Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Buku kumpulan puisi penyair GM Sukawidana, “Upacara Terakhir” (Pustaka Ekspresi, Desember 2019) diluncurkan di Jatijagat Kampung Puisi (JKP) pada hari Sabtu, 14 Maret 2020, pukul 19.00 Wita. “Upacara Terakhir” akan dikupas oleh penyair Tan Lioe Ie dan budayawan Gde Hariwangsa alias Hartanto dipandu Wayan Jengki Sunarta. Selain itu, acara dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Mira MM Astra, Imam Barker, Kardanis Mudawi Jaya, dan Laksmi Padma Kamala, serta musikalisasi puisi oleh Sanggar Cipta Budaya SMPN 1 Denpasar.
GM Sukawidana juga memaparkan proses kreatifnya ketika menulis dan menyiapkan “Upacara Terakhir” dan akan membacakan tiga puisi berjudul “Aku Menulis Puisi”, “Meme Janger”, dan “Upacara Terakhir” (duet bersama Elsye Suryawan).
Gusti Made (GM) Sukawidana adalah seorang penyair yang merasa bangga disebut sebagai gelandangan. Penyair yang suka mengangkat lokalitas dan menggunakan diksi-diksi arkaik dalam puisi-puisinya ini lahir di Bali, 16 Juli. Selain penyair dia juga adalah guru senior di SMPN 1 Denpasar, pernah pula menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah.
Salah satu cucu maestro perupa I Gusti Nyoman Lempad ini mulai menekuni puisi tahun 1979. Bersama penyair seangkatannya, dia digembleng di Pos Remaja Bali Post oleh Umbu Landu Paranggi hingga berhasil menjajal arena Pos Budaya yang sangat bergengsi saat itu. Gm, Sukawidana adalah salah seorang pendiri Sanggar Minum Kopi (1985 – 1995) dan Sanggar Cipta Budaya (SMPN 1 Denpasar).
Ketika mengasuh Sanggar Cipta Budaya, Gm. Sukawidana banyak melahirkan sastrawan dan penulis mumpuni, seperti Oka Rusmini, Sri Jayantini, Ika Permata Hati, Aan Almaidah, Candra Yowani, Dewa Putu Sahadewa.
Puisi-puisi Gm. Sukawidana dimuat di Bali Post, Nafiri, Swadesi, Simphoni, Berita Buana, Republika, juga terangkum dalam banyak antologi bersama. Buku puisi tunggalnya yang telah terbit adalah “Upacara Tengah Hari” (1993), “Upacara Senja Upacara Tanah Moyang” (2000), “Upacara-upacara” (2015).
Buku “Upacara Terakhir” adalah kelanjutan dari serial buku upacara sebelumnya. Dalam “Upacara Terakhir” semakin tampak kegelisahan dan keprihatinan Gm. Sukawidana terhadap tanah kelahirannya. Dia adalah penyair yang sangat peduli pada perubahan yang terjadi di tanah kelahirannya.
Puisi-puisinya banyak melontarkan protes dan kritik terhadap persoalan-persoalan sosial, budaya, ekologi yang terjadi di Bali. Hal itu, misalnya, tampak dalam serial puisi tentang Teluk Benoa, seperti puisi “Upacara Muara Teluk Benoa”, “Upacara Pesisir Teluk Benoa”, Di Atas Jalan Layang Teluk Benoa”, dan tampak pada puisi-puisi lainnya.
“Seperti buku-buku sebelumnya, buku Upacara Terakhir ini adalah bentuk keprihatinan saya pada tanah Bali. Setelah buku ini, mungkin saya akan menggarap tema-tema yang agak berbeda sebagai representasi kegelisahan saya sebagai penyair,” ujar Gm. Sukawidana. [T][*]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...