Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Di dalam gaguritan Basur, pada tontonan Arja Batur, juga dalam novel Ki Gede Basur, I Gede Basur identik dengan tokoh antagonis yang kejam. Tokoh antagonis, karena direndahkan harga dirinya murka seketika. Murka itu, berlanjut dengan tindakan menyakiti. Bukan menyakiti untuk membuat jera yang merendahkan harga dirinya. Tetapi, menyakiti berlanjut dengan tindakan mencabut nyawa yang dilakukan tidak dengan terang-terangan.
Laku menjatuhkan yang dilakukan kepada I Gede Basur, bukan mengejek. Bukan pula mencaci maki. Laku menjatuhkan harga diri I Gede Basur, dilakukan dengan berterus terang mengatakan memilih sosok pria sebagai pendamping hidup. Sosok pria dimaksud, anak dari pelamar lain. Pelamar itu justru datang dalam tempo bersamaan dengan I Gede Basur.
Selain kejam, I Gede Basur, juga diidentikkan dengan sosok arogan yang menindas. Menindas, tanpa memberi penilaian, setimpalkah hukuman yang diberikan dengan kesalahan yang dilakukan oleh tokoh lain yang menjatuhkan harga dirinya? Sebagai sosok yang ilmu teluh terangjananya tinggi, tinggi pula tingkat intelektualnya, bisa memilah dengan cermat. Sehingga hukuman yang dijatuhkan seimbang dan sebanding.
Sebutan kejam dan penindas kepada I Gede Basur, di kalangan generasi tua penikmat geguritan, masih lekat sampai kini.
Sesungguhnya, di balik dua hal yang menjadi identitas I Gede Basur tersebut, ada sisi baik. Tentu, sisi baik I Gede Basur, yang bila direnungkan menimbulkan decak kagum. Karena sisi baik itu, sesuai dengan norma kehidupan.
Sisi baik pertama. I Gede Basur, dengan kesatria mengaku kalah, kepada Kaki Balian. Ketika keduanya melakukan perang kanuragan, sesudah Kaki Balian mengobati Ni Sokasti.
Saat mengakui kekalahannya, I Gede Basur menanggalkan harga dirinya. Harga diri yang lazim dimiliki orang yang punya ilmu kanuragan teluh terangjana tinggi. Bagi orang demikian, harga diri adalah segala-galanya. Lebih baik mati daripada jadi pecundang.
I Gede Basur di sini, dengan ridla dada menanggalkan harga dirinya, ada yang menyebabkan. Sebagai pihak yang memenangi pertempuran ilmu kanuragan, Kaki Balian masih menghargai diri I Gede Basur selaku penganut ilmu hitam bukan sebagai musuh tetapi sebagai sesama manusia di jalan berbeda. Juga menghargai pendapat I Gede Basur tentang kewajiban penganut ilmu putih dan ilmu hitam. Di samping menghargai pendapat I Gede Basur, Kaki Balian tidak membantah pemaparan I Gede Basur beberapa saat sesudah perang ilmu kanuragan itu berlangsung dengan sengit.
Hal lain yang menyebabkan I Gede Basur menanggalkan harga dirinya. Setelah kalah, Kaki Balian memposisikan I Gede Basur bukan sebagai pihak yang ditaklukkan. Tetapi sebagai pihak yang dibangkitkan kesadarannya melalui wejangan. Wejangan yang tidak merendahkan harkat dan martabat I Gede Basur. Tidak pula melecehkan eksistensinya sebagai penganut ilmu hitam. Pun, tidak meremehkan kemampuan ilmu teluh terangjana I Gede Basur. Walau Kaki Balian memenangi pertarungan ilmu kanuragan dengan telak. Walau Kaki Balian ada di atas angin.
Sisi baik I Gede Basur yang lain. I Gede Basur dengan penuh kebapakan menasihati putranya I Tigaron. Nasihat mana diberikan, setelah usulnya agar I Tigaron menerima Rumanis sebagai istrinya.
Nasehat yang diberikan oleh I Gede Basur: cinta kepada istri, sayang kepada anak dan tanggungjawab kepada keluarga. Nasehat ini menyiratkan makna, hanya keluarga yang dibangun dengan kasih sayang menjadi keluarga yang utuh. Tidak goyah diterpa godaan dan goncangan. Tidak berantakan dihantam gangguan dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Dua sisi baik I Gede Basur ini memberi gambaran. Manusia bukan makhluk apa adanya. Bukan makhluk yang keberadaannya statis. Dalam arti, abadi di satu sisi, apakah sisi baik, ataukah sisi buruk.
Sekaligus pula memberi gambaran, betapa ajaib manusia. Wujudnya yang tunggal ditempati oleh dua hal. Dua hal mana tidak membelah perilakunya seketika. Tidak mengombang-ambing dirinya. Tidak membuat jadi berkepribadian ganda. [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...