Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Setelah mencuat kabar tentang virus corona, cara penularan, dan korbannya di Cina, seperti kebanyakan orang Indonesia, saya awalnya biasa-biasa saja. Awalnya saya merasa Cina berjarak sangat jauh dari Indonesia terlebih dari Bali, pulau kecil yang kalau di Peta Dunia nyaris tidak tampak.
Kenyataan berkata lain, virus itu sudah sampai di pulau kecil ini, entah siapa yang sudah membawanya. Atas keputusan pemerintah, sekolah-sekolah ditutup, siswa dirumahkan, sistem belajar online diberlakukan. Guru-guru mengeluarkan metodenya masing-masing dalam menyampaikan materi. Siswa mengeluhkan tugas dari guru tanpa berfikir cerdas. Beberapa orang tua juga.
Wabah ini semakin mengkawatirkan saat semua media mengabarkan peningkatan jumlah kasus pada setiap daerah. Larangan-larangan juga mulai tersiar dimana-mana. Intinya di rumah aja. Mungkin beberapa orang dengan profesi tertentu bisa di rumah aja, tetapi tidak dengan mereka yang ada di garda terdepan penanganan kasus ini, mereka yang mengais rupiah di perusahaan-perusahaan swasta, berwirausaha, dan yang kejar setoran di jalanan.
Mereka yang tidak memungkinkan di rumah aja pasti punya kegalauan yang luar biasa, tenaga kesehatan misalnya. Sudah pasti perasaan takut bertemu dengan keluarga tercinta setelah pulang bekerja sangat membelit, hingga harus menggunakan perlindungan diri secara maksimal.
Salah satu profesi yang juga ngak mungkin di rumah aja selain tenaga kesehatan adalah MUA (Make-Up Artis). Ini agak horror. Ini masalah kepercayaan dan uang. Apalagi, banyak caon pengantin sudah menjadwalkan pernikahan di bulan April. Dewasa ayu sesuai kalender Bali di bulan itu mungkin memang banyak, apalagi masa uncal balung sudah lewat.
Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada seluruh calon pengantin yang sudah memilih bulan April sebagai bulan pernikahan dan saya berterima kasih juga karena sudah memilih MUA-MUA terpercaya untuk menjadi bagian hari bahagia itu karena hari bahagia kalian merupakan keberlangsungan hidup mereka yang bergelut di bidang itu.
Saya paham hari pernikahan bukanlah hal main-main. Biasanaya surat undangan, dekorasi, catering dan MUA sudah dipesan sebulan sebelum hari bahagia itu datang. Itu artinya di Bulan April nanti semua sudah harus bekerja. Mungkin pencetak surat undangan masih bisa menggunakan masker dan sarung tangan dan mencetaknya di rumah atau di toko aja tanpa harus bersentuhan langsung dengan calon pengantin atau semuanya dapat dilakukan dengan media online kecuali pengiriman kalau sudah selesai dicetak. Tukang dekorasi juga masih bisa jaga jarak satu sama lain, tukang catering juga.
Tentu yang tidak mungkin di rumah aja, menjaga jarak dengan calon pengantin dan tidak bertemu dengan banyak orang adalah MUA. Terlebih di Bali kita mengenal istilah mepingit. Mepingit di beberapa daerah adalah tradisi yang mengharuskan calon pengantin untuk tidak keluar rumah dan bertemu calon pasangannya sebelum hari pernikahan. Jadi menyuruh pengantin datang ke salon atau studio tempat MUA untuk mengurangi bertemu dengan orang banyak sudah tidak mungkin karena akan ada beberapa tradisi yang terlewatkan.
MUA harus tetap datang dan menjalankan tugasnya.
Lalu apa yang harus kami lakukan sebagai MUA untuk menyikapi ini. Coba bayangkan jika kita yang biasanya datang ke rumah pengantin dengan kebaya yang anggun, makeup, dan tataan rambut yang rapi harus pakai APD (Alat Perlindungan Diri) seperti tenaga medis secara maksimal pasti pengap dan membuat semua jadi sulit.
Atau semua brush kita sambung dengan tongkat, pemasangan pensil alis, lipstick dan bikin hair do juga dari jarak jauh, pasti lucu dan itu tidak mungkin terjadi karena mata MUA tidak sehebat itu dalam melihat detail makeup dari jauh. Kami harus bersentuhan, jarak kami harus dekat. Kami tidak pernah tahu siapa yang sudah terjangkit diantara kami tetapi yang kami tahu hanya cemas, menggunakan pengamanan seadanya, dan semua tetap harus berjalan.
Saya dan mungkin perias lainnya memiliki pemikiran sama tentang arahan, aturan hingga larangan-larangan yang ada tetapi bagaimana nanti orang-orang bisa percaya pada kami jika hari ini harus undur diri dari job yang sudah kita sepakai dari jauh-jauh hari kecuali mereka batal menikah. Meskipun kemungkinannya kecil. Peraturan di rumah aja juga belum totalitas, buktinya undangan pernikahan dan perayaan sweet seventeen masih berdatangan, pasar, supermarket, dan bank-bank masih memberikan layanan meskipun terbatas.
Semua pasti sudah tahu, sebagian besar dari kami bergantung hidup dari profesi yang modalnya ngak main-main ini. Jika job dalam satu bulan dihapuskan gara-gara tidak berani berjarak dekat dengan orang, maka kerugian juga tidak akan main-main. Mungkin saja sebagian besar dari kami akan jatuh. Persediaan pakaian dan antek-anteknya untuk merias bulan depan sudah dipesan bahkan sudah dibayar separuh harga.
Saya sadar dan sangat peduli dengan diri saya, bahkan seminggu terakhir saya sudah di rumah aja kecuali ada hal mendesak seperti membeli bahan makanan barulah saya keluar. Saya juga sangat mencemaskan keluarga saya, teman-teman saya, Indonesia dan Bumi ini.
Tapi apa boleh buat, selain butuh sehat saya juga butuh hidup. Kalau nanti ada aturan setegas Negara sebelah saya pasti akan menyerah, tak perlu galau untuk pilih job atau tinggal di rumah. Semua menyerah dan kita di rumah apapun resikonya meskipun sekarang mungkin saja ada resiko yang lebih besar menanti kita. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...