Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menyarankan cuci tangan, hindari menyentuh wajah, dan menjaga jarak dengan
orang lain sebagai cara-cara pencegahan penyebaran virus corona.
Presiden Indonesi Jokowi pun menghimbau
agar seluruh rakyatnya belajar di rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di
rumah. Himbauan itu bertujuan untuk mengurangi kontak fisik antar manusia atau
disebut social distancing.
Pembatasan Sosial (bahasa Inggris: social
distancing) adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang
dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular
(Covid-19).
Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk
mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak
terinfeksi.
Pembatasan sosial paling efektif dilakukan
ketika infeksi dapat ditularkan melalui kontak percikan atau droplet (batuk
atau bersin); kontak fisik langsung, kontak fisik tidak langsung (misalnya
dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi seperti fomit).
Indonesia saat ini merupakan negara
terjangkit Covid-19 yang tingkat angka kematian menduduki peringkat kedua di
dunia setelah Negeri Pisa Italia.
Dilansir dari Live Science, Jumat
(20/3/2020); tingkat kematian akibat virus corona di Wuhan, China, tempat
infeksi ini pertama kali ditemukan, ternyata hanya 1,4 persen. Angka ini jauh
lebih rendah dari angka kematian akibat virus corona di seluruh dunia yang
menurut WHO adalah 3,4 persen.
Apalagi bila dibandingkan dengan tingkat
kematian di Indonesia (8 persen per tanggal 19 Maret 2020) dan Italia (8,34
persen per tanggal 19 Maret 2020). Angka 1,4 persen ini dihitung berdasarkan
data yang tersedia hingga 29 Februari 2020.
Berdasarkan data itu, Indonesia merupakan
negara yang memiliki potensi terjangkit dalam jumlah yang masif. Juru bicara
pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan, jumlah
warga Indonesia yang berisiko terjangkit virus corona mencapai 600.000 hingga
700.000 orang. Angka tersebut didasarkan dari simulasi penelusuran siapa saja
yang selama 14 hari terakhir melakukan kontak dekat dengan pasien positif
corona.
Bagimana dengan Bali?
Bali sebagai pulau potensi
pariwisata, potensi penularannya juga
sangat besar. Interaksi antar manusia Bali dengan warga negara asing sangat
intensif. Manusia Bali memiliki potensi karena frekuensi terlibat kontak dengan
orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 sangat besar.
Berdasarkan data per 20 Maret 2020, Pemprov
Bali mengumumkan ada tiga pasien baru positif Covid-19. Gugus Tugas Percepatan
Penanganan COVID-19 telah melacak (contact tracing) terdapat 199 orang yang
pernah kontak dengan ketiga pasien tersebut.
Sebanyak 199 orang pun berpotensi
melakukan kontak dengan rata-rata 4,7 orang setiap hari. Angka ini merupakan
potensi menjadikan Bali sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang jumlah
penderitanya besar.
Nyepi
dan Protokol Covid-19
Sesuai protokol Covid-19, sosial
distancing cara yang efektif untuk mencegah penularan virus korona.
Hari Raya Nyepi merupakan salah praktek
yang selaras dengan social distancing. Saat Nyepi, interaksi satu orang dengan
orang lain di luar rumah menjadi nol. Hampir tidak ada kontak antara orang yang
kemungkinan terinfeksi Covid-19 dengan orang lain yang tidak terinfeksi di
areal publik.
Kenapa bisa tidak ada kontak sama sekali,
karena saat Nyepi, manusia Bali sedang melaksanakan Tapa Brata Penyepian. Sebuah
ritual tahunan yang memiliki spirit kultural, yaitu, Amati Karya (tidak
bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian),
dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Ritual itu dilakukan dalam satu
hari penuh. Di mana, tidak ada aktivitas atau Bali beristrirahat total.
Aktivitas Tapa Brata Penyepian selaras
dengan protokol Covid-19 untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona.
Wuhan, Cina menjadi wilayah yang berhasil menanangani Covid-19 telah menjadi
bukti nyata.
Sejak virus ini merebak awal Januari 2020,
Wuhan diisolasi dari dunia luar. Penduduknya tidak diijinkan beraktivitas di
dan keluar rumah.
Hasilnya, berdasarkan data pada 21 Maret
2020, laju penyebaran Covid-19 mengalami perlambatan. Bahkan, dalam tiga hari
terakhir, otoritas Cina kembali melaporkan tidak ada kasus baru virus Corona di
kota Wuhan yang menjadi lokasi awal terdeteksinya virus ini.
Bali memiliki momentum untuk melakukan
isolasi secara mandiri layaknya Wuhan. Bali memiliki pengalaman bertahun-tahun
mengisolasi dirinya dari dunia luar. Bali memiliki potensi budaya, ritual, dan
spiritual untuk menjalani isolasi.
Momentum dan potensi itu adalah Nyepi.
Hari ini diyakini sebagai cikal bakal bumi Bali kembali suci dari unsur-unsur
negatif. Nyepi juga mengajarkan manusia untuk bertranformasi dari keangkuhan
menuju kedamaian.
Jika selama ini kita hanya me-Nyepi selama
satu hari, pemerintah atau guru wisesa, bisa memanfaatkan momentum ini untuk
mengajak rakyatnya me-Nyepi selama sepekan.
Selamat hari raya Nyepi, semoga alam ini terhidar dari petaka Covid-19. [T]