Setelah mencuat kabar tentang virus corona, cara
penularan, dan korbannya di Cina, seperti kebanyakan orang Indonesia, saya
awalnya biasa-biasa saja. Awalnya saya merasa Cina berjarak sangat jauh dari
Indonesia terlebih dari Bali, pulau kecil yang kalau di Peta Dunia nyaris tidak
tampak.
Kenyataan berkata lain, virus itu sudah sampai di
pulau kecil ini, entah siapa yang sudah membawanya. Atas keputusan pemerintah,
sekolah-sekolah ditutup, siswa dirumahkan, sistem belajar online diberlakukan. Guru-guru mengeluarkan metodenya masing-masing
dalam menyampaikan materi. Siswa mengeluhkan tugas dari guru tanpa berfikir
cerdas. Beberapa orang tua juga.
Wabah ini semakin mengkawatirkan saat semua media
mengabarkan peningkatan jumlah kasus pada setiap daerah. Larangan-larangan juga
mulai tersiar dimana-mana. Intinya di rumah aja. Mungkin beberapa orang dengan
profesi tertentu bisa di rumah aja, tetapi tidak dengan mereka yang ada di
garda terdepan penanganan kasus ini, mereka yang mengais rupiah di
perusahaan-perusahaan swasta, berwirausaha, dan yang kejar setoran di jalanan.
Mereka yang tidak memungkinkan di rumah aja pasti
punya kegalauan yang luar biasa, tenaga kesehatan misalnya. Sudah pasti
perasaan takut bertemu dengan keluarga tercinta setelah pulang bekerja sangat
membelit, hingga harus menggunakan perlindungan diri secara maksimal.
Salah satu profesi yang juga ngak mungkin di rumah aja
selain tenaga kesehatan adalah MUA (Make-Up Artis). Ini agak horror. Ini
masalah kepercayaan dan uang. Apalagi, banyak caon pengantin sudah menjadwalkan
pernikahan di bulan April. Dewasa ayu
sesuai kalender Bali di bulan itu mungkin memang banyak, apalagi masa uncal balung sudah lewat.
Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada seluruh
calon pengantin yang sudah memilih bulan April sebagai bulan pernikahan dan
saya berterima kasih juga karena sudah memilih MUA-MUA terpercaya untuk menjadi
bagian hari bahagia itu karena hari bahagia kalian merupakan keberlangsungan
hidup mereka yang bergelut di bidang itu.
Saya paham hari
pernikahan bukanlah hal main-main. Biasanaya surat undangan, dekorasi, catering
dan MUA sudah dipesan sebulan sebelum hari bahagia itu datang. Itu artinya di
Bulan April nanti semua sudah harus bekerja. Mungkin pencetak surat undangan
masih bisa menggunakan masker dan sarung tangan dan mencetaknya di rumah atau
di toko aja tanpa harus bersentuhan langsung dengan calon pengantin atau
semuanya dapat dilakukan dengan media online kecuali pengiriman kalau sudah
selesai dicetak. Tukang dekorasi juga masih bisa jaga jarak satu sama lain,
tukang catering juga.
Tentu yang
tidak mungkin di rumah aja, menjaga jarak dengan calon pengantin dan tidak bertemu dengan banyak orang adalah MUA. Terlebih di Bali kita mengenal istilah mepingit. Mepingit di beberapa daerah adalah
tradisi yang mengharuskan calon pengantin untuk tidak keluar rumah dan bertemu calon
pasangannya sebelum hari pernikahan. Jadi menyuruh pengantin datang ke salon
atau studio tempat MUA untuk mengurangi bertemu dengan orang banyak sudah tidak mungkin karena akan ada beberapa
tradisi yang terlewatkan.
MUA harus tetap datang dan menjalankan tugasnya.
Lalu apa yang harus kami lakukan sebagai MUA untuk menyikapi ini. Coba bayangkan jika kita
yang biasanya datang ke rumah pengantin dengan kebaya yang anggun, makeup, dan
tataan rambut yang rapi harus pakai APD (Alat Perlindungan Diri) seperti tenaga
medis secara maksimal pasti pengap dan membuat semua jadi sulit.
Atau semua brush
kita sambung dengan tongkat, pemasangan pensil alis, lipstick dan bikin hair do juga dari jarak jauh, pasti lucu
dan itu tidak mungkin terjadi karena
mata MUA tidak sehebat itu dalam melihat detail makeup dari jauh. Kami harus
bersentuhan, jarak kami harus dekat. Kami tidak pernah tahu siapa yang sudah
terjangkit diantara kami tetapi yang kami tahu hanya cemas, menggunakan
pengamanan seadanya, dan semua tetap harus berjalan.
Saya dan mungkin perias lainnya memiliki pemikiran
sama tentang arahan, aturan hingga larangan-larangan yang ada tetapi bagaimana
nanti orang-orang bisa percaya pada kami jika hari ini harus undur diri dari
job yang sudah kita sepakai dari jauh-jauh hari kecuali mereka batal menikah. Meskipun
kemungkinannya kecil. Peraturan di rumah aja juga belum totalitas, buktinya
undangan pernikahan dan perayaan sweet seventeen masih berdatangan, pasar,
supermarket, dan bank-bank masih memberikan layanan meskipun terbatas.
Semua pasti sudah tahu, sebagian besar dari kami
bergantung hidup dari profesi yang modalnya ngak main-main ini. Jika job
dalam satu bulan dihapuskan gara-gara tidak berani berjarak dekat dengan orang,
maka kerugian juga tidak akan main-main. Mungkin saja sebagian besar dari kami
akan jatuh. Persediaan pakaian dan antek-anteknya untuk merias bulan depan
sudah dipesan bahkan sudah dibayar separuh harga.
Saya sadar dan sangat peduli dengan diri saya, bahkan seminggu terakhir saya sudah di rumah aja kecuali ada hal mendesak seperti membeli bahan makanan barulah saya keluar. Saya juga sangat mencemaskan keluarga saya, teman-teman saya, Indonesia dan Bumi ini.
Tapi apa boleh buat, selain butuh sehat saya juga butuh hidup. Kalau nanti ada aturan setegas Negara sebelah saya pasti akan menyerah, tak perlu galau untuk pilih job atau tinggal di rumah. Semua menyerah dan kita di rumah apapun resikonya meskipun sekarang mungkin saja ada resiko yang lebih besar menanti kita. [T]