“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Dulu, ketika wayang berjaya, semua lapisan masyarakat sangat menyukai menonton. Termasuk anak-anak. Walaupun yang diceriterakan dalam pertunjukan wayang itu dunia orang dewasa. Meskipun, pertunjukan wayang itu tidak pernah mempertontonkan dunia mereka. Seperti, bermain bersama, berpetualang bersama, belajar bersama, menyanyi bersama. Meskipun tidak pernah mempertontonkan ceritera yang bernuansa dunia anak. Meskipun juga, tidak pernah menceriterakan kehidupan masa kecil Pandawa dan Kurawa bila mementaskan ceritera Mahabharata. Atau mementaskan ceritera masa kanak-kanak Sang Rama dan Rahwana bila menggelar Ramayana dalam pertunjukan wayang.
Anak-anak dulu suka, bisa jadi, disebabkan ingin menghadirkan diri dalam keramaian yang memberi hiburan. Bisa jadi juga, disebabkan wayang mempunyai daya pikat tersendiri bagi anak-anak. Sebab, wayang sebagai tontonan, tampil beda dengan pentas lain seperti Arja, Topeng, Prembon, Gambuh atau Janger maupun Cak.
Anak-anak dulu, sebagai penonton jelas berbeda arti kehadirannya dalam menonton wayang dibandingkan penonton dewasa. Anak-anak menonton apa adanya. Tanpa berusaha mengapresiasi lebih jauh. Tidak bermaksud, hadir, menonton, menyimak lebih jauh. Mengkaji lebih detail atau mencari makna filosofis yang tersirat di dalamnya. Tidak juga bertujuan mencari panutan atau teladan dari tokoh yang dikisahkan dalam tontonan wayang. Pun, hadir menonton tidak untuk mencermati alur cerita, mencermati untuk mencari kesalahan modulasi vokal dalang ketika tokoh-tokoh wayang mengadakan dialog di balai rung atau di…….
Bila dicermati lebih jauh, ada hal-hal yang menyebabkan anak-anak dulu suka menonton wayang. Ceritera yang dipertunjukkan sebagai lakon wayang, di luar pentas, diceriterakan oleh orang tua saat menjelang tidur. Diceriterakan cara bertutur yang menarik dengan pemaparan alur ceritera yang linier. Dan, dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami anak-anak. Diceriterakan juga, dengan ekspresi sederhana tetapi memikat.
Terkadang, pada bagian yang menarik, mendadak ceritera dihentikan. Tujuannya agar anak yang mendengar penasaran. Karena penasaran, meminta ceritera wayang yang dihentikan dilanjutkan malam berikutnya.
Lain dari yang disebut di atas, ceritera wayang juga diceriterakan oleh orang dewasa atau orangtua. Diceriterakan di depan anak-anak yang duduk mendengarkan dengan khidmat. Yang bercerita menyajikan ceritera yang runut. Bahasa yang digunakan cepat dicerna anak-anak. Dibumbui humor segar yang mengundang tawa. Ekspresi saat berceritera disesuaikan dengan suasana ceritera. Juga disesuaikan dengan jiwa tokoh yang diceriterakan. Volume suara, diselaraskan dengan situasi ceritera.
Anak-anak yang diberi sajian ceritera wayang tidak sadar, sang penceritera menanamkan rasa cinta ke dalam hatinya. Sudah jelas rasa cinta kepada wayang yang dimaksud di sini. Rasa cinta yang ditanamkan ini, tanpa disadar, membangun kerinduan anak-anak pada pertunjukan wayang. Kerinduan ini menjadi pemicu untuk menonton bila mendengar aka ada pertunjukan wayang.
Anak-anak yang mendengar ceritera wayang ketika itu, tidak sadar, dunia dongeng membentangkan jembatan di dalam dirinya. Jembatan menuju dunia pentas: pertunjukan wayang. Tidak menyadari pula dunia dongeng yang disampaikan secara lisan menggiring dirinya agar mewujudkan keinginan untuk dapat menonton pertunjukan wayang. Pertunjukan yang ditampilkan oleh seseorang yang perannya sebagai penceritera sama dengan pendongeng yang membedakan: properti, ilustrasi gender yang mengiringi. Ada satu lagi yang membedakan, dalam pertunjukan wayang, penceritera tidak terlihat dari depan. Sebab, ditutupi kelir.
Sekarang, mendongeng wayang sebelum tidur merupakan peristiwa langka. Penyebabnya, kesibukan orang tua yang kian suntuk untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Penyebab lain tidak setiap orang tua mengetahui dengan detail ceritera wayang. Bahkan ada sama sekali tidak tahu. Ada satu penyebab lagi, tayangan untuk anak-anak ditelevisi makin marak dan makin menarik hati mereka. Yang ditayangkan dunia mereka sendiri. Bermain bersama, belajar bersama, adu ketangkasan, adu kecerdasan. Dan penayangannya, disertai latar sesuai dunia anak-anak. Ceritera yang disajikan tidak jauh dari dunia anak-anak.
Sangat ekstrim, bila dikatakan, wayang sebagai tontonan dijauhi oleh anak-anak. Sangat ekstrim juga, bila dikatakan, lambat laun, wayang sebagai dunia pertunjukan akan ditinggal anak-anak. Siapa tahu, ada pihak yang masih mencintai wayang membuat tokoh wayang anak-anak dan mempertontonkan sebagai pertunjukan. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...