Kunikmati
ruang kosong, tak terasa anganku melayang. Lalu mata mulai enggan menatap. Yang
terlihat hanyalah bayang semu. Tak ada gelap yang berlebih, hanya ada remang
malam. Bahkan sinar sang rembulan nampak bersembunyi.
Sudah tiga tahun aku
tinggal di kamar 213, nomor yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku memang tak
pernah merasakan,mendengar bahkan melihat kehadirannya. Ia adalah seorang
wanita yang merasakan kesepian karena ditinggalkan oleh sanak saudaranya.
Ia merasa putus asa,
kecewa dan marah. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan
cara gantung diri.
Aku tak pernah menyadari
keberadaannya selama ini. Meskipun beberapa teman yang sedang meneleponku mendengar suara
aneh, saat aku hanya sendiri. Ada juga yang merasa bahwa di sudut kamarku
seperti ada seorang wanita yang duduk menyendiri dan sangat kesepian. Namun,
aku hanya menganggap hal itu sebagai angin lalu.
Sampai suatu ketika,
sepulang kerja saat hari sudah gelap, tetangga sebelah kamarku tiba-tiba datang
menghapiriku. Ia mengira aku sedang berada di dalam kamar. Karena ia mendengar
ada suara ketok-ketok dari dalam kamarku. Sontak saja, aku merasa merinding dan
ketakutan.
Aku mencoba menenangkan
diriku dan mulai membuka pintu kamarku. Tak lupa aku memeriksa keadaan sekeliling,
yang aku pikirkan adalah bisa saja ada orang lain di dalam. Namun itu semua
nihil, tak ada seorangpun di dalam sana, kecuali aku. Beberapa hari kemudian
aku menceritakan pengalaman di malam itu kepada seorang sahabatku, yang
merupakan anak indigo.
Anak indigo adalah
istilah yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan seorang anak yang diyakini
memiliki kemampuan yang luar biasa, tidak biasa bahkan supranatural. Dari
ceritaku itu, ia menyarankan agar aku segera pindah dari tempat itu. Karena ada
energi buruk yang mungkin saja dapat berpengaruh pada diriku.
Meskipun hal ini sangat
sulit untuk dipercaya, hanya dengan memikirkan perkataan dari sahabatku dan apa
yang dialami oleh teman-temanku. Namun tak dapat aku pungkiri bahwa aku juga
merasakan ada sesutu yang mengganjal. Aku pernah melihat barang-barang yang ada
di kamarku berpindah posisi, padahal aku ingat betul bahwa barang tersebut
tidak aku letakan disana.
Apalagi saat aku mulai
tahu kamar itu adalah kamar 213. Pikiranku mulai kacau, aku mulai berpikir angka
tiga belas yang tertulis dibalik angka dua. Seperti menyiratkan sebuah rahasia.
Padahal kebanyakan orang menghindari pemakaian angka tiga belas.
Banyak mitos di dunia ini
yang menganggap angka tiga belas sebagai angka kesialan. Meskipun zaman telah
modern, namun kepercayaan semacam ini belum ditinggalkan. Ada banyak insiden
dan tragedi di dunia ini yang berkaitan dengan angka tiga belas. Bahkan ada
sebuah phobia yang membuat
penderitanya takut akan angka tiga belas yang disebut dengan triskaidekaphobia.
Apa kalian percaya angka
tiga belas sebagai angka mistis yang membawa kesialan?
Hal-hal yang berhubungan
dengan mistik menjadi sesuatu yang
lazim di kalangan masyarakat pada umumnya bahkan di era digital ini. Masih
banyak yang mempercayai hal gaib yang sulit diterjemahkan pada pikiran manusia,
hingga menjadi sesuatu yang logis dan dapat diterima oleh akal sehat.
Kata mistik berarti rahasia, dimana hubungan sebab akibat tidak dapat
dipahami oleh rasio, bersifat supra rasional tetapi kadang memiliki bukti
empiris. Biasanya digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan cara
memanfaatkan indra, intuisi juga dengan tindakan yang bersifat rasional.
Tahun demi tahun telah kulewati
di kamar ini. Setumpuk kenangan yang telah kutabung bersama dengan berlalunya
sang waktu. Kini harus aku sudahi. Aku harus mencari tempat yang baru. Tempat
yang lebih nyaman dan jauh dari kata mistis.
Meski sangat berat rasanya untuk mengangkat kaki dan pergi dari tempat yang
telah membuatmu nyaman.
Namun sepertinya aku
harus keluar dari zona nyaman itu dan belajar menyesuaikan diri lagi dengan
lingkungan yang baru. Padahal, bukan karena alasan ini saja yang mengharuskan
untuk pergi. Ada beberapa alasan yang lebih logis, tetapi takkan aku tulis di sini.
Aku hanya ingin
menyampaikan rasa terimakasihku untuk tahun yang telah berlalu dan menjadi masa
lalu. Tempat yang tidak akan pernah ku lupakan. Dan menjadi bagian termanis
yang dihadiahkan oleh waktu. Aku pergi meski menunda berkali-kali. [T]