Mari kita buka naskah lontar-lontar dan
ingatan sejarah Pulau Bali:
1. Dalam berbagai lontar usada (lontar pengobatan) disebutkan kosa kata wabah:
—Mrana. Kata ini berarti wabah, baik wabah yang menyerang tumbuhan, hewan, dan manusia.
—Gering Agung. Kata ini berarti terserang wabah penyakit menular, yang datang bisa sesuai musim. Lontar Usada Manut Sasih mengelompokkan berbagai penyakit menular sebagai sakit musiman yang memiliki siklus, dan sakit yang datang dalam pancaroba yang panjang, cuaca tidak menentu, berlalu lokal serta global (gumi kageringan).
—Gerubug. Artinya wabah yang menelan kematian mendadak dan serempak, tidak ditemukan gejala lama, langsung mewabah dan menewaskan. Kata gerubug bisa dipakai ketika ternak mati mendadak serempak, dan juga kematian manusia yang terjadi serempat dan mewabah.
—Sasab. Artinya wabah demam menular yang mematikan, menular secara cepat.
2. Istilah gerubug disebut dalam lontar-lontar Bali. Dari sekian banyak lontar usada di Bali, seperti: Usada buduh, Usada Rarae, Usada Kacacar, Usada Tuju, Usada Paneseb, Usada Dalem, Usada Ila, Usada Bebai, Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Uda, Usada Indrani, Usada Kalimosada, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada Pamugpugan, dan lain-lain; kita mengenal ratusan penyakit (gering) yang pernah menimpa masyarakat Bali. Lontar ini adalah bukti kalua Bali pernah terpapar berbagai wabah. Salah satunya yang sangat ditakuti adalah gerubug.
3. Lontar Taru Pramana adalah salah satu lontar yang disebutkan sebagai ajaran suci dari Bhatari Ghori (Durga) yang diturunkan ke Mpu Kuturan ketika dunia dilanda gerubug. Dunia dilanda wabah cakbyag (mati di tempat) yang memakan korban sebagian warga. Dalam suasana itu sedih dan tergerak hati Mpu Kuturan. Ia melakukan tapa memuja Bhatara agar diberi kekuatan penyembuhan. Ajaran yang diterima dalam tapa itu dikenal sebagai lontar Taru Pramana. Lontar ini menyebutkan setidaknya 202 tumbuhan di sekitar kita adalah obat yang mujarab yang bisa dipakai ketika masyarakat dilanda wabah.
4. Terekam dalam Geguritan Jayaprana. Geguritan ini bukan salah hanya hayalan penduduk dan bukan cerita sebelum tidur biasa. Ini adalah rekaman peristiwa wabah penyakit menular yang sempat menghancurkan kehidupan di masa lalu yang lokasi kejadiannya di desa Kalianget, kecamatan Seririt, Buleleng. Ingatan komunal ini yang dirangkai dalam kisah yang terus dikenang dalam cerita rakyat, drama gong, seni pertunjukan lainnya, dan diabadikan secara tertulis dalam lontar Geguritan Jayaprana.
5. Tidak jauh dari Desa Kalianget, terdapat kisah cerita rakyat asal usul nama Desa Sidatapa yang juga punya kenangan tentang wabah yang menghancurkan desanya. Mereka menyebutnya sebagai Gering Grubug Bah Bedeg. Menurut cerita orang-orang tua ada wabah besar terjadi di Desa Sidatapa. Secara temurun dikisahkan dahulunya desa Sidatapa bernama desa Gunung Sari. Cikal-bakalnya ada kelompok keluarga yang terpisah-pisah tinggal di kawasan pedusunan Leked, Kunyit, dan Sengkarung. Ketiganya ini bergabung membentuk desa. Dinamakan Desa Gunung Sari. Tidak dikisahkan setelah berapa tahun kemudian, desa yang tenang ini berubah mencekam. Banyak kematian tiba-tiba. Warga ketakutan. Kematian terjadi secara tiba-tiba dan tidak masuk akal. Datang pertapa membantu. Setelah sang pertapa memasuki alam tapa, beliau mendapat petunjuk dan berhasil menyelamatkan sebagian warga yang terkena wabah. Desa ini kemudian namanya diganti menjadi Desa Sidatapa. Dimaksudkan sebagai desa yang selamat karena seorang pertapa ‘siddha’ (berhasil) melakukan ‘tapa’.
6. Disamping
penduduk Sidatapa, desa Pedawa juga mengenal kisah gerubug. Di barat Kalianget,
di desa Banjarasem dan Kalisada juga mengenal kisah yang sama. Juga dikenal
wabah itu sebagai Gering Bah Bedeg. Kesemuanya ada di Bali Utara.
7. Masyarakat
desa Julah (dan juga Sembiran), kecamatan Tejakula, punya kisah mendalam
tanaman gerubug, sakit gede, bah bedeg dan gering agung. Mereka sampai, kalau
penduduknya keluar desa membawa daun intaran atau mimba (Azadirachta indica).
Menurut sejarahnya daun ini menyelamatkan masyarakat Julah dari gerubug.
Intaran (Mimba) menjadi tanaman yang wajib ada di setiap rumah masyarakat.
Tanaman ini di Julah sangat disakralkan, karena jasa menyelamatkan leluhurnya,
dan khasiatnya sampai sekarang terbukti menyembuhkan berbagai penyakit. Intaran
terus dipakai sampai saat ini sebagi sarana upacara seperti tepung tawar. Bisa
juga daunnya diusapkan di tangan untuk mematikan bakteri.
8. Bendesa Desa Dukuh Penaban, Karangasem, menjelaskan kalau desanya punya punya tari Canglongleng. Tari ini mengisahkan ketika Dukuh Penaban mengalami grubug. Lalu ada orang pintar di desa mendapat pawisik untuk mengusir grubug itu. Dilakukan upacara mecaru /suguhan dengan mengogong Ida Bhatara dengan busana poleng /hitam putih. Sambil bersorak sorak "aahh iiihhh uuuhhh..". Setelah itu dilakukan grubug pun hilang. Bendesa Dukuh Penaban menyebutkan tarian itu sampai saat ini selalu ditarikan setiap ada upacara /aci di Pura Puseh Desa Dukuh Penaban.
____
Tari Canglongleng mengisahkan ketika Desa Dukuh Penaban, Karangasem, mengalami grubug. Lalu ada orang pintar di desa mendapat pawisik untuk mengusir grubug itu. Dilakukan upacara mecaru /suguhan dengan mengogong Ida Bhatara dengan busana poleng /hitam putih. Sambil bersorak sorak "aahh iiihhh uuuhhh..". Setelah itu dilakukan grubug pun hilang. Bendesa Dukuh Penaban menyebutkan tarian itu sampai saat ini selalu ditarikan setiap ada upacara /aci di Pura Puseh Desa Dukuh Penaban. [Foto: oleh Bendesa Desa Pakraman Dukuh Penaban, Karangasem]
____
Dari lontar-lontar, kisah rakyat, ingatan turun-temurun, kita diajak siap melihat masa lalu: Gerubug pernah menyerang Bali. Gerubug pernah memporak-porandakan Bali, tidak dilupakan demikian saja, masih diingat sebagai cerita, sebagai mitos, bahkan masuk menjadi bagian pementasan kesenian tradisional.
Artinya: Bali tidak kebal dari wabah. [T]
+++ Tulisan ini disarikan dan diringkas dari tulisan berjudul: “Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu” oleh Sugi Lanus, dimuat di terbitkan online Tatkala.Co, 16 Maret 2020
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...