya, I Gede Basur menanggalkan harga dirinya. Harga diri yang lazim dimiliki orang yang punya ilmu kanuragan teluh terangjana tinggi. Bagi orang demikian, harga diri adalah segala-galanya. Lebih baik mati daripada jadi pecundang.
I Gede Basur di sini, dengan ridla dada menanggalkan harga dirinya, ada yang menyebabkan. Sebagai pihak yang memenangi pertempuran ilmu kanuragan, Kaki Balian masih menghargai diri I Gede Basur selaku penganut ilmu hitam bukan sebagai musuh tetapi sebagai sesama manusia di jalan berbeda. Juga menghargai pendapat I Gede Basur tentang kewajiban penganut ilmu putih dan ilmu hitam. Di samping menghargai pendapat I Gede Basur, Kaki Balian tidak membantah pemaparan I Gede Basur beberapa saat sesudah perang ilmu kanuragan itu berlangsung dengan sengit.
Hal lain yang menyebabkan I Gede Basur menanggalkan harga dirinya. Setelah kalah, Kaki Balian memposisikan I Gede Basur bukan sebagai pihak yang ditaklukkan. Tetapi sebagai pihak yang dibangkitkan kesadarannya melalui wejangan. Wejangan yang tidak merendahkan harkat dan martabat I Gede Basur. Tidak pula melecehkan eksistensinya sebagai penganut ilmu hitam. Pun, tidak meremehkan kemampuan ilmu teluh terangjana I Gede Basur. Walau Kaki Balian memenangi pertarungan ilmu kanuragan dengan telak. Walau Kaki Balian ada di atas angin.
Sisi baik I Gede Basur yang lain. I Gede Basur dengan penuh kebapakan menasihati putranya I Tigaron. Nasihat mana diberikan, setelah usulnya agar I Tigaron menerima Rumanis sebagai istrinya.
Nasehat yang diberikan oleh I Gede Basur: cinta kepada istri, sayang kepada anak dan tanggungjawab kepada keluarga. Nasehat ini menyiratkan makna, hanya keluarga yang dibangun dengan kasih sayang menjadi keluarga yang utuh. Tidak goyah diterpa godaan dan goncangan. Tidak berantakan dihantam gangguan dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Dua sisi baik I Gede Basur ini memberi gambaran. Manusia bukan makhluk apa adanya. Bukan makhluk yang keberadaannya statis. Dalam arti, abadi di satu sisi, apakah sisi baik, ataukah sisi buruk.
Sekaligus pula memberi gambaran, betapa ajaib manusia. Wujudnya yang tunggal ditempati oleh dua hal. Dua hal mana tidak membelah perilakunya seketika. Tidak mengombang-ambing dirinya. Tidak membuat jadi berkepribadian ganda. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...