Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Dulu, ketika wayang berjaya, semua lapisan masyarakat sangat menyukai menonton. Termasuk anak-anak. Walaupun yang diceriterakan dalam pertunjukan wayang itu dunia orang dewasa. Meskipun, pertunjukan wayang itu tidak pernah mempertontonkan dunia mereka. Seperti, bermain bersama, berpetualang bersama, belajar bersama, menyanyi bersama. Meskipun tidak pernah mempertontonkan ceritera yang bernuansa dunia anak. Meskipun juga, tidak pernah menceriterakan kehidupan masa kecil Pandawa dan Kurawa bila mementaskan ceritera Mahabharata. Atau mementaskan ceritera masa kanak-kanak Sang Rama dan Rahwana bila menggelar Ramayana dalam pertunjukan wayang.
Anak-anak dulu suka, bisa jadi, disebabkan ingin menghadirkan diri dalam keramaian yang memberi hiburan. Bisa jadi juga, disebabkan wayang mempunyai daya pikat tersendiri bagi anak-anak. Sebab, wayang sebagai tontonan, tampil beda dengan pentas lain seperti Arja, Topeng, Prembon, Gambuh atau Janger maupun Cak.
Anak-anak dulu, sebagai penonton jelas berbeda arti kehadirannya dalam menonton wayang dibandingkan penonton dewasa. Anak-anak menonton apa adanya. Tanpa berusaha mengapresiasi lebih jauh. Tidak bermaksud, hadir, menonton, menyimak lebih jauh. Mengkaji lebih detail atau mencari makna filosofis yang tersirat di dalamnya. Tidak juga bertujuan mencari panutan atau teladan dari tokoh yang dikisahkan dalam tontonan wayang. Pun, hadir menonton tidak untuk mencermati alur cerita, mencermati untuk mencari kesalahan modulasi vokal dalang ketika tokoh-tokoh wayang mengadakan dialog di balai rung atau di…….
Bila dicermati lebih jauh, ada hal-hal yang menyebabkan anak-anak dulu suka menonton wayang. Ceritera yang dipertunjukkan sebagai lakon wayang, di luar pentas, diceriterakan oleh orang tua saat menjelang tidur. Diceriterakan cara bertutur yang menarik dengan pemaparan alur ceritera yang linier. Dan, dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami anak-anak. Diceriterakan juga, dengan ekspresi sederhana tetapi memikat.
Terkadang, pada bagian yang menarik, mendadak ceritera dihentikan. Tujuannya agar anak yang mendengar penasaran. Karena penasaran, meminta ceritera wayang yang dihentikan dilanjutkan malam berikutnya.
Lain dari yang disebut di atas, ceritera wayang juga diceriterakan oleh orang dewasa atau orangtua. Diceriterakan di depan anak-anak yang duduk mendengarkan dengan khidmat. Yang bercerita menyajikan ceritera yang runut. Bahasa yang digunakan cepat dicerna anak-anak. Dibumbui humor segar yang mengundang tawa. Ekspresi saat berceritera disesuaikan dengan suasana ceritera. Juga disesuaikan dengan jiwa tokoh yang diceriterakan. Volume suara, diselaraskan dengan situasi ceritera.
Anak-anak yang diberi sajian ceritera wayang tidak sadar, sang penceritera menanamkan rasa cinta ke dalam hatinya. Sudah jelas rasa cinta kepada wayang yang dimaksud di sini. Rasa cinta yang ditanamkan ini, tanpa disadar, membangun kerinduan anak-anak pada pertunjukan wayang. Kerinduan ini menjadi pemicu untuk menonton bila mendengar aka ada pertunjukan wayang.
Anak-anak yang mendengar ceritera wayang ketika itu, tidak sadar, dunia dongeng membentangkan jembatan di dalam dirinya. Jembatan menuju dunia pentas: pertunjukan wayang. Tidak menyadari pula dunia dongeng yang disampaikan secara lisan menggiring dirinya agar mewujudkan keinginan untuk dapat menonton pertunjukan wayang. Pertunjukan yang ditampilkan oleh seseorang yang perannya sebagai penceritera sama dengan pendongeng yang membedakan: properti, ilustrasi gender yang mengiringi. Ada satu lagi yang membedakan, dalam pertunjukan wayang, penceritera tidak terlihat dari depan. Sebab, ditutupi kelir.
Sekarang, mendongeng wayang sebelum tidur merupakan peristiwa langka. Penyebabnya, kesibukan orang tua yang kian suntuk untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Penyebab lain tidak setiap orang tua mengetahui dengan detail ceritera wayang. Bahkan ada sama sekali tidak tahu. Ada satu penyebab lagi, tayangan untuk anak-anak ditelevisi makin marak dan makin menarik hati mereka. Yang ditayangkan dunia mereka sendiri. Bermain bersama, belajar bersama, adu ketangkasan, adu kecerdasan. Dan penayangannya, disertai latar sesuai dunia anak-anak. Ceritera yang disajikan tidak jauh dari dunia anak-anak.
Sangat ekstrim, bila dikatakan, wayang sebagai tontonan dijauhi oleh anak-anak. Sangat ekstrim juga, bila dikatakan, lambat laun, wayang sebagai dunia pertunjukan akan ditinggal anak-anak. Siapa tahu, ada pihak yang masih mencintai wayang membuat tokoh wayang anak-anak dan mempertontonkan sebagai pertunjukan. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...